The 13 Clocks


The 13 ClocksBulan November ini digadang-gadang bakal menjadi bulan yang mengerikan. Bagaimana tidak, ada NaNoWriMo, ada Ujian Tengah Semester, penelitian dan skripsi, dan masih banyak lagi. Walhasil, waktu membaca pun turun drastis. Target membaca 100 buku tahun ini menjadi agak sulit dipenuhi, dengan reading list yang masih menumpuk. Dan setiap kali mau mulai baca novel, pasti pusing: setelah seharian membaca textbook dalam jumlah berjibun, mengerjakan latihan soal, mata ini sangat membutuhkan istirahat dari dinding huruf yang kian tinggi tiap harinya.

Oleh karena itu, saya mulai membaca lebih banyak buku anak-anak. Lebih tepatnya, buku ilustratif, graphic novel, atau bahkan komik. Di minggu sebelumnya, saya menulis mengenai Vader’s Little Princess: sebuah buku yang sangat menarik dan memanjakan mata. Dan minggu ini pun tak berbeda: akan saya tulis sedikit mengenai buku yang baru saja selesai saya baca, yang berjudul The 13 Clocks karangan James Thurber.

Kalangan pembaca generasi sebelumnya, generasi tua, mungkin sangat mengenal sang penulis, James Thurber. Beliau adalah kartunis, pelawak, sekaligus penulis yang karya-karyanya banyak muncul di The New York Times. Biodatanya bisa dibaca di Mas Wiki.

Lalu, sekedar informasi, The 13 Clocks ini adalah buku novel anak-anak yang beliau tulis pada saat berada di Bermuda. Memberi kesan tersendiri, ‘kan?

Lugas, luwes dan ilustratif, buku bergenre Fantasy ini mengisahkan mengenai seorang pangeran yang harus melaksanakan deretan tantangan dan tugas untuk membebaskan seorang putri dari cengkeraman Duke Jahat di Kastil Coffin. Kocak, seru, dan seringkali dark di beberapa bagian, hingga membuat saya bertanya-tanya bagaimana bisa novel seperti ini dimasukkan dalam kategori anak-anak. Mungkin karena ceritanya yang mudah dimengerti dan bahasanya yang lugas. Atau mungkin anak-anak jaman dulu lebih dewasa dibandingkan jaman sekarang.

The 13 Clocks_3

Eniwei, buku ini sekarang bisa diunduh dengan gratis karena masuk dalam public domain di Archive.org. Dan tahukah Anda? Ada film pendeknya juga lho, ditulis dan dinarasikan oleh para veteran bidang Fantasy. Salah satunya adalah penulis favorit saya, Neil Gaiman 😛 Jadi… silakan diunduh, silakan dibaca, dan silakan ditonton!

Vader’s Little Princess


Vader's Little Princess

Sebagian besar dari kita pasti pernah menonton Star Wars. Salah satu kisah epik fiksi ilmiah sepanjang masa, serial Star Wars telah membentang sepanjang enam film (bahkan sebentar lagi dikabarkan akan ada yang terbaru, setelah Disney membeli hak ciptanya tahun lalu), berbagai jenis mainan, kartun, video games, dan buku-buku. Salah satunya adalah Vader’s Little Princess, sebuah buku komik ilustratif karya Jeffrey Brown.

Vader’s Little Princess berisi komik-komik kecil dengan latar dunia Star Wars, namun ada sedikit twist: Darth Vader, dalam kisah ini, membesarkan putrinya, Leia. Dalam kisah ini, kita menyaksikan bagaimana Darth Vader menjadi seorang ayah, sekaligus seorang Sith – tangan kanan Sith Lord – yang menguasai galaksi.

Lucu, menggemaskan, cerita-cerita di dalamnya menggabungkan kisah-kisah seorang ayah dan Star Wars dengan baik. Ada kisah Darth Vader yang akan membunuh admiralnya, namun terhenti karena Leia muncul dan memeluknya. Ada kisah Darth Vader yang mengamati bagaimana putrinya tumbuh besar, berpacaran dengan (yang sudah kita kenal, tak lain dan tak bukan) Han Solo yang kesohor.

IMG_5246

IMG_5244

IMG_5243

Beberapa kisah mengejutkanku: beberapa karena begitu lucu, begitu mudah untuk dihubungkan dengan peristiwa sehari-hari, dan beberapa karena mengharukan.

rebellious

Vader’s Little Princess adalah proyek Star Wars kedua dari Jeffrey Brown setelah Darth Vader and Son. Kalau di Vader’s Little Princess kita melihat Sang Sith sebagai ayah dari seorang anak perempuan, di Darth Vader and Son kita melihatnya sebagai ayah seorang anak laki-laki. Cerita di kedua buku ini sesungguhnya saling berhubungan, dengan Luke muncul di VLP dan Leia di DVS. Tokoh-tokohnya juga sama.

