Baca Hujan, Triwulan Satu


Triwulan PertamaTerhitung dari postingan pertama blog ini, sudah tiga bulan Baca Hujan berjalan. Tiga bulan, empat minggu, satu buku tiap minggunya: satu triwulan ditandai dengan sudah adanya dua belas buku saya ulas, pajang, dan promosikan di sini. Dua belas buku bacaan favorit saya, dari berbagai genre.

Oleh karena itu, untuk memperingati tiga bulan berjalannya Baca Hujan, saya akan melakukan sedikit ulasan singkat tentang keduabelas buku yang sudah saya ulas di sini. Diurut dari yang paling lama diposting hingga yang paling baru, dan lengkap dengan link ke masing-masing postingan ulasan.


1. Ender’s GameOrson Scott Card

Baru saja dijadikan film layar lebar, Ender’s Game membawa kita mengikuti kisah Ender Wiggin, seorang anak laki-laki jenius yang direkrut oleh pemerintah di masa depan dan dilatih untuk menjadi pemimpin pasukan perlawanan terhadap invasi Alien bersama dengan anak-anak jenius lainnya dari seluruh dunia. Sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

2. Mimpi-Mimpi EinsteinAlan Lightman

Separuh memoir separuh kumpulan jurnal mimpi, Mimpi-Mimpi Einstein berisikan tulisan-tulisan karya Alan Lightman mengenai gagasan-gagasan Einstein akan ruang dan waktu. Setiap bab adalah sebuah dunia dengan keunikan-keunikannya tersendiri, namun begitu familiar dan dekat dengan kita hingga terasa sangat nyata dan retrospektif.

3. The Age of MiraclesKaren Thompson Walker

Novel remaja yang sangat dewasa, fantastik sekaligus realistis, The Age of Miracles mengisahkan dunia yang kehilangan rotasinya. Malam dan siang terentang menjadi lebih panjang. Di tengah-tengah hancurnya peradaban, seorang remaja perempuan berefleksi pada segala perubahan yang ada – baik pada dunia, masyarakat, sekolah, teman-temannya, keluarganya, hingga dirinya sendiri.

4. Samudra di Ujung Jalan SetapakNeil Gaiman

Sebuah novel untuk anak-anak dalam diri setiap orang dewasa, Samudra di Ujung Jalan Setapak mengantarkan pembaca ke dalam dunia kanak-kanak, penuh dengan fantasi, alegori, metafor, dan imajinasi. Atau, benarkah mereka imajinasi? Jalan setapak yang dulu kita lalui, yang kita percaya mengantarkan kita ke istana naga? Ingatan tentang seorang anak perempuan yang mengaku kolam di rumahnya adalah Samudra?

5. EdensorAndrea Hirata

Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang legendaris, Edensor mengisahkan perjalanan Ikal dan Arai saat berkuliah dan backpacking di Eropa. Nuansa Paris yang nikmat, Eropa yang beragam, pergaulan dan budaya yang berbeda, begitu menyentuh dalam kisah ini.

6. Vader’s Little PrincessJeffrey Brown

Sebuah fan-work dari Mr. Brown, Vader’s Little Princess membayangkan sebuah dunia di masa lalu di galaksi yang sangat, amat jauh, di mana Mr. Vader membesarkan Leia, putrinya. Menguasai seluruh galaksi, pesawat sebesar bulan, dan menghancurkan planet-planet pemberontak? Nanti dulu, karena Darth Vader harus mengantarkan Leia kecil ke sekolah.

7. The 13 ClocksJames Thurber

Novel ringan, ilustratif, dengan cerita sederhana dan didesain untuk dibaca segala usia – terutama anak-anak? Menggabungkan unsur fantasi, middle-age, sekaligus semi-fiksi ilmiah? Dengan unsur konspirasi a la kerajaan dan ksatria yang tidak klise? Silakan baca ini. Tersedia gratis untuk diunduh lho.

8. CarrieStephen King

Master genre horror Stephen King pernah berkata bahwa Carrie bukanlah karya yang ia banggakan, namun kisah seorang gadis dengan kemampuan telepati a la Jean Grey serta semi-biblical force ini telah diadaptasi ke dalam tiga film layar kaca dan memiliki fans mengglobal. Nikmati horrornya, dan betapa dekatnya kisah ini dengan aroma remaja masa kini.

9. Magical Game Time Vol. 1Zac Gorman

Senang main video game? Pernah bertualang di dunianya Zelda, Mario, Sonic, dan banyak permainan konsol lainnya? Menikmati Final Fantasy? Magical Game Time Vol. 1 adalah kumpulan karya-karya Zac Gorman; komik-komik, ilustrasi, dengan tema game. Kocak, sedih, dan keren sekaligus dalam satu buku!

