Gelombang 5 (The 5th Wave)


The 5th Wave

Jika alien sampai mengunjungi kita, menurutku konsekuensinya akan hampir serupa dengan ketika Christopher Columbus pertama kali mendarat di Amerika, yang ternyata dampaknya tak terlalu bagus bagi penduduk asli Amerika.

-Stephen Hawking

Setelah dekade demi dekade perdebatan mengenai “apakah kita sendirian di alam semesta”, akhirnya para Alien tiba. Mereka ‘memarkir’ kendaraan mereka di luar angkasa, dan setelah kepanikan yang mengiringi kemunculan mereka, seluruh dunia mencoba move on. Melanjutkan hidup. Mereka tak menunjukkan tanda-tanda ingin berkontak, jadi untuk apa peduli? Hanya para ilmuwan dan politikus dan orang-orang atas yang masih berdebat habis-habisan.

Protagonis kita pun salah satu dari yang mencoba tetap hidup seperti biasa, pergi ke sekolah, bertemu teman-temannya, pulang ke rumah, ngobrol dengan sahabatnya, naksir cowok, dan seterusnya. Normal.

Kemudian, serangan demi serangan datang. Gelombang demi gelombang, tanpa para Alien turun ke bumi. Pada gelombang serangan yang pertama, mereka mematikan seluruh listrik di bumi. Kedua, mereka menjatuhkan tonggak besi yang menusuk patahan benua, menimbulkan gempa dan tsunami dalam skala raksasa. Ketiga, mereka menyebarkan penyakit menggunakan burung-burung di bumi. Keempat, mereka merasuki tubuh manusia dan memburu orang-orang yang tersisa satu per satu.

Tanpa ada yang bisa dipercaya, protagonis kita, seorang gadis remaja bernama Cassie, mencoba bertahan hidup seorang diri. Tapi, ia memiliki tujuan: menyelamatkan adiknya dari cengkeraman para Alien. Di saat yang sama, seorang remaja laki-laki mendapati dirinya diselamatkan oleh militer, yang melatih dirinya – dan ratusan anak muda lainnya yang selamat – untuk bersiap bertempur melawan Alien.

Namun, kapan para Alien akan benar-benar turun ke bumi untuk menghadapi kita? Kapan gelombang serangan kelima akan tiba? Apakah akan ada gelombang kelima? Kalau ada, seperti apa serangan tersebut nantinya?

-a-

Sudah lama berselang sejak manusia menjadi mangsa binatang… Namun dalam gen kita, ingatan tersebut terkubur dalam-dalam: kewaspadaan kijang, naluri antelop. Angin yang berbisik menembus rerumputan. Bayangan yang berkelebat di sela-sela pepohonan. Dan ada suara lirih yang berbisik, Sst, dia sudah dekat. Dekat.

Belakangan ini, ada semacam trend untuk membuat novel-novel young adult menjadi lebih realistis, mengena, dan akurat (cek: Divergent, Starter, More Than This). Lebih jauh lagi, ada dorongan untuk memberikan karya-karya fiksi ilmiah/sci-fi yang menampilkan ‘serbuan’ Alien yang lebih seru (cek: Dark Skies). ‘Seru’ di sini bukan berarti ledakan-ledakan, aksi non-stop, tapinya: ‘seru’ di sini berarti Alien digambarkan sebagaimana apa yang diimplikasikan oleh Prof. Stephen Hawking sebagaimana terkutip di atas – kata-kata yang juga dikutip di bagian paling awal novel ini: Alien itu cerdas.

Sebuah klise/trope yang sejauh ini sering digunakan dalam kisah penyerbuan Alien ke bumi adalah, pada akhirnya, manusia dapat mengesampingkan berbagai perbedaan mereka dan mengalahkan Alien dengan power of friendship atau, lebih ‘mantap’ lagi, pure unused potential. Klasik, dan meski memang terasa seru, tampilan ini – menurut saya sendiri – tak realistis. Karena, mari renungkan: sebuah ras yang mampu mengatasi masalah jarak, waktu, menempuh perjalanan bertahun-tahun cahaya dari dunia mereka untuk datang ke bumi, bisa dihentikan dengan teknologi kita saat ini?

Oleh karena itu, saat saya mendapati Rick Yancey menggambarkan Alien sebagaimana mestinya – kuat, pintar, tanpa ampun, namun juga memiliki kemiripan dengan kita – saya acung jempol. Di sisi lain, keberadaan villain seperti itu membuat para protagonis kita terjerumus dalam situasi penuh keputusasaan, kesulitan, konflik fisik dan batin non-stop. Helplessness menjadi faktor utama yang menjadi api bagi novel ini.

Sehingga, dalam beberapa bagian, saya bisa mengkategorikan novel ini ke dalam genre horror tanpa ragu.