Dan ceritanya, di kedua buku itu, juga cukup hangat, ringan, dan nostalgik. Cocok untuk dibaca oleh kita, generasi Star Wars, penyuka fiksi ilmiah, dan penggemar komik secara menyeluruh.

Edensor


EdensorTeman-teman kelahiran 1990-an awal mungkin merasakan bagaimana nyamannya tahun 2006-2009 sebagai anak SMA. Itu adalah tahun yang luar biasa: kita baru saja mendapatkan pemimpin baru yang dipilih langsung oleh rakyat. Kita sedang dalam usaha menyembuhkan diri dari jejak-jejak Orde Baru. Ekonomi tumbuh. Kebebasan tumbuh. Facebook belum booming, penghuninya belum ada yang alay. Dan buku-buku luar biasa beredar di pasaran saat itu, baik buku dari dalam maupun luar negeri.

Salah satunya, tak lain tak bukan, adalah serial Laskar Pelangi.

Serial ini merupakan sesuatu yang cukup unik. Dimulai dari buku ke-1, yang juga berjudul Laskar Pelangi, kita diajak masuk ke dalam memoar masa kecilnya Andrea Hirata. Dengan nama panggilan ‘Ikal’, Andrea menceritakan kepada kita mengenai kenyataan kehidupan di daerah terpencil. Belitong, sebuah tempat yang kaya sumber daya, namun taraf kehidupan penduduk aslinya masih rendah. Namun, di tengah-tengah daerah tersebut, dan mungkin di daerah-daerah terpencil lainnya di seluruh Indonesia, terdapat bibit-bibit kejeniusan luar biasa: Lintang, Sang Einstein. Lintang, yang kecerdasannya bagai mercusuar di tengah lautan gelap. Lintang, yang terpaksa meninggalkan sekolahnya, mimpi-mimpinya, dan pendidikannya demi menafkahi keluarganya menggantikan ayahnya. Berapa banyak lagi anak-anak sepertinya di daerah-daerah lainnya? Puluhan? Ratusan?

Pertanyaan tersebut memacu debat dan aksi-aksi di seantero Indonesia. Laskar Pelangi sukses. Andrea Hirata sukses. Belitong diangkat ke publik, dan pemerintah bahkan turun tangan, berjanji meningkatkan pendidikan di daerah-daerah terpencil. Versi bahasa Inggrisnya, yang berjudul Rainbow Troops, dirilis. Filmnya pun dirilis. Luar biasa.

Setelah itu, Andrea Hirata melanjutkan kisahnya. Sang Pemimpi berkisah mengenai anak-anak SMA, para remaja, di daerah tersebut: mengenai, sekali lagi, para pemimpi. Anak-anak muda dengan ribuan angan-angan, bebas, tak terikat: siapa yang bisa menghentikan mereka? Kenyataan hidup pun mereka terjang! Buku ini pun sukses memukau para pembaca muda.

Dan yang ketiga, buku yang menjadi favorit saya sepanjang serial Laskar Pelangi: Edensor.

Sorbonne - by Katsuaki Sato

by Katsuaki Sato

Sejak kecil, aku ingin pergi ke luar negeri. Untuk alasan apa pun – apakah jalan-jalan, sekolah, kerja, atau bahkan sekedar melintas – saya ingin melakukannya. Aneh, padahal aku sendiri, semasa itu, belum pernah menginjakkan kaki di luar Pulau Jawa. Aku belum pernah mengunjungi bagian lain mana pun dari Indonesia selain Jawa.

Namun, dorongan untuk bisa ke luar negeri – terutama ke Eropa – semakin besar seiring bertambahnya usiaku. Mungkin hal itu dikarenakan buku-buku yang kubaca, seperti Harry Potter, mengisahkan banyak hal mengenai negara-negara di luar sana. Daratan Eropa yang luas. Rusia yang dingin dan bertangan besi. Cina yang raksasa. Afrika yang panas. Dan masih banyak lagi.

Tapi, untuk apa sih aku mau ke sana?

Jawabannya datang menghantamku telak-telak saat aku membaca Edensor: “Untuk jalan-jalan!”