10. Catching FireSuzanne Collins

Protagonis yang mandiri, kuat, jago memanah, namun tetap erat dengan jati dirinya sebagai perempuan? Sebuah TV Show a la Battle Royale yang diselenggarakan pemerintah korup? Distopia, dan konspirasi? Plus kisah cinta segitiga yang benar-benar mengena, membuat buku ini layak menjadi sekuel yang sangat kuat dari The Hunger Games.

11. SteelheartBrandon Sanderson

Sepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya misterius muncul di langit. Orang-orang tertentu mulai mendapatkan kekuatan super di saat bersamaan, dan masyarakat – manusia biasa – menamai mereka Epics. Twist: tak ada superhero. Semuanya supervillain.

12. The Amulet of SamarkandJonathan Stroud

Sesuatu terjadi di masa lalu, sesuatu yang membuat para penyihir, alih-alih bersembunyi dari manusia biasa, justru mengambil alih pemerintahan dan membangun peradaban. Di dunia Nathaniel, para penyihir memerintah kerajaan Inggris. Twist: tidak ada tongkat sihir. Setiap penyihir membutuhkan jin untuk bisa menyihir.


Lalu, karena pada peringatan Triwulan ini saya tidak akan memposting ulasan buku, sebagai gantinya saya akan ulas sebuah cerita pendek yang sangat menarik yang saya temukan. Jadi, ini dia:

A Study in Emerald by Neil Gaiman

-o0o-

A Study in Emerald

Cerita pendek satu ini bisa dibilang semacam crossover antara Sherlock Holmes dengan Lovecraft. Dari judulnya saja bisa dibilang sudah hampir ketahuan ‘kan? A Study in Emerald dengan A Study in Scarletsalah satu kisah penyidikan legendaris Sherlock Holmes karyanya Sir Arthur Conan Doyle. Tapi, mungkin ada yang bertanya-tanya: Lovecraft itu apa ya? Atau siapa? Nah, silakan bisa dibaca dulu mengenai beliau di sini.

Mengenai ceritanya sendiri, bisa dibilang, nggak bakal seru lagi kalau saya beritahu meski hanya sedikit saja ceritanya di sini. Serius. Membaca A Study in Emerald, saya dapat feel-nya karena kagetnya. ‘Wah’-nya. Awalnya saya kira begini, lanjutnya ternyata begitu. Perasaan saya dibolak-balik dicampur-aduk sampai kaya blender. Pokoknya ‘Wah’ karena saya tidak tahu, tidak menduga. Jadinya seram juga.

So… simply, I’d say, save the surprise for the time when you’re reading it.

Cerita pendek ini bisa dibaca gratis di sini. Mr. Gaiman juga memiliki banyak koleksi cerita pendek lainnya yang bisa dibaca di situs resmi beliau. Tepatnya di sini. Selamat membaca!

Iklan

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus Trilogy #1)


Amulet of SamarkandAlkisah, sesuatu terjadi di masa lampau. Sesuatu yang membuat penyihir berjalan dengan leluasa di dunia dan membaur dengan masyarakat. Sihir dan jampi-jampi diterima di kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang biasa. Di dunia seperti ini, Inggris dikuasai oleh penyihir-penyihir sakti, dan Nathaniel, seorang anak laki-laki, dijual oleh orangtuanya kepada pemerintah untuk menjadi murid penyihir di bawah bimbingan Arthur Underwood, seorang penyihir kelas menengah di pemerintahan Inggris.

Suatu hari, karena sebuah insiden, Nathaniel dipermalukan oleh seorang penyihir kelas atas bernama Simon Lovelace. Bertekad untuk membalas dendam, ia mempelajari sihir sedalam-dalamnya, berjuang menguasai sihir-sihir bahkan di usianya yang masih belia. Akhirnya, ia berhasil memanggil seorang Djinn bernama Bartimaeus, yang konon berusia lebih dari 5000 tahun, untuk mencuri sebuah amulet dari Simon Lovelace. Tindakan sederhana tersebut membuat Nathaniel terjebak dalam jaring-jaring kriminal, politik, dan persaingan sihir di jajaran kerajaan Inggris.

Di saat bersamaan, sebuah gerakan pemberontak jalanan telah bangkit.