-a-

Sayangnya, sama seperti banyak novel YA lainnya, karakterisasi di novel ini masih terasa lemah. Penokohan terkuat justru ada di pihak para penjahat: dua jenis Alien, yang satu penuh rasa ingin tahu dan satu lagi tanpa ampun. Di luar itu, sulit menemukan tokoh dengan pondasi yang kuat. Bahkan Cassie, sang protagonis, terasa labil dan berubah-ubah tak menentu.

Meski demikian, dari segi plot, novel ini bisa dibilang adalah jawara. Dengan sukses, Rick Yancey membuat cerita dengan menghindari trope-trope yang klise tanpa mengorbankan alur kisahnya. Banyak kejutan di sana-sini, twist yang membuat mual karena sulit untuk ditebak, dan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pembaca menebak-nebak hingga halaman terakhir. Penceritaan dilakukan dengan sudut pandang orang pertama, dan narasinya – meski tak begitu kuat – cukup bagus dan terasa mengalir.

Bukankah mereka cerdik?” gumam Ringer, seolah membaca pikiranku. “Pakai wajah manusia supaya tidak ada manusia yang bisa dipercaya. Satu-satunya solusi: Bunuh semua orang atau mengambil risiko terbunuh oleh siapa saja.”

Kalau boleh disama-samakan, novel ini terasa seperti The Host karya Stephenie Meyer (yang sudah dibuat jadi film layar lebar) dengan tingkat pendalaman yang lebih baik. Romansanya mungkin tidak sama dengan yang di The Host, tapi dari segi plot, banyak lubang yang sudah ditutup di The 5th Wave. Dari banyak segi, The 5th Wave juga menyerupai The Hunger Games (sebagaimana ditulis di tagline): kedua-duanya berkisah mengenai seorang remaja perempuan. Kedua-duanya berkisah mengenai upaya remaja tersebut bertahan hidup menghadapi bahaya yang tak bisa ia hadapi. Helplessness, tentu saja. Dan romansanya juga ada.

Plus, kedua-duanya menampilkan tokoh perempuan, remaja, yang kuat, mandiri, nan tangguh.

-a-

Akhirnya adalah, kami saling membunuh di balik deretan lemari pendingin bir kosong dalam cahaya matahari yang hampir lenyap pada suatu hari di pengujung musim panas.

Untuk penggemar novel YA, remaja, atau sci-fi, novel ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Bagus, seru, mengalir, dan memiliki plot yang kuat. (Spoiler: sekuelnya juga sedang dikerjakan).

Tapi, ada sedikit dilema: Aku kurang yakin mau mengkategorikan ini ke novel remaja. Tidak saat ada adegan-adegan kekerasan eksplisit dan seks (meski implisit). Tapi, sepertinya masih dalam kategori YA – karena, bagaimanapun juga, YA, berarti young adult (dewasa muda), ‘kan?

Bagaimanapun, novel ini totally worth reading. Persiapkan dirimu untuk terkejut.

Iklan

Penpal


PenpalCerita ini dimulai dengan protagonis kita membuka kembali peninggalan-peninggalan masa kecilnya. Sedikit demi sedikit, apa yang ia mulai sebagai nostalgia berujung pada suatu kenyataan: bahwa masa lalunya sangat ganjil. Bahwa ada sesuatu, jauh di masa lalunya, yang telah mengikuti dan menghantui masa kecilnya. Sesuatu yang mengerikan, berbahaya, dan mematikan.

Dimulai dari masa kecil protagonis, kita diperkenalkan pada sebuah kota kecil di daerah rural Amerika. Dekat dengan hutan, alam, dan nuansa yang kelabu a la Stephen King, kita menyaksikan bagaimana sang protagonis – seorang anak kecil, polos, penurut meski kadang juga nakal, pintar namun tak mencolok – tumbuh besar dan bertransisi dari masa kanak-kanak, remaja, cinta, hingga dewasa.

Dan di belakangnya tentu saja, sesuai judul buku ini, adalah seorang penpal – sahabat pena – yang, sudah bisa ditebak, tidak begitu bersahabat. Setidaknya, menurut protagonis kita dan kita yang membacanya.

-a-

Sedari awal membacanya, saya mengkategorikan novel ini sebagai classic: gaya penulisannya, penceritaannya, mengingatkan saya akan Stephen King, Dickens, dan bahkan Lovecraft serta Gaiman. Horornya terasa sejak bab pertama – dimana protagonis kita nyaris saja tewas dan mengakhiri kisah ini di selusin halaman pertama – dan makin bertambah, bereskalasi, setiap babnya.