“Jalan tempat berparade, pamer kejayaan, juga tempat menggelandang. Jalan tempat lari dari kenyataan, tempat mencari nafkah. Orang hilir mudik di jalan, mereka bergerak indah, melamun, riang, dan berduyun-duyun, siapa mereka? Ke manakah mereka?”

Mungkin aneh, tapi pada saat aku membaca Edensor, aku sudah mulai terbiasa dengan gaya bahasa Andrea Hirata yang amat metaforik, lancar, lembut, sekaligus meledak-ledak dalam alirannya. Sangat enak untuk dibaca. Pertama kali aku membaca Laskar Pelangi – persentuhan keduaku dengan buku sastrawi setelah Mimpi-Mimpi Einstein – aku terpana-pana. Tentu saja, kalimat-kalimatnya luar biasa! Tapi, di buku ketiga, gaya tersebut sudah mulai kuterima – dan aku yakin sebagian besar dari teman-teman juga bakal terbiasa dengannya jika membaca Laskar Pelangi minimal 3 kali seminggu (this I did. Seriously.) hingga hampir hapal dengan isinya. Saking sukanya.

Namun, Andrea Hirata mengejutkanku lagi dengan sesuatu yang baru: alih-alih menggunakan kata-kata untuk menarasikan, untuk menceritakan, untuk shows apa yang terjadi, gagasan-gagasan dan idenya, ia menggunakannya untuk tell: mendeskripsikan yang ada di novelnya.

Hasilnya? Satu buku penuh berisikan pembayangan kehidupan di Eropa, traveling-nya, kegiatan perkuliahannya, yang luar biasa.

Aku suka mempelajari motivasi orang, mengapa ia berperilaku begitu, mengapa ia seperti ia adanya, bagaimana perspektifnya atas suatu situasi, apa saja ekspektasinya. Ternyata apa yang ada di dalam kepala manusia seukuran batok kelapa bisa lebih kompleks dari konstelasi galaksi-galaksi dan Kawan, di situlah daya tarik terbesar menjadi seorang life observer. Aku bergairah menemukan kelasku di Sorbonne. Mahasiswa-mahasiswa dari beragam bangsa di dalamnya membuat kelasku seperti laboratorium perilaku. Kelasku bukan sekadar ruang untuk belajar science tapi juga university of life.

Easter Europe and Turkey - by Candace Rose Rardon

by Candace Rose Rardon

Dengan buku ini, Andrea Hirata berhasil menggelitikku dengan dua hal: yang pertama adalah bahwa kehidupan kuliah itu gawat – dan ternyata, saat ini terbukti dengan telak. Kemudian yang kedua, adalah bahwa Eropa itu memang amat, sangat menarik untuk ditelusuri.

Dan jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apa pun keadaannya.

by Amy

by Amy

Dan mungkin perlu kusampaikan juga: I made it. Aku berhasil ke Eropa pada tahun keduaku di SMA, beberapa bulan setelah membaca buku ini. Dan sama seperti yang dituliskan oleh Andrea Hirata, Eropa, bagiku, sebelumnya sangat tak terbayangkan jauh dan asingnya. Namun, di Eropa sana, berdiri di bawah menara emas katedral di Kiev, memandang bentangan padang rumput hingga cakrawala, dan curi-curi waktu dan tempat untuk Shalat di tengah-tengah kastil Chernivtsi, aku menyadari satu hal: betapa kecilnya diriku di dunia ini, dan betapa besarnya Sang Maha Besar yang menggenggam takdir kita.

Aku berharap, suatu hari nanti, bisa kembali berkelana ke berbagai tempat. Dimulai dari Indonesia, lanjut ke dunia. I want to see everyone. I want to see everything.

Dan aku ingin mendapatkan hikmah dari semua itu 🙂

“Ibu, dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?”

Ia menatapku lembut, lalu menjawab.

“Sure iof, it’s Edensor….”

Samudra di Ujung Jalan Setapak


The Ocean at the End of the Lane - Samudra di Ujung Jalan SetapakAku hanya ingat sedikit mengenai masa kanak-kanakku. Hidup di sebuah kota pinggir pantai, dengan langit yang kadang kelabu kadang cerah, suara ombak samudra tak jauh dari rumah, dan sekolah yang menyebalkan. Atau mungkin menyenangkan?

Entahlah. Seperti kubilang, aku hanya ingat sedikit mengenainya, dan setiap kali aku mencoba mengenangnya, detilnya selalu memudar, menetes-netes bagai air di genggaman. Rasanya seperti baru terbangun dari mimpi yang panjang dan mencoba membayangkannya kembali. Seolah, seluruh masa kecilku hanyalah sebuah mimpi yang sangat, amat panjang.