***

Pertama kali aku menemukan novel ini, tergeletak di toko buku lokal, adalah saat aku masih SMA. Saat itu, aku masih terlalu gandrung dengan Harry Potter untuk melirik novel-novel fantasi lainnya, apalagi yang kedengarannya terlalu sejenis (bukan salahku. Waktu itu ada film di TV Indonesia berjudul Heri Putret. Atau Heri Potret. Whatever. Bagaimana pun, setiap kali mengingatnya, aku selalu merasa malu sendiri). Jadi, aku rada gerah kalau nemu novel, terus baca summary-nya di bagian belakang, dan mendapati isinya terlalu mirip serial favoritku itu.

Itu dulu.

Tahun kemarin, setelah mendapatkan tablet dan bisa membeli eBook dengan sesuka hati, aku menemukan kembali novel ini dan membelinya. Hasilnya, ternyata, isi ceritanya jauh dari dugaanku.

One magician demanded I show him an image of the love of his life. I rustled up a mirror.

Ada beberapa kesamaan, pastinya, antara Bartimaeus Trilogy – dalam hal ini adalah The Amulet of Samarkand – dengan Harry Potter. Kedua-duanya sama-sama menceritakan mengenai penyihir, kedua-duanya sama-sama ber-setting di Inggris. Tapi, melalui buku ini, untuk pertama kalinya aku mengenal yang namanya hard magic system.

Apa itu hard magic system? Artinya adalah sistem sihir yang kaku, strict, dengan aturan-aturan dan logika yang menyerupai ilmiah. Ini berlawanan dengan soft magic system seperti pada Harry Potter, yang satu-satunya aturan adalah mantra (itupun di buku-buku selanjutnya ada yang namanya non-verbal spells, jadi nggak perlu mengucapkan mantra) dan ayunan tangan (tidak juga, di buku-buku selanjutnya orang meluncurkan mantra-mantra bisa seenak hati dari posisi tangan mana pun). Jadi, sistem sihirnya nggak kaku. Tidak seperti The Amulet of Samarkand.

Di The Amulet of Samarkand, supaya seorang penyihir bisa menyihir, ia harus memanggil jin. Yups, benar-benar memanggil jin dengan lingkaran pemanggil, pentagram/heksagram, mantra, ucapan tertentu, dst. Tanpa melakukannya, penyihir takkan bisa menyihir. Sesederhana itu, namun krusial. Di satu bab, kita bisa melihat bagaimana penyihir yang tidak sempat memanggil jinnya terbunuh, dan penyihir yang jinnya kalah kuat terbunuh juga. Semakin ahli penyihir dalam menggambar lingkaran dan jampi-jampi, ia bisa memanggil dan mengendalikan jin yang semakin kuat. Dan semakin kuat jin yang dipanggil, semakin sakti-lah penyihir tersebut.

Dan, di cerita ini, protagonis kita, seorang penyihir muda yang masih belajar di bawah bimbingan Master-nya, berhasil memanggil Bartimaeus: seorang jin berusia 5000 tahun lebih.

Jabor finally appeared at the top of the stairs, sparks of flame radiating from his body and igniting the fabric of the house around him. He caught sight of the boy, reached out his hand and stepped forward.

And banged his head nicely on the low-slung attic door.

Salah satu hal yang membuat The Amulet of Samarkand bersinar adalah karakternya. Setiap tokoh di The Amulet of Samarkand, bahkan para jinnya, terasa hidup. Mereka memiliki kelemahan, mereka memiliki kekurangan. Dan mereka semua cool. 

Selain itu, ceritanya cukup ramai: ada konspirasi, ada kisah balas dendam, kisah cinta, kisah belajar sihir, kisah penebusan dosa dan kesalahan, dan masih banyak lagi. Dan, yang paling utama, sistem sihirnya ngepas dengan ceritanya. Benar-benar sesuai.

Source: Myluckyseven.net

Source: Myluckyseven.net

Terus, satu hal yang kusadari, adalah bahwa sistem sihir seperti ini sebenarnya tidak asing: kita menjumpainya di perdukunan di Indonesia, ‘kan? Memanggil jin, memanfaatkan mereka untuk melakukan hal-hal kotor kita, dan banyak lagi. Mungkin Mr. Jonathan Stroud pernah datang ke sini, melihat bagaimana dukun bekerja, dan memutuskan untuk membuat novel berdasarkan hal tersebut?

Yang jelas, buku ini superb.

Steelheart


SteelheartSepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya yang disebut ‘Calamity’ muncul di langit. Saat yang sama, manusia-manusia mulai mendapatkan kekuatan super. Publik menyebut mereka sebagai ‘Epics’, dan banyak dari mereka memberi reaksi (standar) manusia saat mendapati superhumans berjalan bersama mereka: kagum, takjub, takut, ngeri, dan berharap.