Dari segi karakterisasi, Mr. Auerbach berhasil melakukannya dengan sangat baik – menurut saya. Protagonis kita langsung memberikan hook dari awal halaman: seorang anak, masih polos, masih lugu, masih percaya pada imajinasinya. Ia juga tak terasa asing: punya sahabat di sekolah, punya cewek yang ditaksir, dan punya orangtua yang sangat disayanginya.

Sumber: 1000Vultures

Sumber: 1000Vultures

Antagonis kita, di sisi lain, sangat menarik: kesan stalker-y yang ada pada dirinya digambarkan dengan jelas, namun di saat bersamaan Mr. Auerbach menggambarkannya sebagai sosok ethereal: gaib, berkuasa, membayang-bayang di setiap sudut. Ada aroma Lovecraftian yang kental di sini – menjelang akhir novel, saya setengah menduga bahwa ia sesungguhnya sesuatu yang jauh lebih berbahaya dibandingkan manusia biasa.

Dan mengenai ceritanya sendiri, bisa dibilang plotnya sangat mengalir. Lurus. Meski timeline – latar waktu – dalam novel ini melompat-lompat maju-mundur (sangat klasik, a la orang yang sedang menuturkan kisah masa lalunya, dengan gaya seperti yang digunakan Mr. Gaiman dalam Samudra di Ujung Jalan Setapak), ceritanya sendiri dapat diikuti dengan mudah.

Meski demikian, dalam beberapa bagian terdapat poin-poin yang agak sulit dimengerti, ilustrasi lokasi dan suasana yang kurang memadai, serta ending yang – sangat disayangkan – agak kurang menusuk. Kuat, ya, tapi terasa kurang untuk sebuah novel horor dengan hook yang sangat kuat dari halaman pertamanya seperti ini.

Sumber: 1000Vultures

Sumber: 1000Vultures

Di atas semua itu, sebagai debut perdana, novel ini jelas sangat mantap. Salut untuk Mr. Auerbach, sangat dinanti karya-karyanya yang berikutnya.


Info tambahan, novel ini merupakan adaptasi dari serial cerita horor yang beredar di internet sejak lama. Mendapatkan respon yang sangat positif dari para penggemar cerita seram, penulisnya memutuskan untuk membukukan cerita-cerita tersebut dan menerbitkannya. Serial tersebut bisa dibaca di sini.

Selamat menikmati!

Dewa-Dewa Amerika (American Gods)


Dewa-Dewa Amerika (American Gods)Setelah menjalani masa hukuman selama bertahun-tahun, seorang pria bernama Shadow akhirnya dibebaskan dari penjara. Namun, tak ada penyambutan untuknya. Istri dan sahabatnya baru saja meninggal, rumah lamanya tak lagi bisa ia datangi, dan tak ada sanak atau kerabat yang mau menampungnya.

Dihadapkan dengan kondisi tersebut, Shadow bertemu dengan Mr. Wednesday. Seorang pria misterius, Wednesday meminta Shadow untuk bekerja untuk sebagai bodyguard. Tak memiliki pilihan lain yang lebih baik, Shadow pun menerima.

Yang terjadi setelahnya adalah rangkaian kejadian paling ganjil dalam hidup Shadow: ia dan Wednesday bepergian ke berbagai tempat di Amerika, dari pesisir Barat hingga Timur, dari bagian tengah yang kosong hingga kota-kota paling besar. Bersamanya, Shadow bertemu dengan pria dan wanita, kenalan Mr. Wednesday, masing-masing lebih tua dibandingkan dunia, dan sangat, amat, sakti. Bersamanya, Shadow akan mencaritahu jati dirinya, siapa ia sebenarnya, dan takdir yang akan ia penuhi.

Namun, entitas-entitas baru telah bangkit di Amerika. Pertempuran dahsyat antara dua kubu akan segera berlangsung, untuk menentukan nasib seluruh manusia di Amerika. Shadow harus menentukan tindakannya setelahnya, karena nasib jutaan manusia – bahkan Dewa-Dewa kini berada di bahunya.

-a-

Negeri ini luas. Sebentar saja, orang-orang kita mencampakkan kita, mengingat kita hanya sebagai makhluk-makhluk dari negeri mereka dahulu, sebagai benda-benda yang tidak ikut dengan mereka ke negeri yang baru.

Hal pertama yang perlu diingat sebelum membaca Dewa-Dewa Amerika adalah: ini adalah novel fantasy. Kedua, ini adalah novel urban fantasy, yang berarti genre fantasy di dalamnya dibawakan dengan latar kehidupan urban – atau, lebih tepatnya, kehidupan sehari-hari. Dan dengan genre tersebut, dunia yang digambarkan di novel ini cukup realistis, dengan ilustrasi yang memikat mengenai Amerika, sehingga – saat pertama kali saya membaca novel ini, dan tidak mengetahui genrenya – saya mengira ini adalah novel thriller/mystery.