Dan saat ingatanmu tidak bisa kaupercaya, bagaimana kau akan mengenal siapa dirimu?

Namun, kadang yang dibutuhkan hanya hal-hal sederhana: sebuah dorongan kecil untuk membuatmu mengingat semuanya, untuk mengenal dirimu kembali. Sedikit dari kita yang menemukan hal-hal itu, pemicu ingatan dan kenangan itu. Tidak sedikit dari kita yang bahkan mencoba melupakan masa lalu. Dan di Samudra di Ujung Jalan Setapak, tokoh utama kita, Sang Protagonis Tak Bernama, berhasil menemukannya kembali.

Aku ingat itu, dan setelah ingat itu, aku ingat semuanya.

Alkisah, protagonis kita, yang juga bertindak sekaligus narator, mengingat kembali segala masa lalunya mengenai Lettie Hempstock: seorang gadis kecil yang tinggal di ujung jalan setapak bersama ibu dan neneknya. Lettie adalah anak yang ganjil, sangat aktif, dan dalam segala hal sangat berlawanan dengan Sang Protagonis yang pendiam, pemalu, penyendiri, dan kutu buku. Pertemanan mereka dimulai dengan sebuah insiden bunuh diri yang dilakukan oleh seorang penyewa di rumah protagonis. Insiden tersebut memicu kejadian-kejadian gaib yang tak terjelaskan dengan logika di kota kecil tempat protagonis kita tinggal, termasuknya di rumahnya sendiri.

Terdesak oleh makhluk-makhluk dari alam lain, kekuatan yang tak terkira, dan ancaman-ancaman mengerikan, protagonis kita meminta bantuan kepada Lettie, ibunya, serta neneknya: keluarga Hempstock, yang rupanya bukanlah wanita-wanita biasa. Bagaimana tidak? Nenek Lettie pernah menyaksikan dunia sebelum bulan tiba. Lettie sendiri berkata bahwa kolam bebek di belakang rumahnya, kolam kecil yang memicu kembali ingatan Sang Protagonis, adalah Samudra.

artist: Emiliano Ponzi

artist: Emiliano Ponzi

Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah novel yang sangat unik. Kubilang demikian karena pertama kali aku mendengar mengenainya, ia disebut-sebut sebagai Adult Novel alias Novel Dewasa. Aku tidak kaget. Aku sudah mengenal Neil Gaiman sejak membaca Dewa-Dewa Amerika bertahun-tahun lalu, dan setelahnya, aku juga sudah membaca beberapa cerita pendeknya seperti A Study in Emerald (Sherlock Holmes dengan Lovecraftian-horror, mungkin cerita pendek paling bagus sekaligus ‘nyeleneh’ yang pernah kubaca). Intinya, beliau memang penulis yang sudah kawakan. Tidak aneh jika ia menulis novel dewasa.

Tapi, buku ini bukan sekedar novel dewasa. Jangan bayangkan adegan-adegan romansa, seks, kekerasan, dan semacamnya di sini.

Sebaliknya, membaca buku ini, awal-awalnya, membuatku bertanya-tanya kenapa ia dimasukkan ke dalam kategori Novel Dewasa, bahkan oleh penulisnya sendiri. Padahal, bahasa, cerita, dan isinya terasa masih dalam kategori remaja. Atau, bahkan, kategori anak-anak. Namun, makin ke tengah, makin ke dalam dan dipikirkan, barulah aku mengerti: Neil Gaiman bukan menulis Samudra di Ujung Jalan Setapak sebagai Novel Dewasa. Beliau menulis buku ini untuk orang-orang dewasa.

Atau, mungkin, lebih tepatnya adalah untuk anak-anak dalam diri tiap orang dewasa yang membacanya.

Orang dewasa juga tidak kelihatan seperti orang dewasa di dalamnya. Dari luar, mereka besar, tampak masa bodoh, dan selalu yakin dengan tindakan mereka. Di dalam, mereka tampak seperti diri mereka yang dulu. Seperti waktu mereka masih seumuranmu. Sesungguhnya, tidak ada orang dewasa. Tidak ada satu pun, di seluruh dunia ini.

by Subterranean Press

by Subterranean Press

Membaca Samudra di Ujung Jalan Setapak, bagiku, benar-benar nostalgik. Aku merasa sangat terhubung dengan karakter utamanya. Narasinya begitu memikat, sangat mengalir, hingga aku bisa merasakan diriku sebagai Sang Protagonis tersebut: seorang anak kecil di tengah-tengah konflik yang begitu besar, ketakutan menghadapi segala hal mengerikan yang tidak ia ketahui, takut dan khawatir pada orang dewasa, pada ayahnya, pada ibunya, dan iri pada adiknya. Penyendiri, namun tidak begitu canggung dalam berteman, terutama dengan anak-anak yang bisa mengerti pada dirinya. Berusaha belajar, meski perlahan-lahan.