Namun, ada satu masalah: seluruh Epics adalah penjahat. Ya, di dunia yang baru ini, tidak ada superhero. Only supervillains ruled. Di sebuah kota yang dulunya adalah Chicago, seorang Epics berkuasa dengan tangan besi. Seorang Epics bernama Steelheart, dengan kemampuan mengubah barang apapun menjadi baja, menembakkan energi dari telapak tangan, dan tak bisa dilukai oleh peluru, meriam, rudal, pedang, pisau, atau senjata apa pun yang dikenal. Epics merajai jalanan, dan manusia biasa mati-matian mencoba hidup dalam rezim yang baru tersebut. Tak ada yang melawan. Tak ada, kecuali para Reckoners.

Dan seorang pemuda bernama David ingin bergabung. Bertahun-tahun sebelumnya, ia telah menyaksikan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang banyak orang mengira mustahil: ia melihat Steelheart terluka. Dia memiliki rahasia untuk mengalahkan Steelheart, dan dia ingin membalas dendam.

***

Epics had a distinct, even incredible, lack of morals or conscience. That bothered some people, on a philosophical level. Theorists, scholars. They wondered at the sheer inhumanity many Epics manifested. Did the Epics kill because Calamity chose—for whatever reason—only terrible people to gain powers? Or did they kill because such amazing power twisted a person, made them irresponsible?

Ada beberapa hal yang membuat cerita-cerita superhero seringkali gagal: pertama, kisah mereka menampilkan orang keren dengan kekuatan keren yang tentu saja tidak dimiliki pembaca-pembaca mereka yang tidak keren. Kedua, kisah mereka cliche. That’s it. Kisah yang klise bisa menjadi bagus, namun sangat mudah diprediksi.

Untungnya, hal yang sama tidak terjadi pada Steelheart. Dengan cerdas Mr. Sanderson meramu buku ini menjadi sesuatu yang klise tapi tidak mudah diprediksi. Sebagai awal mula, sebagaimana yang sudah saya tuliskan di atas, there are no heroes. Para jagoan kita, para tokoh protagonis, adalah manusia biasa yang memiliki tekad kuat untuk membasmi para Epics. Caranya? Dengan membunuh, tentu saja. Setiap Epics memiliki kelemahan, dan jika kelemahan tersebut berhasil diketahui, maka ia bisa dibunuh. Kelemahannya bisa apa saja, dari takut pada semut hingga kekuatan yang hilang jika sedang berciuman, tapi mereka semua memiliki satu.

Dan tahukah? Satu-satunya cara para Reckoners untuk bisa mengetahui kelemahan tersebut adalah dengan mengamati para Epics. Meneliti. Mencari tahu. Knowledge is power, after all.

Maka, saat David, seorang pemuda yang pernah bertatap muka dengan Steelheart jauh di masa lalu, yang pernah menyaksikan ayahnya, seorang pria biasa yang kebetulan berada di Bank, melukai Steelheart, para Reckoners mau tak mau mendengarkan ceritanya. Dan misi terbesar untuk mereka pun dimulai: menjatuhkan Steels dengan kekuatan layaknya gabungan Superman dan Black Adam.

Setiap tokoh di cerita ini mendapatkan suara mereka. Itu yang kusenang dari cerita ini: setiap tokoh memiliki kehidupan, jiwa, tersendiri. Tidak ada tokoh yang kosong, kecuali (yang sangat disayangkan) para Epics sendiri. Karena mereka digambarkan sebagai pure evil, pure brutality, rasanya saya tak bisa memahami mereka. Namun mungkin itulah inti cerita ini: sebuah kisah klasik-klise, pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan. Putih melawan hitam. Manusia melawan monster. Klise. Tapi seru.

Fan art by ArchetypeAngel

Steelheart. Fan art by ArchetypeAngel

Setiap babnya memiliki cliffhanger dalam skala epik: tak mungkin rasanya meletakkan buku ini sebelum selesai membacanya. Narasinya luar biasa, sangat mengalir, mengingatkan saya kepada Harry Potter yang legendaris. Tambahkan dengan alur yang berbelok sana-sini, tidak bisa ditebak, tapi masuk akal. 