Gaya penceritaan di novel ini sangat unik, a la Neil Gaiman. Saya menyebutnya sebagai dreamlike, penuh metafor dan bahasa yang kadang susah dimengerti. Hal ini cukup mengganggu saya di paruh-paruh awal novel, karena bahasanya terasa panjang dan kalimat-kalimatnya seperti direntangkan. Paragraf-paragraf pun tampak padat dan tebal. Tapi, untungnya penceritaannya sendiri sangat mengalir, sehingga mudah untuk diikuti.

Plus, mungkin gaya bahasa seperti itu memang cocok untuk sebuah novel yang menceritakan Dewa-Dewi, mitologi, legenda kuno, dan kemanusiaan sekaligus.

-a-

1 - by luilouie

sumber gambar: luilouie (deviantart)

Satu hal brilian, salah satu yang paling menarik, dari American Gods adalah Neil Gaiman memasukkan unsur traveling di dalamnya. Sepanjang cerita, kita diajak mengelilingi Amerika – dari kota-kota pencakar langit dengan lalu lintas yang padat hingga apartemen kumuh di wilayah pinggiran, lalu dari gurun-gurun pasir menuju pegunungan berbatu. Ilustrasinya sangat padat, mantap, visual.

Sehingga, setiap kali saya membaca novel-novel atau buku-buku traveling lainnya, saya selalu membanding-bandingkannya dengan ini. Hingga kini, menurut saya hanya ada dua buku yang bisa menyamai – atau melebihi – visualistik yang ada di American Gods: Naked Traveler dan Edensor. Keduanya, sama seperti American Gods, memenuhi sebuah syarat suksesnya suatu kisah traveling. Syarat itu, sebagaimana telah diungkapkan dengan cemerlang oleh Cheri Lucas (editor di WordPress.com) di sini, adalah memasukkan unsur perjalanan ke dalam jiwa, bukan hanya raga.

Atau, lebih mudahnya: kita mengikuti perjalanan batin tokoh utama sepanjang perjalanan fisiknya.

Kenapa saya berkata bahwa hal tersebut sangat kuat? Karena, yah, sebagai tokoh utama, Shadow kurang sympathetic. Ia tinggi, besar, kuat, tangguh, macho, dan dia pendiam, tidak banyak bicara, kaku, serta kurang menyenangkan. Sangat sulit mendapatkan alasan kenapa pembaca harus menyukainya. Hal tersebut berpotensi menjadi bencana, karena kalau pembaca tidak bisa terhubung dengan tokoh utama, biasanya mereka akan sulit untuk terhubung dengan cerita.

Untungnya, sebagaimana saya telah tuturkan di atas, Mr. Gaiman turut membawa kita menyaksikan perkembangan Shadow – jalan pikirannya sepanjang perjalanannya, pengembaraannya, petualangannya. Beliau mengajak kita melihat bagaimana Shadow, perlahan tapi pasti, menyadari posisinya: bahwa ia, seorang manusia biasa, pria biasa, sedang terbelit perseteruan dahsyat antar Dewa-Dewi kuno dan baru. Bahwa ia akan mati, dan tak keberatan menghadapinya.

Hingga, bagaimana ia, menjelang akhir, mendapatkan jawaban akan semua pertanyaan yang telah menghantuinya sejak kecil. Jawaban yang, karenanya, membuat ia bersedia untuk kembali dan (jreng jreng!) menyelamatkan dunia.

-a-

Lebih dari seratus tahun kemudian, barulah Leif yang beruntung, putra Erik si Merah, menemukan kembali daratan itu, yang lalu disebutnya Vineland. Dewa-dewanya sudah menunggunya ketika dia tiba: Tyr, bertangan satu, dan Odin kelabu si penguasa tiang gantungan, dan Thor penguasa halilintar.

Membaca American Gods akan terasa seperti membaca Percy Jackson, tapi untuk versi dewasa, dan dalam versi yang sangat gelap serta membuat depresi. Buku ini jelas bukan untuk semua orang – di beberapa bagian, bahasa yang digunakan cukup eksplisit (meski sudah diselamatkan berkat penerjemahan Inggris ke Indonesia), plotnya rumit, dan seringkali terasa ngalor-ngidul.

Tapi, jika Anda menyukai cerita mengenai sejarah Amerika, sejarah para Dewa, dan melihat lebih dalam mengenai budaya Amerika – cara hidup penduduknya, kepercayaannya, asal-muasalnya – buku ini sangat saya rekomendasikan. Sedikit banyak buku ini juga mengajak pembacanya berpikir, bertanya-tanya, dengan bahasannya mengenai asal-muasal agama dan kepercayaan-kepercayaan kuno, serta kenapa – dan bagaimana – sebuah agama bisa menghilang dan Dewa-dewanya memudar.

by Nicolas Delort

sumber gambar: Nicolas Delort (blog)

Singkat kata, ini adalah novel urban fantasy paling serius, paling rumit, paling kompleks, namun paling memuaskan jika selesai dibaca. Not for everyone, though, tapi menurut saya pribadi kualitasnya sangat bagus. Karya Neil Gaiman di masa puncaknya.