Bukankah ada secercah hal-hal tersebut dalam diri kita, orang-orang dewasa? Bukankah sesekali kita juga berpikir kita mengetahui segalanya, padahal kenyataannya, kita hanya bisa tahu apa yang ada di hadapan kita? Dan bahwa itu pun kita, terkadang, meragukannya?

Lalu, apa-apa yang dituliskan oleh Neil Gaiman di buku ini juga terasa familiar. Gaya yang digunakannya sama seperti yang ia pakai dalam American Gods, Anansi Boys, Fragile Things, dan Neverwhere: halus, lembut, dan membawa pembacanya ke dunia fantasi yang imajinatif sekaligus mengerikan. Buku-buku beliau juga berbeda dengan buku-buku Fantasy lainnya yang populer belakangan ini (contoh: Twilight. Atau mungkin lebih lama lagi: Mistborn, Harry Potter, Percy Jackson, dll.). Sihir di dalamnya sesederhana kalimat, “Maka, Jadilah!” Tidak ada logika di dalamnya. Tidak ada ayunan tongkat sihir yang teratur, artifak-artifak yang harus digunakan. Tak ada penjelasan. Pembaca hanya menerima bahwa apa yang terjadi, terjadi.

Di tangan penulis yang tidak fasih, ini bisa mencelakakan. Pembaca yang menyukai hard-fantasy atau logisme bisa kesal. Tapi, Neil Gaiman membawakannya dengan fairy tale-style. Penulisannya seperti Fabel. Atau dongeng. Atau cerita sebelum tidur. Sederhana, tidak neko-neko. Dan sesungguhnya apakah cerita ini bisa nyata ataukah tidak bukan masalah: Sang Protagonis adalah pria paruh-baya, dengan ingatan yang memudar, kondisi emosi yang tidak menentu. Apakah cerita ini hanyalah sebuah mimpi panjang dari masa kecil protagonis kita? Metafor raksasa? Imajinasi, mungkin? Karena bukankah bagi anak-anak imajinatif, bayangan di lemari adalah hantu, sebuah monster bersembunyi di kolong tempat tidur, warna ubin yang berbeda adalah Lava, dan masih banyak lagi?

Dan bukankah agak sulit juga, bagi sebagian besar dari kita, untuk mengingat masa kecil kita? Seperti aku sendiri, yang hampir melupakannya? Atau mungkin, sekali lagi, menyembunyikannya?

Lalu, apakah nyata atau tidaknya ingatan kita sendiri sedemikian penting bagi kita?

artist: Neil Gaiman

“Tidak ada lulus atau gagal dalam menjadi manusia, Sayang.”

Ceritanya, narasinya, penokohannya, dan alurnya yang sangat mengalir bagai gelombang di samudra membuat buku ini, bagiku, adalah salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Sebuah karya terbaik Neil Gaiman untuk sisi anak-anak dalam diri orang-orang dewasa yang membacanya. Saranku, bacalah sebelum menghilang dari toko-toko buku.

Dan sapalah kembali sisi kanak-kanak kita semua!

The Age of Miracles: Yang Pernah Ada


18044961

Tepat dua hari sebelum berangkat praktek lapang di gunung selama tiga minggu penuh, aku menemukan buku ini di Gramedia. Ditaruh di bagian ‘Young Adult’, aku merasa tertarik pada sampulnya yang sangat simpel: langit berwarna keunguan, seorang anak perempuan yang tampak seperti melayang, dan bangkai seekor burung.

Buku itu sangat kontras dibandingkan buku-buku YA lainnya di rak yang sama, seperti Hunger Games, Percy Jackson, City of Ashes, dan banyak lagi. Karena keunikan sampulnya – dan sesuatu alasan lain yang sulit untuk kujelaskan, mungkin perasaan ‘seram’ yang kurasakan saat menatap sampul buku ini – aku menariknya dari rak, dan membaca ringkasan di sampul belakangnya.