Hasilnya? Sangat bagus sebagai buku pertama dalam trilogi Reckoners yang baru dari Brandon Sanderson. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, masih banyak bagian dari dunia yang baru ini untuk dibahas, tapi mengingat reputasi Brandon Sanderson sebagai pengarang Mistborn Trilogy, penutup Wheel of Time series dengan A Memory of Light, dan banyak lagi serial-serial karangannya, saya yakin cerita yang akan diberikan nantinya akan jauh lebih banyak juga.

Tersulut – Catching Fire


Catching Fire (The Hunger Games #2) (Movie tie-in)The Hunger Games. Serial yang menampilkan ulang Battle Royale untuk para pembaca remaja. Itulah kesan yang ditampilkan oleh novel pertamanya, sebelum Catching Fire tiba, sebuah sekuel yang mengubah The Hunger Games dan menjadikannya lebih kuat lagi.

Cerita dimulai dengan Katniss, yang memenangkan The Hunger Games ke-74 bersama Peeta Melark, kembali ke Distrik 12 dan mencoba menjalani kehidupan normal. Alas, tidak ada kehidupan normal untuk para pemenang The Hunger Games. Ia kini seorang figur publik berkat aksinya menjelang akhir permainan beberapa bulan sebelumnya, dan lebih daripada yang diinginkan siapa pun, ia menjadi sangat terkenal.

Orang-orang di distrik lain menganggapnya sebagai simbol pemberontakan terhadap Capitol, terhadap sistem diktatorial yang telah melingkupi Negara Panem selama 70 tahun lebih. Begitu hebatnya popularitas sosok dirinya hingga Presiden Snow, Sang Diktator harus turun tangan, menemui Katniss dan mengancamnya agar ia bisa meredam pemberontakan di distrik-distrik dalam Tur Pemenang yang dia lakukan bersama Peeta.

Bagaimana ia bisa melakukannya? Tentu dengan menjadi pengalih perhatian. Ia dan Peeta menonjolkan ‘sandiwara’ cinta mereka kepada masyarakat, ‘berpura-pura’ akan menikah, mencoba mengambil hati rakyat dengan kisah cinta remaja yang manis. Hasilnya? Tentu saja dia gagal.

…no, seriously. Seberapa putus asanya mereka sampai bisa berpikir untuk meredam semangat pemberontakan dengan mempertontonkan kisah cinta pasangan remaja yang nyata-nyata digenggam nasibnya oleh pemerintah? Bahkan masyarakat distrik pun tahu akan ‘sandiwara’ tersebut. Keributan terus menyebar dimana-mana

Sementara itu, jarum terus berputar, Tur Kemenangan usai, dan ancaman-ancaman baru menanti di Distrik 12. Hidup semakin tidak aman, baik bagi Katniss, keluarganya, dan penduduk di kotanya. Sementara itu, The Hunger Games ke-75 kian mendekat. Dan untuk kali ini, ada kejutan besar yang menanti, dan tidak hanya untuk Katniss, tapi juga untuk Peeta, Haymitch, dan para pemenang The Hunger Games sebelumnya.

Burung, pin, lagu, buah berry, jam, biskuit, gaun yang terbakar. Akulah mockingjay. Orang yang selamat dari rencana-rencana jahat Capitol. Lambang pemberontakan.

Sekali lagi, Catching Fire dengan sukses membabat habis kesan-kesan yang ditonjolkan oleh buku pertamanya. Dengan novel ini, Suzanne Collins menunjukkan bahwa, bukan, ini bukan mengenai Battle Royale-nya. Unsur tersebut ada, ya, tapi hanya bayang-bayang dari sosok yang sesungguhnya, inti serial ini yang sebenarnya. Dan apa, intinya, sesungguhnya?

Jawabannya ada di halaman demi halaman Catching Fire. Kita mendapatkan expanded universe, detailed history, more character depth, dan konspirasi sekaligus. Mrs. Collins melukiskan sebuah negara yang begitu kaku, daerah-daerah yang miskin, sumberdaya yang dikuras habis,  dan orang-orang kaya serta berpendidikan di ibukota yang dihibur setiap saat oleh teknologi, acara TV, dan kenyamanan-kenyamanan lainnya.

Familiar? Mungkin karena kondisi tersebut tak jauh berbeda dari yang kita lihat sehari-hari. Beberapa perbedaannya hanyalah waktu (latar cerita ini adalah ratusan tahun di masa depan), tempat, dan pelaku. Dan adanya The Hunger Games sebagai alat untuk menakut-nakuti masyarakat non-Capitol.

Karena aku egois. Aku pengecut. Aku adalah tipe gadis yang ketika dibutuhkan malah bakalan lari menyelamatkan diri dan meninggalkan semua orang yang tidak bisa mengikutinya untuk menderita dan mati.