Biarkan Aku Masuk (Let The Right One In)


Biarkan Aku MasukDi sebuah kota kecil bernama Blackeberg, di bawah musim dingin yang membeku, seorang anak laki-laki bernama Oskar tinggal. Orangtuanya sudah berpisah, ia hidup bersama ibunya, dan sesekali mengunjungi ayahnya. Ia hanyalah anak biasa, meski sedikit kutubuku, dan karenanya menerima berbagai macam bully dari anak-anak lain di sekolahnya.

Kadang-kadang, saat ia yakin semua orang tak melihatnya, ia menusuk-nusuk batang pohon sembari membayangkan wajah anak-anak yang mem-bully-nya.

Suatu hari, datanglah sebuah keluarga baru ke apartemennya. Keluarga tersebut terdiri dari seorang pria paruh-baya dan seorang anak perempuan remaja bernama Eli. Berdua, mereka menyewa kamar, menjadi tetangga Oskar. Oskar berkenalan dengan Eli, dan mereka mulai berteman.

Tapi, ada sesuatu yang ganjil dengan keluarga Eli. Ayahnya sering pulang-pergi malam. Eli berkeliaran di salju tanpa baju hangat. Dan di siang hari, jendela kamar Eli selalu tertutup rapat. Belum lagi serangkaian pembunuhan yang terjadi di kota tersebut, yang kian mengarahkan Oskar pada konfrontasinya dengan kenyataan-kenyataan mengerikan mengenai Eli, keluarganya, kotanya, dan dirinya sendiri.

-b-

Dari postingan saya yang sebelumnya, saya telah ungkapkan bahwa saya adalah penggemar genre horor. Saya melahap banyak novel-novel Stephen King (Doctor Sleep, novel terbarunya, sangat keren. Akan saya ulas di sini dalam waktu dekat), R. L. Stine’s Goosebumps (yang membuat saya merinding habis-habisan pas masih kecil), H. P. Lovecraft, Neil Gaiman, T. E. D. Klein, dan masih banyak lagi.

Dari pengalaman saya membaca novel-novel genre tersebut, saya mendapati bahwa horror yang benar-benar ‘horor’ – atau, dengan kata lain, seram – bukanlah horor yang mengulas mengenai gore. Bukan pula mengenai pembunuhan, mutilasi, atau hantu-hantu. Bukan apparatus atau ilustrasinya pula yang membuat saya merasa sebuah cerita horor menyeramkan.

Yang membuat cerita horror menyeramkan, menurut saya, adalah sense of helplessness yang terdapat di dalam cerita.

Mungkin teman-teman perasaan seperti itu. Perasaan yang membuat teman-teman berpikir, “Ya Tuhan, mending mati aja deh” daripada menghadapi sebuah situasi.

Contoh sederhana: teman-teman dapat PR mengerjakan tiga soal esai yang sulit banget dari buku. Selesai. Terus tinggal tidur, pagi-pagi bangun, ke kelas, dan ada teman yang minta cocokin jawaban. Anda keluarkan lembar PR punya Anda, tunjukin, dan dia bilang, “Lhoh, kok ngerjainnya yang ini? Halaman 12 tahu, bukan halaman 11.”

Now die.

Tidak perlu jauh-jauh, ternyata. Sehari-hari saja bisa menjadi horror yang sangat mengerikan, ‘kan?

Itulah yang diangkat di Let The Right One In: kehidupan sehari-hari. Kenyamanan dunia modern akan rutinitas. Dunia yang kelabu, kecil, dan terbatas. Bangun, berangkat sekolah, belajar, jadi anak rajin, hadapi bully, dan kembali ke rumah. Hati ini rasanya kesal karena berbagai hal, dari bully hingga orangtua sendiri. Dan tidak ada apa-apa yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya.

Setidaknya, hingga Eli tiba.

-b-

Hanya satu hal yang kurang. Masa lalu. Di sekolah, anak-anak tidak ditugasi membuat proyek-proyek khusus tentang sejarah Blackeberg, sebab memang tidak ada sejarah.

2

Let The Right One In menyentuh banyak isu-isu sensitif. Sebutkan satu-satu, dari pedofilia, pelacuran, seks di bawah umur, transeksual, kekerasan, semua masalah-masalah seperti itu ada.

Tapi, di saat bersamaan, ia juga menampilkan kasih sayang, cinta, dan harapan. Lalu, di atas itu semua, novel ini juga menuturkan apa-apa yang kita siap lakukan demi orang-orang yang kita cintai.