Tanpa ada yang tahu penyebabnya, rotasi Bumi mendadak mulai melambat. Siang dan malam semakin panjang, gravitasi berubah, lingkungan hidup jadi kacau balau.

Sambil berusaha menerima segala perubahan alam di sekelilingnya, Julia juga harus mengadapi berbagai masalah lain – pernikahan orangtuanya yang retak, teman-teman lama yang meninggalkannya, kerumitan cinta pertama. Dan sementara Julia menyesuaikan diri, perlambatan rotasi Bumi terus berlanjut.

Membacanya, aku langsung menyadari bahwa buku ini menyerupai buku-buku YA lainnya yang sedang menjamur di pasaran belakangan ini. Fiksi ilmiah? Ya. Tokoh utama remaja perempuan? Ya. Ada cinta-cintanya? Berdasarkan ringkasannya, ya. Aku melakukan pencarian cepat di Goodreads, dan mendapati ratingnya tidak terlalu bagus. Oke, ratingnya bagus, ya, tapi tidak mencapai empat bintang. Sejenak, buku ini jadi tidak semenarik sebelumnya. Tidak begitu layak untuk dibeli.

Namun, ada sesuatu yang mendorongku untuk membelinya. Mungkin ringkasannya yang sederhana tanpa menyingkap apa pun. Mungkin sampulnya yang sempat membuatku merinding. Yang jelas, aku membelinya dan membawanya bersamaku ke praktek lapang selama tiga minggu di gunung.

Aku sangat senang aku melakukannya. Karena, kalau aku tidak membelinya, pastilah aku sudah sangat menyesal sekarang ini.

Saat itu perhatian kami teralihkan oleh cuaca dan perang. Kami tidak tertarik pada masalah perputaran bumi. Bom terus meledak di jalanan negara-negara jauh. Badai datang dan pergi. Musim panas berakhir. Tahun ajaran baru dimulai. Jam berdetik seperti biasa. Detik mengumpul jadi menit. Menit tumbuh menjadi jam. Dan tidak ada tanda-tanda bahwa jam tidak lagi mengumpul jadi hari, yang panjangnya sama dengan yang diketahui setiap manusia.

Saat mulai membaca buku ini, di tengah-tengah hutan tanpa sinyal ponsel maupun internet, pertanyaan terbesarku adalah: apa yang terjadi jika bumi mendadak melambat?

Jawabannya tercantum dalam buku ini, dari mata seorang anak remaja biasa. Bencana, tentu saja. Kekacauan iklim, samudra, lautan, daratan, kematian satwa-satwa, dan lebih banyak lagi. Kegilaan. Orang-orang berdiri di sudut-sudut jalan, berteriak dengan suara yang serak, menjeritkan Kiamat yang telah tiba dan Pembalasan akan jatuh pada kita semua. Itu standar. Aku sudah banyak membaca cerita-cerita end of world lainnya di buku-buku sebelum The Age of Miracles. Oleh karena itu, aspek fiksi ilmiahnya tidak terlalu menggangguku. Cukup standar.

Yang membuatku amat tertarik, dan terpukau, adalah: 1) Prosanya. Setiap kalimat ditulis seolah siap untuk dijadikan kata-kata mutiara. Setiap dua halaman, kurang lebih, ada kata-kata yang mampu menggetarkan hati. Membuat merinding. Dan yang berikutnya, 2) Sudut pandang yang unik.

Kenapa unik? Karena, sepanjang yang kutahu, belum pernah ada novel dengan tema apocalyptic world lainnya yang membawakan ceritanya dari sudut pandang remaja, dan mampu menggambarkan remaja tersebut sebagaimana remaja yang seharusnya. Masih belum mengerti? Yang kumaksudkan adalah: remaja di sini amat, sangat, normal.

Age-of-Miracles-art

Di buku ini, tidak ada remaja yang mampu menembak zombie dari jarak dua puluh meter. Tak ada remaja yang memimpin sebuah kelompok perlawanan menghadapi batalyon Daemon. Tak ada remaja yang mendadak memiliki kekuatan sihir. Yap, seandainya saja segala tema apocalypse di buku ini dilucuti, buku ini dapat berdiri sendiri sebagai cerita remaja biasa. Namun, tema apocalypse-nya ada, dan sangat kuat, dan tokoh utamanya bertingkah sebagaimana remaja pada umumnya kalau menghadapi ‘kiamat’: Panik. Takut. Khawatir. Mati Rasa. Dan Takut lagi. Namun, ada secercah harapan juga di dalamnya. Dan kepasrahan seluruh umat manusia, ketidakmampuan kita untuk melakukan apa-apa…

Tetapi di antara artefak-artefak yang tidak akan pernah ditemukan – di antara benda-benda yang akan hancur lama sebelum seseorang dari suatu tempat tiba – ada sepetak trotoar di jalanan California. Pernah, pada satu siang yang gelap di musim panas, pada penghujung tahun perlambatan yang menyusut, dua anak berlutut bersama di tanah yang dingin. Kami mencelupkan jari-jari di semen yang basah, dan menulis hal yang paling jujur, sederhana – nama kami, tanggal, dan kata-kata ini: Kami pernah ada di sini.