Inilah gadis yang ditemui Gale di hutan hari ini. Tidak heran kalau aku memenangkan Hunger Games. Tidak ada orang yang berperikemanusiaan yang bisa menang.

Salah satu segi lainnya yang unik dari Catching Fire, atau dari serial The Hunger Games secara keseluruhan, adalah fakta bahwa tokoh protagonisnya bukanlah pahlawan. Ini sangat menarik. Serial ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca bisa melihat kisah ini langsung dari mata Katniss. Banyak cerita-cerita Young-Adult, Fantasy/Sci-Fi lain yang seperti ini, namun di buku ini pembaca dapat benar-benar membaca bagaimana rasanya membaca kisah sejenis ini (dystopia, conspiracy, dll.) tidak dari sudut pandang seorang pahlawannya.

Jangan salah – Katniss menjadi tokoh pemberontakan, berkat apa yang telah ia lakukan. Namun, dari sudut pandangnya, dia tidak melakukan itu semua untuk memberontak. Dia hanya berusaha bertahan hidup, menyelamatkan dirinya dan orang-orang terdekatnya. Dia berusaha tidak mengganggu ‘orang-orang atas’, mengguncangkan pemerintahan, apalagi menjatuhkannya. Baca: dia hanyalah gadis biasa. Gadis biasa yang memiliki kemampuan memanah sangat baik, ya, tapi benar-benar gadis biasa. Dia ‘dipaksa’ untuk menjadi simbol. Mereka semua berusaha memanfaatkannya.

Banyak yang harus kucerna dalam cerita ini, dalam rencana rumit yang menjadikanku sebagai pion, seperti halnya aku menjadi pion dalam Hunger Games. Dimanfaatkan tanpa izin, tanpa tahu apa-apa.

Setidaknya, dalam Hunger Games, aku tahu aku sedang dijadikan mainan.

Reluctant heroes, atau bahkan manipulated heroes, selalu menjadi sesuatu yang istimewa. Tidak seperti para pahlawan di kisah-kisah yang biasa, yang tradisional, yang senantiasa mencerminkan kebaikan, perjuangan untuk orang banyak, rela mengorbankan diri, dsb., protagonis dalam kisah-kisah seperti Catching Fire memberi kita gambaran mengenai bagaimana orang-orang biasa – sebagian besar anak-anak muda – yang memiliki kemampuan, pengaruh, namun tidak mendukung adanya ‘revolusi’ dimanfaatkan oleh para penguasa. Mereka masih lugu, masih tidak tahu apa-apa, dan begitu mudah untuk digerakkan. Mirip dengan yang ada di kehidupan nyata.

Mirip dengan rombongan anak muda yang digerakkan untuk mendemo pemerintahnya, atau untuk mendemo balik para pendemo. Bentrokan terjadi, dan para penguasa yang mengangguk-angguk puas.

Namun, di atas semua manipulasi, konspirasi, dan segala permainan para penguasa tersebut, yang  jauh lebih menarik lagi adalah menyaksikan para protagonis tersebut mencoba untuk tetap bangkit. Untuk tetap berjuang, tetap bertahan, dan tidak menyerah. Untuk berusaha kembali menyulut semangat mereka, membakarnya, dan melangkah maju, dengan membawa seluruh kenangan para pejuang lainnya di setiap langkah mereka.

Kesimpulannya: buku ini sangat bagus. Jauh melampaui buku pertamanya, dan menjadi jembatan yang sempurna menuju buku ketiga, Mockingjay.


Catching Fire sudah dijadikan film layar lebar. Berikut trailer-nya.

Magical Game Time Vol. 1


Magical Game Time Vol 1Senang main video game? Pernah bertualang di dunianya Zelda, Mario, Sonic, dan banyak permainan konsol lainnya? Menikmati Final Fantasy? Magical Game Time Vol. 1 adalah kumpulan karya-karya Zac Gorman; komik-komik, ilustrasi, dengan tema game.

Membacanya merupakan sesuatu pengalaman tersendiri. Karena, sebenarnya, buku ini adalah fanworks. Fan piece, karya fans. Bukan ditujukan sebagai sesuatu yang ditanggapi secara benar-benar serius, tapi sesuatu yang bisa menjadi refreshing. Sesuatu yang nostalgia.

Zac Gorman juga menulis cerita-cerita di dalamnya dengan gaya yang, bisa dimilang, melodramatic. Tapi bukan dalam arti buruk: malah, memberikan sisi lain dari sebuah game untuk dilihat. Sangat menarik melihat Zelda dari segi pandang manusiawinya, mengingat kembali “Oh ya, ini dulu pernah main, pas bagian ini!” atau “Wah, bisa jadi ini yang dipikirkan tokoh utama game ini saat dulu di stage ini!”