Disturbing, tapi lovely.

Narasinya dibawa a la Stephen King: kisah kota kecil, penduduknya, masalah sosialnya, semuanya dibahas. Tak tanggung-tanggung, satu per satu. Hal tersebut membuat novel ini menjadi panjang, dan di banyak tempat terasa sangat lambat. Beberapa kali, saya mendapati adanya tokoh-tokoh yang nggak saya peduliin tapi menjadi sudut pandang cerita.

Apa yang terjadi? Siapa orang ini? Kenapa dia jadi fokusnya?

Untungnya, hal-hal tersebut terjadi selalu dengan alasan yang kuat. Meskipun, tetap saja, membuat novel ini sangat nggak cocok untuk yang menyukai fast-paced horror story.

“Aku… tidak membunuhi orang-orang.”

“Memang tidak, tapi kau ingin. Kalau bisa. Dan kau benar-benar akan melakukannya kalau terpaksa.”

Horrornya klasik, vampirnya klasik, namun dijejalkan dalam kehidupan modern. Hal tersebut membuat kita melihat culture clash dan konflik psikologis antara sang vampir dengan dunianya, yang terus berubah sementara ia abadi. Penceritaan dari sudut pandang vampir, untungnya, dilakukan dengan sangat baik. Aksi-nya kerasa, horrornya kerasa, gore-nya apalagi.

Truly classic, sedikit banyak mengingatkan saya terhadap Dracula yang legendaris.

Meski demikian, penutup novel ini – dan perangkum kisah ini – dilakukan dengan sangat manis. Lengkap, terbuka, menyediakan ruang untuk cerita berikutnya dengan tetap mempertahankan kekuatannya sebagai standalone novel.

Singkat kata, keren.


Novel ini sudah difilmkan dalam dua film: yang pertama adalah Let The Right One In dari tahun 2008, dan yang kedua adalah Let Me In dari tahun 2010. Yang satu versi Swedia, yang satu Amerika. Saya nggak bakal bilang mana yang lebih bagus, tapi yang jelas dua-duanya mantap. Adaptasi yang bagus dengan tetap mempertahankan unsur-unsur yang membuat novel ini menakjubkan.

Truly worth watching.

trailer:

Aku Tahu Kamu Hantu


Aku Tahu Kamu HantuPas tahu Mbak Eve udah nulis buku berjudul Aku Tahu Kamu Hantu, saya buru-buru ngecek di internet. Kesan pertama dari ngelihat sampulnya, “Wah, bukunya manis. Romance-kah?” Tapi, kemudian saya bertanya, “Terus apa hubungannya sama hantu, kalau romance?” Walhasil, karena saya kurang suka romance, dan masih rada-rada bingung, saya menunda membeli buku ini.

Barulah beberapa minggu kemudian, saat saya ke Gramedia untuk beli sebuah buku, saya nemu buku ini di antara rak-rak. Tadinya saya cuma ngeliat aja, terus ngangguk, mikir, “Oh, ini bukunya Mbak Eve.” Tapi, saya berhenti karena nyadar ada yang ganjil.

Di tengah-tengah sampul bunga tersebut, saudara-saudari, adalah tengkorak.

Tentu saja saya langsung membelalak. Baca blurb di bagian belakangnya, terus saya search di internet melalui hape saya saat itu juga, saya akhirnya ngeh kalau novel ini adalah novel horor. Bukan romance. Hanya saja, gara-gara sampulnya yang kaya’ gitu, dari awal saya kira romance.

Dan sebagai penggemar genre horor, beberapa hari kemudian saya sabet buku ini dari rak.

-b-

Premise utama dari cerita ini cukup sederhana: suatu hari, tokoh utama kita yang bernama Olivia, berulangtahun ke-17. Di hari yang sama, ia mulai bisa melihat makhluk-makhluk halus. Hantu, jin, dedemit, berbagai istilah lainnya – ia bisa melihat mereka. Di saat yang sama, mereka tahu kalau dia bisa melihat mereka.

Penyebab ia bisa melihat hantu? Sederhana: ibunya mewariskan kemampuan tersebut kepadanya. Dan ibunya mendapatkan kemampuan tersebut dari orangtuanya, turun-temurun. Kali ini, giliran Olivia. Dengan kemampuan tersebut, tentu saja muncul berbagai konsekuensi, apalagi Liv (nama panggilannya Olivia) masih bersekolah di SMA. Remaja biasa, cewek dengan segala kerumitan dunia remaja, mendapatkan kemampuan seperti itu?

Namun, itu baru awalnya. Karena, seorang hantu anak laki-laki mendadak mendatanginya. Hantu yang ia kenal, yang berkaitan erat dengan sebuah kasus yang baru saja terjadi di sekolahnya.