Membaca buku ini, dikelilingi oleh pepohonan, hutan, dan pegunungan, tanpa sambungan internet dan teknologi lainnya, mampu membuatku berintrospeksi. Mengenai betapa lemahnya kita, betapa ringkihnya kehidupan kita ini. Sekali dorong, dan segalanya akan runtuh. Untuk apa kita bersombong hati? Untuk apa kita berbangga, berfoya-foya ria? Kenapa kita tidak menghabiskan seumur hidup kita untuk berusaha berguna, dan bermanfaat, bagi sesama alih-alih meledakkan dan menembaki satu sama lain dengan butiran timah panas serta serpihan logam tajam?

Satu hal yang sangat kusayangkan – tapi, di sisi lain, juga kukagumi – adalah buku ini tidak benar-benar memberi ending. Mungkin memang itu keinginan penulisnya: untuk memberi sedikit sentuhan realistis. Karena bagaimana kita bisa menemukan closure dari ‘kiamat’? Cerita-cerita yang lebih gagah berani menampilkan para pahlawan yang berjuang mencegah hancurnya dunia. Beberapa dari mereka berhasil. Banyak dari mereka yang gagal. Dalam buku ini, tidak ada pahlawan – hanya ada kita, umat manusia, mencoba bertahan hidup dengan saling berpegangan tangan hingga akhir.

Dan terakhir: aku nggak tahu buku ini masih ada di Gramed atau enggak. Soalnya, terakhir kucek, sudah tidak ada di Bogor. Sayang sekali, padahal aku mau membeli satu eksemplar lagi untuk adikku. Mungkin saking lakunya?

Yang jelas, buku ini keren.

 

Mimpi-Mimpi Einstein


MMEAdalah buku sastra pertama yang kubaca. Pertama kali kukecap halaman demi halamannya saat aku masih SMP, di rumah seorang saudara sepupu jauh di kampung halaman. Buku tersebut teronggok di lemarinya, tampak terlantar dan tak terbaca.

Aku merasa tertarik dengan sampunya, dan ketipisannya, karena di masa-masa itu satu-satunya buku yang sangat kukenal hanyalah Harry Potter dan gaya sampulnya yang sangat ilustratif serta ketebalannya yang cukup tinggi. Buku Mimpi-Mimpi Einstein sangat tipis, ringan, dan aku membacanya dengan cepat. Dari persentuhan pertamaku dengannya, terbentuk kesan unik yang sulit untuk dilupakan. Gaya bahasanya, ceritanya, kisah-kisahnya, benar-benar membuat kepalaku pusing, campur-aduk, sekaligus terperangah.

Nyaris sepuluh tahun kemudian, aku bertemu dengannya lagi di sebuah toko buku di kota tempatku berkuliah. Dengan pengalaman membaca yang sudah lebih tinggi, aku membukanya kembali, dan kesan tersebut pun tiba lagi, kali ini dalam dosis yang jauh lebih besar.

Simply put: it blows my mind.

Mimpi-Mimpi Einstein, sebenarnya, tidak bisa benar-benar dikategorikan sebagai novel meski tulisan ‘Novel’ benar-benar tercantum – secara harafiah – kovernya. Membacanya lagi, aku yakin buku ini lebih tepat dianggap seperti fiksi jurnal mimpi – atau mungkin jurnal mimpi fiktif. Seperti itulah. Alan Lightman, penulisnya, membukanya dengan kisah Einstein muda yang bergulat dengan kegamangannya, kegalauannya, kehidupannya sehari-hari, sekaligus kejeniusannya sebagai perumus teori relativitas. Ditambah, ia merasa kebingungan dengan mimpi-mimpi yang selama beberapa bulan terakhir – sebelum novel dimulai – yang mengganggunya. Mimpi-mimpi apa yang ia alami? Oh, mimpi mengenai waktu.