Di beberapa bagian, dark humor-nya sangat terasa dengan kental. Beberapa benar-benar kocak dan lucu, sedangkan beberapa… terasa agak garing. Atau mungkin itu tergantung selera?

Yang jelas, semuanya terasa menarik. Apalagi saat Mr. Gorman mencoba menghubungkan antara gamer dengan game yang dimainkannya.

5

Beberapa ilustrasinya benar-benar bagus, menarik. Menginspirasi.

4

Dan ingat di atas, kusebutkan bahwa karya-karyanya di sini terasa melodramatic? Nah, bukan hanya melodramatic, menurutku beberapa bahkan mengandung pesan yang cukup berat. Tentu, itu akan tergantung persepsi setiap orang, namun sangat menarik rasanya saat kita – sebagai gamer – membaca ini dan menyadari bahwa “Oh, ya, jadi itu pesan tersiratnya!”

6

Magical Game Time: Vol. 1 dapat dibeli dalam bentuk hardcopy melalui website resminya Zac Gorman. Tapi, kalau tidak punya cukup uang (dan ingin menghindari pembelian online interlokal), bisa juga dengan mendapatkan PDF-nya – seperti yang kulakukan – dengan menyumbang kepadanya di sini.

Dan yang terakhir, kalau tidak bisa juga, teman-teman masih dapat membaca karya-karya Zac Gorman di blognya, Magical Game Time. Karena sesungguhnya buku ini adalah kumpulan fanworks karyanya, jadi, menurutku tak rugi. 🙂

PS: kalau di blognya, sebagian besar karyanya ada dalam format .GIF! Dan menurutku GIF-nya justru bagus-bagus sekali!

Carrie


CarrieSalah satu karya klasik, Carrie adalah buku pertama Stephen King yang kubaca saat SMP. Aku masih ingat, buku ini tergeletak di salah satu sudut perpustakaan yang memuat buku-buku berbahasa inggris. Tak ada yang mau membacanya, karena, apa boleh buat, di SMP-ku saat itu bahasa inggris belum begitu populer.

Carrie White, tokoh utama kisah ini, adalah gadis remaja yang memiliki seorang ibu religius fanatik. Ia tidak populer, dan seringkali menjadi korban ejekan, bully, karena ia dianggap mirip seperti ibunya: fanatik. Carrie sendiri hanya ingin menjadi gadis normal, tidak diejek, melirik cowok, berangan-angan bisa ikut pesta dansa, dan seterusnya.

Suatu hari, setelah rangkaian kejadian rumit, seorang temannya – merasa menyesal karena perbuatannya pada Carrie – meminta pacarnya untuk mengajak Carrie ke pesta dansa. Di saat bersamaan, seorang gadis lain dan kawan-kawannya berniat membuat Carrie menderita atas kesulitan yang telah diakibatkannya.

Kupikir ia tidak tahu ada hal seperti haid hingga setengah jam yang lalu.

Carrie adalah persentuhan pertamaku dengan hal-hal mengenai… kewanitaan. Bisa dibilang seperti itu. Sebagai cowok ABG yang hidupnya cuma di kalangan cowok-cowok ABG lainnya, membaca buku ini memberikan – sedikit banyak – pembukaan wawasan untukku. Aku menjadi bisa mengerti mengapa  cewek-cewek ABG lainnya, di SMP dan SMA, bertingkah yang menurutku agak ganjil.

Lalu, narasinya yang blak-blakan membuatku kurang nyaman – kasarnya agak jijik – dalam membacanya. Deskripsi darah yang membuncah, membanjir, korban-korban yang berjatuhan, juga sangat detil hingga membuat mual. Namun, kukira itulah poinnya. Sembilan tahun kemudian, membaca buku ini lagi dalam versi bahasa Indonesia, aku masih merasa mual juga. Mungkin kami – para lelaki – memang seperti itu, selalu takut pada wanita dari hati yang paling dalam.

Hasil dari perkara White menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serius dan sulit. […] Bisakah kau menyalahkan fisikawan terkemuka seperti Gerald Luponet yang menyatakan bahwa semua ini hanya lelucon dan tipuan, bahkan setelah menghadapi bukti yang berlimpah seperti yang diajukan Komisi White? Karena jika Carrie White adalah kebenaran, lalu bagaimana dengan Newton?…

Banyak hal dalam buku ini menjadi perintis bagiku dalam memasuki dunia fiksi ilmiah. Yap, agak mengejutkan juga bagiku. Sebelum membaca Carrie, tidak pernah terbayang olehku ada yang namanya Telekinesis, Telepati, Pyrokinesis, dst.