“Lambat laun kamu akan terbiasa. Kalau tak dihiraukan, mereka bosan sendiri.”

-b-

Secara keseluruhan, novel ini bagus. Seperempat jalan membacanya, saya menyadari bahwa buku ini (mungkin) memiliki sedikit aura Fantasy di dalamnya. Tidak kental, tapi ada. Kenyataan bahwa (spoiler) Liv bukan satu-satunya yang memiliki kemampuan tersebut? Fakta bahwa ‘hantu’ (spoiler) juga memiliki aturan-aturan mereka, hal-hal dan alasan yang membuat mereka ada?

Kemudian, setengah jalan membaca, tampak jelas bahwa selain horor, tema utama novel ini adalah remaja. Young adult, dengan berbagai permasalahan yang ada di dalamnya. Sangat menarik melihat beberapa adegan, seperti apa yang sebenarnya cewek lakukan di kamar mandi, bagaimana mereka merespons keremajaan mereka. Dengan menyentuh topik ‘perubahan’, sebagaimana remaja lainnya, Liv juga harus beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi pada dirinya. Perubahan-perubahan yang tak dapat ia cegah, seperti pada perasaannya, hubungannya dengan teman-teman dekatnya, dan yang utama: kemampuan uniknya.

Dan tentu saja, segala konsekuensi atas perubahan-perubahan tersebut juga masih harus ia tanggung.

Remaja banget, dan digambarkan dengan gamblang tanpa lebai.

Selain itu, novel ini juga sarat akan tema misteri. Kalau dijelaskan di sini pastinya bakal nggak menyenangkan nantinya pas baca, tapi yang jelas: misterinya keren. Ngalir, bisa ditelusuri, dipahami, dan ditebak. Kalau menurut saya, novel misteri itu bagus banget kalau pembacanya bisa ngikutin dan ngerti. Tapi, bakal lebih bagus lagi kalau pembacanya nggak berhasil, atau gagal, nebak pemecahannya.

Di sini, hal tersebut seluruhnya terpenuhi. Twist di bagian akhir tersebut, jujur, membuat saya sangat bahagia.

“Kamu kira kamu saja yang melihat mereka?”

-b-

Sebagai penggemar horor, menurut saya, ada satu kekurangan besar dari buku ini: kurang seram.

Ya, saya mengerti kalau tema utama novel ini tidak hanya horor tapi juga remaja, supernatural, misteri, dll. Tapi tetap saja, sebagai seseorang yang nyamber buku ini dari rak karena berharap akan mendapatkan cerita novel horor yang mantap, saya agak kecewa. Saya hampir nggak ingat, kapan terakhir kali saya beli dan baca buku novel horor karya dalam negeri. Belakangan ini yang namanya novel horor pasti ada baluran komedi-komedinya gitu. Dan yang nggak ada komedi-komedinya biasanya terlalu garing nyeritainnya.

Meski demikian, horor di dalam cerita ini ngena. Saya bisa mengerti perasaan helplessness yang dialami oleh protagonis, kengerian dan kebingungan yang dialaminya. Saya bisa ngerti horornya. Tapi, teuteup, menurut saya kurang serem. No offense lho, Mbak Eve :]

Overall, buku ini bagus. Lumayan, untuk mengurangi dahaga akan karya-karya dalam negeri yang nggak terbalur oleh agama, ideologi, dramatisasi, apalagi politik. Aku Tahu Kamu Hantu adalah sebuah novel horor-misteri untuk remaja, dan ia memenuhi peran tersebut dengan sangat baik.

Oh, dan top jempol buat ilustratornya 😀

More Than This


More Than ThisSangat sedikit buku Young Adult yang dapat membuat pembacanya berpikir mendalam, dan More Than This adalah salah satu yang sanggup melakukannya dengan mudah. Di awal, kita diperkenalkan kepada Seth: seorang anak laki-laki biasa yang sedang tenggelam di laut. Digambarkan dengan narasi yang sangat ilustratif, kita melihat bagaimana Seth terhempas oleh gelombang ke batu karang, tewas dengan kepala pecah seperti cangkang telur.

Dan itu baru permulaan.

Beberapa saat berikutnya, Seth terbangun di sebuah tempat, digambarkan dengan narasi yang sangat membingungkan – sebingung tokoh utama kita saat ia baru terbangun – dan mendapati bahwa ia berada di sebuah daerah suburban. Jalanannya, rumah-rumahnya, semuanya merujuk pada kompleks perumahan.

Hanya saja, tidak ada seorang pun di sana. Bangunan-bangunan tampak terbengkalai, kendaraan tidak ada pengemudinya, tanaman, hewan, dan burung telah mengambil alih kembali dunia.