Mimpi-mimpi itu mengganggu penelitiannya. Mimpi-mimpi itu sangat melelahkan, hingga terkadang ia tidak tahu apakah ia sedang tidur atau terjaga. Namun, mimpi-mimpi itu sekarang telah berakhir. Dari beberapa kemungkinan bentuk waktu yang terbayang di malam-malam itu, ada satu yang tampak meyakinkan. Tapi, tidak berarti mimpi-mimpi yang lain mustahil. Yang lain itu mungkin terjadi di dunia-dunia lain.

Setelah itu, per chapter ditandai dengan tanggal, seolah cerita pada chapter itu adalah mimpi yang terjadi pada tanggal yang disebut. Setiap cerita menampilkan mimpi-mimpi yang aneh, ganjil, mengenai waktu. Ada yang menuliskan dunia-dunia dengan versi waktu yang benar-benar berbeda, sangat imajinatif.

Suatu ketika di masa silam, ilmuwan menemukan satu kenyataan bahwa waktu berjalan lebih lambat di tempat yang jauh dari pusat bumi. Efeknya memang sangat kecil, tetapi bisa diukur dengan alat-alat yang sangat sensitif. Ketika fenomena ini diketahui, sejumlah orang yang ingin awet muda berpindah ke gunung-gunung. Kini semua rumah berdiri di atas Dom, Matterhorn, Monte Rosa, dan dataran tinggi lainnya. Adalah mustahil menjual pemukiman di tempat lain.

Beberapa lagi bisa termasuk dalam kategori ‘benar-benar gila’, atau ‘super imajinatif’.

Dunia akan berakhir pada 26 September 1907. Semua orang tahu itu.

Di Berne, seperti di kota-kota besar dan kecil, satu tahun sebelum dunia berakhir sekolah-sekolah ditutup. Mengapa harus belajar demi masa depan yang tak berumur panjang? Anak-anak yang gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya bermain petak umpet di lorong-lorong di Kramgasse, berlarian menuju Aastrasse dan melemparkan batu-batu ke sungai, menghabiskan uang jajan untuk permen dan gulali. Orangtua membiarkan saja apa yang mereka mau.

WP_20130924 1 (1)Sebenarnya, sangat mudah untuk merasa bosan, atau bingung, atau mengangkat alis tinggi-tinggi dalam buku ini. Bagaimana tidak, seluruh cerita-cerita di dalamnya sangat imajinatif, sangat fantastikal, downright crazy in most. Namun, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir, narasi yang hidup, dan sangat ilustratif. Penggambaran suasana Jerman tempat Einstein menjalani masa mudanya dilakukan dengan sangat baik. Jempol besar untuk penulis, Alan Lightman, dan juga untuk penerjemah buku ini, Yusi Avianto Pareanom. Tanpa kemampuan berbahasa yang baik, buku ini pasti akan hancur lebur.

Ditambah, buku ini dengan cerdas menghubungkan dunia fantasi dari mimpi-mimpi tersebut dengan dunia di masa kini. Beberapa dengan sukses membuat hati terenyuh, dan beberapa mengingatkan kita tentang pengaruh kekuasaan – dan kebodohan – pada diri kita.

Hidup adalah jambangan kesedihan, tapi adalah lebih terhormat untuk menjalaninya. Tanpa waktu tak akan ada kehidupan. Yang lain tak setuju. Mereka lebih memilih kebahagiaan yang abadi. Tak penting bahwa keabadian itu kaku dan beku laksana kupu-kupu yang diawetkan dalam suatu kotak.

[…]

Beberapa orang memutuskan untuk sama sekali berhenti membaca. Mereka meninggalkan masa lalu. Apa pun yang terjadi di hari kemarin, kaya atau miskin, terpelajar atau bodoh, congkak atau rendah hati, pernah kasmaran atau patah hati, tak lebih dari angin lembut yang menari-narikan rambut mereka, Merekalah orang-orang yang menatap tajam pada mata kita dan menggenggam tangan kita erat-erat. Merekalah orang-orang yang melepas kemudaan dengan langkah tanpa beban.

Dan masih banyak lagi hal-hal dalam buku ini, jurnal mimpi ini, yang membuat hatiku terketuk.

WP_20130924 2 (1)Buku Mimpi-Mimpi Einstein dapat dibeli di toko buku gramedia terdekat! Segera cari, sangat pas untuk kita-kita yang hidup dalam kejaran waktu dan membutuhkan renungan, sekaligus sastra, yang ringan dan tepat sasaran.