Carrie membawa kita ke kehidupan remaja sehari-hari. Isinya lengkap: seorang remaja yang tidak populer dan sering di-bully, seorang remaja yang benar-benar menyesali perbuatannya dan ingin melakukan sesuatu demi menebus kesalahan, seorang cowok gentleman, seorang cewek (dan kawanannya) yang jahat, guru yang baik, kepala sekolah yang serbasalah, dan masih banyak lagi.

Hal-hal tersebut, saat itu, masih jarang diangkat: fiksi-fiksi klasik biasanya berkisar mengenai kehidupan di negara fantasi, di dunia di mana kehidupan dapat diuntai dengan cantik layaknya sutra, di tempat-tempat nun jauh, tempat kita bisa masuk ke dalamnya dan melarikan diri dari kehidupan (contoh: The Lord of the Rings, Chronicle of Narnia, 2001: Space Odyssey, Pride and Prejudice, Romeo and Juliet, etc.). Carrie merupakan salah satu perintis munculnya realistic fiction – fiksi yang mengisahkan kehidupan sekitar kita, mengurung kita dalam kenyataan – dan membombardir kita dengan kengerian yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Akibat keyakinan keagamaan pasangan White yang nyaris fanatik, Mrs. White tidak mempunyai kawan untuk menemaninya melewati masa dukanya. Dan ketika proses melahirkan dimulai tujuh bulan kemudian, ia sendirian.

Lalu, buku ini mengenalkan istilah ‘religious fanatic‘ jauh sebelum budaya pop mengangkatnya di film-film. Tahun ini, membaca Carrie lagi, aku merasa tertohok: kelompok fanatik bukan hanya ada di negara-negara jauh sana, dan mereka tak terbatas pada agama tertentu saja. Kelompok fanatik ada di TV, ada di sekitar kita, membanjiri jalan-jalan saat bulan puasa sekalipun, dan menghiasi halaman-halaman pertama surat kabar. Mereka tidak mau bertoleransi pada kita, dan kita tak mau bertoleransi pada mereka. Walhasil, tinggal menunggu seseorang untuk ‘terlecut’ – layaknya Carrie – dan membombardir dunia kita dengan kekacauan.

Tidak nyaman, ‘kan?

Padahal, tidak semua dari mereka jahat. Dan tidak semua dari mereka baik. Beberapa hanya bertindak atas apa yang mereka yakini, dan atas apa yang kita perbuat terhadap mereka. Seperti Mrs. White, maupun seperti Carrie sendiri.

Kami hanya anak-anak. Anak-anak yang mencoba melakukan yang terbaik.

– Susan Snell

Tapi, di atas itu semua, buku ini sebenarnya sederhana. Ia berkisah mengenai anak-anak, mengenai para remaja dan kehidupan mereka. Carrie, teman-teman di SMA-nya, bahkan orang-orang yang mengerjainya, hanyalah anak-anak. That hits close: membacanya lagi sekarang, aku ingat bagaimana dulu saat masih SMP dan SMA. Menjadi remaja, yang bingung, yang kaget, yang terpana-pana atas perubahan yang ada dan berusaha sekuat tenaga menyesuaikan diri, menonjol, menjadi yang terbaik. Atau, minimal, membaur dengan sesama.

Dan menurutku itu sangat fatal: kenyataan bahwa Carrie dan anak-anak lainnya, para korbannya, hanyalah anak-anak benar-benar fatal. Tragedi yang terjadi dalam buku ini bukan kesalahan mereka melainkan para orang-orang dewasa. Seandainya Mrs. White tidak fanatik. Seandainya guru-guru di sekolah lebih tegas. Seandainya orangtua cewek-cewek yang mem-bully Carrie bisa mengajari anak mereka lebih baik lagi. Dst.

Dan dengan umur kita yang semakin bertambah, sanggupkah kita menjadi orang dewasa yang baik?


Carrie sudah difilmkan tiga kali. Yang sekarang sedang tayang di bioskop, disutradarai oleh Kimberly Pearce dan dibintangi oleh Chloe Moretz, sudah kutonton juga. Cukup bagus, kalau menurutku. Cukup sesuai dengan jalan cerita aslinya, ide-ide dasarnya. Berikut trailernya, siapa tahu tertarik.