Kemudian, ia ingat apa yang terjadi padanya. Ia sudah mati, sudah tenggelam dengan kepala pecah dan otak berhamburan, mungkin terkubur jauh di dasar lautan. Sehingga, kemungkinan besar tempat tersebut adalah alam barzah. Atau lebih mungkin lagi, tempat tersebut adalah neraka: sebuah rumah dari masa lalunya, rumah yang ia dan keluarganya berjanji untuk tidak pernah datangi lagi, tempat yang mereka tinggalkan jauh menyeberangi samudra untuk melupakannya setelah peristiwa yang menimpa adiknya.

Dan ketika ia mulai menyusuri tempat tersebut, sendirian, seorang diri, ia mendapati bahwa ia lagi-lagi salah.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar telah terjadi. Sesuatu yang telah membuat semua manusia, bersama-sama, meninggalkan dunia – kalau tempat tersebut bisa disebut dunia – yang mereka tinggali jauh di belakang.

***

2

Cover photos by Matt Roeser

Ini bukan buku Young-Adult biasa, itu hal pertama yang harus dipahami. Tidak ada aksi yang mendebarkan, romansa antara tokoh cowok-ganteng-banget dengan tokoh cewek-cantik-amat di dalamnya. Tentu, ada adegan kekerasan, jika itu yang kau inginkan, tapi untunglah hanya sedikit. Namun, dengan tebal nyaris mencapai 500 halaman, Patrick Ness dengan gamblang menuliskan kisah petualangan tokoh-tokoh utamanya dengan begitu mengalir. Halaman demi halaman bisa dilalui dalam sekejap.

Novel ini dimulai dengan cukup lambat, dengan seorang tokoh utama perlahan-lahan mempelajari dunia sekelilingnya seorang diri. Ia cukup cerdas untuk menjelajah dengan hati-hati, dan cukup kuat untuk bisa bertahan hidup. Dalam mimpi-mimpinya, ia juga teringat akan masa lalu yang membahagiakan, namun di saat bersamaan cukup kelam. Ia mulai bertanya-tanya apa makna dari hidup, kelahiran, dan kematian, jika neraka yang ia terima adalah didamparkan seorang diri di sebuah tempat yang memenuhinya dengan perasaan bersalah.

Awal yang lambat dan panjang tersebut mungkin akan mengganggu para pembaca yang tidak sabaran, yang menyukai action-packed scenes atau hot scenes atau adegan-adegan yang silih berganti. Tapi, jika berhasil melewatinya dan memahaminya, begitu sampai di tengah – saat suatu pengungkapan kembali dihadapkan pada pembaca – kita akan mendapati bahwa segalanya, secara sederhana, makes sense. Yap, angguk-angguk. Kemudian kita (spoiler) dihadapkan pada tokoh-tokoh lainnya, dan bersama, mereka akan menjelajahi dunia tersebut.

Token

Dilihat dari permukaannya, novel ini mirip dengan The Matrix yang digabungkan dengan The 5th Wave. Dua-duanya sama-sama membawa kita mempelajari, perlahan-lahan, mengenai apa yang telah terjadi pada dunia, bagaimana nasib semua orang, dengan gambaran yang sangat realistis. Berbagai pertanyaan filosofis dilontarkan di dalamnya, mengenai dunia nyata dan dunia mimpi, serta apa yang akan kita berikan demi mendapatkan dunia yang sempurna. Misteri yang diberikan nyaris menyamai level Inception: saat saya kira saya mengerti, ternyata ada twist lagi di sana-sini.

Namun, di saat bersamaan novel ini juga, tepat di hatinya, adalah novel remaja. Young-adult. Kita mendapati tokoh utama dengan orientasi seksual yang tidak sama dengan mayoritas orang di lingkungannya, kita mengikuti, melalui flashback, bagaimana ia mencoba mengatasi hal tersebut dan tetap melanjutkan hidupnya. Dengan gamblang, Patrick Ness menggambarkan dunia remaja sebagaimana dunia remaja: tempat anak-anak dengan fisik yang terus tumbuh, hormon terus berkembang, yang tidak mengerti dirinya sendiri apalagi dunia di sekelilingnya, yang terus-menerus ditekan dari segala arah dan terus berusaha sebaik-baiknya.

But imagine there’s this thing that always sits there in the room with you. And everyone knows it’s there and no one will ever say a single goddamn word about it until it becomes like an extra person living in your house that you have to make room for. And if you bring it up, they pretend they don’t know what you’re talking about.

Secara menyeluruh, buku ini sangat bagus. Narasinya begitu mengalir, tokoh-tokohnya terasa sangat dekat, dan penceritaannya dilakukan dengan sangat realistik. Dan jangan lupa, unsur fiksi ilmiah di dalamnya sangat luar biasa.


Trailer untuk buku ini: