Cell – Stephen King


cell

  • Jenis : novel
  • Penulis : Stephen King
  • Penerbit : Simon & Schuster, Inc.
  • Tahun penerbitan : 2006
  • Format : Mass market paperback
  • ISBN : 978-1-4165-2451-9

Sebuah entry dari Stephen King untuk zombie-apocalypse genre, Cell membawa kita kepada seorang protagonis yang, pada satu hari yang cerah saat ia sedang mengantri untuk membeli es krim, menyaksikan orang-orang menjadi gila dan memakan sesama. Penyebabnya satu: The Pulse, sebuah sinyal yang entah darimana asalnya dan disebarkan ke seluruh dunia melalui jaringan seluler global. Siapa pun yang sedang menggunakan handphone, di seluruh dunia, tertransformasi menjadi kanibal ganas yang tak kenal ampun.

Atau, benarkah seperti itu yang terjadi pada mereka? Observasi lebih lanjut oleh para protagonis mengungkap bahwa para “phoners“, orang-orang yang terkena pengaruh The Pulse, sesungguhnya masih memiliki kesadaran – sebuah hive mind, yang saling terhubung satu sama lain, dan menggerakkan para phoners. Dengan peradaban yang mulai runtuh oleh para phoners, para protagonis – dipimpin oleh Clay, seorang penulis novel grafis yang mencari anak laki-lakinya – memulai perjalanan panjang menuju peradaban yang tersisa, dan orang-orang yang selamat lainnya. Mampukah mereka bertahan hidup?

-a-

Three days ago we not only ruled the earth, we had survivor’s guilt about all the other species we’d wiped out on our climb to the nirvana of round-the-clock cable news and microwave popcorn.

Salah satu novel fiksi ilmiah/horor dengan kategori post-apocalyptic pertama yang saya dengar, namun salah satu yang baru akhir-akhir ini saya baca, Cell merupakan anomali dari karya-karya Stephen King yang biasanya. Tidak ada kisah mengenai kota kecil atau lingkungan yang tertutup seperti novel-novel King yang terbaru. Alih-alih, Cell membawa pembacanya ke dalam plot yang kencang, beruntun, kejadian demi kejadian yang runut dan menusuk, dengan latar yang luas dan konflik skala global.

Sumber gambar: Joblo.com

Sumber gambar: Joblo.com

Gaya penceritaannya pun mengingatkan pada King pada masa-masa awalnya. Meski berlatar dunia yang telah runtuh, pada dasarnya, inti konflik dalam kisah ini adalah para manusia: sifat dasar keturunan Homo sapiens, spesies yang – sebagaimana dituturkan oleh Stephen King dalam Cell – merupakan makhluk paling berbahaya yang pernah ada.

Maka, pertanyaan-pertanyaan pun berlanjut: Siapa yang menciptakan The Pulse? Kenapa ia membuat semua manusia menjadi kanibal, buas, dan mengerikan? Masih adakah yang selamat? Bagaimana cara bertahan hidup di dunia yang baru ini?

-a-

What Darwin was too polite to say, my friends, is that we came to rule the earth not because we were the smartest, or even the meanest, but because we have always been the craziest, most murderous motherfuckers in the jungle.

Sebagaimana Stephen King pada biasanya, beliau tidak malu-malu dalam menggunakan narasi dan deskripsi. Gore menjamur di sana-sini, dan setiap protagonis selalu berada dalam bahaya. Siapa pun bisa mati – bahkan tokoh utama yang tampak baik, menyenangkan, dan mudah untuk disukai. Kalau ada seseorang bilang George R. R. Martin adalah penulis paling kejam, cobalah suruh dia untuk membaca novel-novelnya Stephen King. Coba lihat bagaimana pendapatnya.

Dengan kata lain, membaca novel ini perlu kebijakan lebih besar. Banyak topik-topik yang membuat tidak nyaman di dalamnya. Seks, kekerasan, psiko-horor, thriller, sebut satu per satu – perlu kehati-hatian dalam membacanya. Plotnya yang kencang, ditambah dengan penokohan yang solid, pun menambah nilai novel ini. Tak diragukan lagi, Cell – meski terkesan klise, absurd, dan kuno untuk ukuran novel post-apocalyptic genre di masa kini – merupakan kisah horor yang sangat mengena.

Rating: 4/5

Iklan

Every Dead Thing: Orang-Orang Mati


Every Dead Thing (Orang-Orang Mati)Tahun 2012 menandai tertariknya saya pada buku-buku genre crime/detective. Hal tersebut dimulai dengan membeli sebuah buku berjudul The Silence of the Lambs karya Thomas Harris. Tak jauh setelahnya, saya mulai mendalami genre tersebut lebih jauh lagi. Di antara buku-buku dari genre tersebut antara lain: Sherlock Holmes yang legendaris, Jack Reacher, John Grisham, dan masih banyak lagi.

Saya mendapati bahwa genre crime/detective cukup unik karena pada dasarnya, genre tersebut bisa dimasukkan dalam kategori misteri dengan tokoh utama seorang ‘detektif’ (saya beri tanda kutip karena pada dasarnya, meski melakukan penyidikan, tidak selalu tokoh utamanya adalah detektif a la Detective Conan atau Sherlock). Dengan demikian, genre tersebut akan mengikat pembaca dalam jalinan jaring plot yang rumit, misterius, dan sulit untuk diduga, namun bukan berarti tak bisa ditebak. Dengan menjadikan tokoh utamanya seorang penyidik – dalam hal ini, manusia biasa – crime/detective membuat penulis harus bisa sepintar-pintar mungkin membangun sebuah kasus yang sulit, tak tertebak, sembari memberikan petunjuk-petunjuk di sepanjang jalan ceritanya.

Dengan kata lain, menjelang akhir cerita, penulis harus mampu menyimpulkan segala benang-benang plot yang rumit tersebut dalam satu ikatan, sedemikian rupa sehingga pembaca dapat berkata, “Oh! Begitu rupanya!” alih-alih “Waduh? Kok bisa begitu?”

Dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Yang kita hadapi di sini sepertinya adalah pembunuhan seksual – pembunuhan seksual yang sadis.”

Every Dead Thing adalah kisah pertama dari serial Charlie Parker, seorang mantan detektif NYPD yang mengalami tragedi begitu mengerikan hingga kewarasan dan kemanusiaannya terganggu. Tanpa ampun, di bab pertama kita disuguhkan dengan penceritaan yang mengerikan mengenai tewasnya istri dan anak Charlie Parker. Ia meninggalkan keduanya untuk minum-minum di suatu malam, dan kembali ke rumah untuk mendapati keluarganya telah dikuliti oleh pembunuh berantai. Para polisi dan agensi turun tangan untuk menginvestigasi, namun selain detil-detil tambahan mengenai cara mati mereka berdua (istrinya dikuliti hidup-hidup, anaknya menyaksikan hal tersebut utuh-utuh, dst.) tak ada petunjuk lebih lanjut mengenai pelakunya selain dugaan bahwa pembunuhnya – siapa pun itu – adalah orang yang sangat sadis dan gila.

Dengan kondisi tersebut, beberapa pihak mencurigai Charlie Parker sendiri sebagai sang pelaku. Meski alibinya terbukti dan ia dinyatakan bersih, Parker mengundurkan diri dari kepolisian, berhenti minum-minum, berhenti melakukan hal-hal lainnya yang tak berguna dan memutuskan untuk mengerahkan segala daya upayanya demi menemukan pelaku sebenarnya. Petunjuk demi petunjuk ia ikuti, membawanya pada seorang dukun wanita dengan kemampuan supernatural, kelompok-kelompok mafia berbahaya, dunia bawah tanah yang kejam, dan seorang pria yang dikenal dengan sebutan Si Pengembara – The Traveler.

Kami membersihkan tanahnya hingga mayat anak itu terlihat, meringkuk seperti janin dengan kepalanya tersembunyi di balik lengan kiri. Bahkan meski sudah membusuk, kami bisa melihat jari-jarinya telah dipatahkan, meski tanpa memindahkannya aku tidak bisa yakin anak ini laki-laki atau perempuan.

Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, novel ini memiliki deskripsi yang sangat detil. Narasinya begitu tajam dan grandiose, penulis benar-benar memanfaatkan sudut pandang orang pertama dengan sangat baik. Kita akan mengikuti Charlie Parker sepanjang perjalanannya, dengan deskripsi pergantian lokasi – dari perkotaan dengan gedung-gedungnya menuju Louisiana dengan rawa-rawanya, bahkan ke sang dukun dan para pembunuh berantai lainnya – yang sangat terjabarkan. Beberapa bagiannya dijamin dapat membuat perut tidak enak, terutama apabila pembaca adalah orang yang sensitif.

Secara keseluruhan, saya dapat membagi novel ini ke dalam tiga plot utama: yang pertama adalah jatuhnya Parker, sang tokoh utama, ke dalam jurang dendam yang begitu dalam, yang membuatnya mampu untuk melakukan apa pun – bahkan membuatnya ditakuti oleh orang-orang dunia jalanan. Yang kedua adalah perjalanan Parker lebih dalam ke dunia gelap, ke dunia bawah tanah, bertemu dengan orang-orang berbahaya, termasuk seorang monster yang membunuh dan menyiksa anak-anak untuk kesenangan. Monster yang, terlepas dari segala kejahatannya, dapat memberinya petunjuk mengenai keberadaan Sang Pengelana.

Dan akhirnya, yang ketiga, adalah klimaks yang membawa Parker ke dunia mafia dan menghadapi Sang Pengembara sendiri.

“Aku minum-minum pada malam Jennifer dan Susan terbunuh. Aku minum banyak sekali, tidak hanya malam itu, tapi malam-malam yang lain juga. Aku minum karena banyak hal, karena tekanan pekerjaan, karena kegagalanku sebagai suami, sebagai ayah, dan mungkin juga hal lain, dari masa lalu. Kalau aku tidak jadi pemabuk, Susan dan Jennifer mungkin tidak akan mati. Jadi, aku berhenti. Sudah terlambat, tapi aku berhenti.”

Kompleks, rumit, panjang, tebal dan penuh kengerian, Every Dead Thing cukup mengejutkan dan mengagetkan dengan kisahnya yang amat berterus terang mengenai tragedi yang bisa terjadi pada siapa pun dari kita. Andaikata, suatu hari, kita dihadapkan dalam situasi seperti itu – pulang ke rumah dan mendapati keluarga kita telah dikuliti hidup-hidup oleh seorang psikopat – apa yang akan kita lakukan? Menjadi gila? Menjadi diam saja, berharap polisi akan menangkapnya, berdoa Tuhan akan membalasnya? Atau mungkin mencoba memaafkan siapa pun pelakunya?

Apa yang Charlie Parker hadapi banyak mengingatkan saya mengenai Bruce Wayne, yang menyaksikan orangtuanya dibunuh; kemudian tentang The Punisher, bahkan Spider-man. Mereka semua menghadapi tragedi, menemukan kekuatan darinya, dan merasakannya sebagai berkah sekaligus kutukan. Hal-hal tersebut sangat saya sukai dalam suatu cerita karena, alih-alih menyampaikan pesan moral secara langsung ataupun tidak langsung, penulis memancing debat moral, konflik diri, dari para pembaca. Menurut saya, hal tersebut masih sangat jarang dimiliki oleh penulis dalam negeri, padahal seharusnya lebih banyak lagi penulis yang mampu untuk melakukannya.

Alasannya ada dua: Di satu sisi, pembaca menjadi lebih kritis. Di sisi lain, pembaca menjadi turut bertanya-tanya sepanjang cerita, dan dengan mengikuti sang tokoh utama, kita menjadi mengerti penyebab-penyebab dia memilih untuk melakukan apa yang ia lakukan, apa landasan moralnya, di mana empatinya berada, dan bagaimana ia bisa mempertahankan kemanusiaannya dalam posisinya tersebut.

Dan aku memikirkan Lisa: gadis kecil gemuk dengan mata gelap, yang bereaksi buruk atas perceraian orangtuanya, dan mencari kedamaian dalam ajaran Kristianitas yang aneh di Meksiko, dan akhirnya kembali kepada ayahnya.

Every Dead Thing cocok dibaca oleh Anda yang menggemari Thomas Harris, James Patterson, Lee Child, hingga gore-nya Junji Ito. Lebih jauh lagi, jika Anda ingin membaca ini, siapkan mental dan perut Anda. Dan tentu saja, karena isi dari ceritanya, buku ini tidak begitu cocok untuk remaja hingga anak-anak – kecuali jika psikis mereka sudah siap.

Selamat membaca!

Penpal


PenpalCerita ini dimulai dengan protagonis kita membuka kembali peninggalan-peninggalan masa kecilnya. Sedikit demi sedikit, apa yang ia mulai sebagai nostalgia berujung pada suatu kenyataan: bahwa masa lalunya sangat ganjil. Bahwa ada sesuatu, jauh di masa lalunya, yang telah mengikuti dan menghantui masa kecilnya. Sesuatu yang mengerikan, berbahaya, dan mematikan.

Dimulai dari masa kecil protagonis, kita diperkenalkan pada sebuah kota kecil di daerah rural Amerika. Dekat dengan hutan, alam, dan nuansa yang kelabu a la Stephen King, kita menyaksikan bagaimana sang protagonis – seorang anak kecil, polos, penurut meski kadang juga nakal, pintar namun tak mencolok – tumbuh besar dan bertransisi dari masa kanak-kanak, remaja, cinta, hingga dewasa.

Dan di belakangnya tentu saja, sesuai judul buku ini, adalah seorang penpal – sahabat pena – yang, sudah bisa ditebak, tidak begitu bersahabat. Setidaknya, menurut protagonis kita dan kita yang membacanya.

-a-

Sedari awal membacanya, saya mengkategorikan novel ini sebagai classic: gaya penulisannya, penceritaannya, mengingatkan saya akan Stephen King, Dickens, dan bahkan Lovecraft serta Gaiman. Horornya terasa sejak bab pertama – dimana protagonis kita nyaris saja tewas dan mengakhiri kisah ini di selusin halaman pertama – dan makin bertambah, bereskalasi, setiap babnya.

Dari segi karakterisasi, Mr. Auerbach berhasil melakukannya dengan sangat baik – menurut saya. Protagonis kita langsung memberikan hook dari awal halaman: seorang anak, masih polos, masih lugu, masih percaya pada imajinasinya. Ia juga tak terasa asing: punya sahabat di sekolah, punya cewek yang ditaksir, dan punya orangtua yang sangat disayanginya.

Sumber: 1000Vultures

Sumber: 1000Vultures

Antagonis kita, di sisi lain, sangat menarik: kesan stalker-y yang ada pada dirinya digambarkan dengan jelas, namun di saat bersamaan Mr. Auerbach menggambarkannya sebagai sosok ethereal: gaib, berkuasa, membayang-bayang di setiap sudut. Ada aroma Lovecraftian yang kental di sini – menjelang akhir novel, saya setengah menduga bahwa ia sesungguhnya sesuatu yang jauh lebih berbahaya dibandingkan manusia biasa.

Dan mengenai ceritanya sendiri, bisa dibilang plotnya sangat mengalir. Lurus. Meski timeline – latar waktu – dalam novel ini melompat-lompat maju-mundur (sangat klasik, a la orang yang sedang menuturkan kisah masa lalunya, dengan gaya seperti yang digunakan Mr. Gaiman dalam Samudra di Ujung Jalan Setapak), ceritanya sendiri dapat diikuti dengan mudah.

Meski demikian, dalam beberapa bagian terdapat poin-poin yang agak sulit dimengerti, ilustrasi lokasi dan suasana yang kurang memadai, serta ending yang – sangat disayangkan – agak kurang menusuk. Kuat, ya, tapi terasa kurang untuk sebuah novel horor dengan hook yang sangat kuat dari halaman pertamanya seperti ini.

Sumber: 1000Vultures

Sumber: 1000Vultures

Di atas semua itu, sebagai debut perdana, novel ini jelas sangat mantap. Salut untuk Mr. Auerbach, sangat dinanti karya-karyanya yang berikutnya.


Info tambahan, novel ini merupakan adaptasi dari serial cerita horor yang beredar di internet sejak lama. Mendapatkan respon yang sangat positif dari para penggemar cerita seram, penulisnya memutuskan untuk membukukan cerita-cerita tersebut dan menerbitkannya. Serial tersebut bisa dibaca di sini.

Selamat menikmati!

Biarkan Aku Masuk (Let The Right One In)


Biarkan Aku MasukDi sebuah kota kecil bernama Blackeberg, di bawah musim dingin yang membeku, seorang anak laki-laki bernama Oskar tinggal. Orangtuanya sudah berpisah, ia hidup bersama ibunya, dan sesekali mengunjungi ayahnya. Ia hanyalah anak biasa, meski sedikit kutubuku, dan karenanya menerima berbagai macam bully dari anak-anak lain di sekolahnya.

Kadang-kadang, saat ia yakin semua orang tak melihatnya, ia menusuk-nusuk batang pohon sembari membayangkan wajah anak-anak yang mem-bully-nya.

Suatu hari, datanglah sebuah keluarga baru ke apartemennya. Keluarga tersebut terdiri dari seorang pria paruh-baya dan seorang anak perempuan remaja bernama Eli. Berdua, mereka menyewa kamar, menjadi tetangga Oskar. Oskar berkenalan dengan Eli, dan mereka mulai berteman.

Tapi, ada sesuatu yang ganjil dengan keluarga Eli. Ayahnya sering pulang-pergi malam. Eli berkeliaran di salju tanpa baju hangat. Dan di siang hari, jendela kamar Eli selalu tertutup rapat. Belum lagi serangkaian pembunuhan yang terjadi di kota tersebut, yang kian mengarahkan Oskar pada konfrontasinya dengan kenyataan-kenyataan mengerikan mengenai Eli, keluarganya, kotanya, dan dirinya sendiri.

-b-

Dari postingan saya yang sebelumnya, saya telah ungkapkan bahwa saya adalah penggemar genre horor. Saya melahap banyak novel-novel Stephen King (Doctor Sleep, novel terbarunya, sangat keren. Akan saya ulas di sini dalam waktu dekat), R. L. Stine’s Goosebumps (yang membuat saya merinding habis-habisan pas masih kecil), H. P. Lovecraft, Neil Gaiman, T. E. D. Klein, dan masih banyak lagi.

Dari pengalaman saya membaca novel-novel genre tersebut, saya mendapati bahwa horror yang benar-benar ‘horor’ – atau, dengan kata lain, seram – bukanlah horor yang mengulas mengenai gore. Bukan pula mengenai pembunuhan, mutilasi, atau hantu-hantu. Bukan apparatus atau ilustrasinya pula yang membuat saya merasa sebuah cerita horor menyeramkan.

Yang membuat cerita horror menyeramkan, menurut saya, adalah sense of helplessness yang terdapat di dalam cerita.

Mungkin teman-teman perasaan seperti itu. Perasaan yang membuat teman-teman berpikir, “Ya Tuhan, mending mati aja deh” daripada menghadapi sebuah situasi.

Contoh sederhana: teman-teman dapat PR mengerjakan tiga soal esai yang sulit banget dari buku. Selesai. Terus tinggal tidur, pagi-pagi bangun, ke kelas, dan ada teman yang minta cocokin jawaban. Anda keluarkan lembar PR punya Anda, tunjukin, dan dia bilang, “Lhoh, kok ngerjainnya yang ini? Halaman 12 tahu, bukan halaman 11.”

Now die.

Tidak perlu jauh-jauh, ternyata. Sehari-hari saja bisa menjadi horror yang sangat mengerikan, ‘kan?

Itulah yang diangkat di Let The Right One In: kehidupan sehari-hari. Kenyamanan dunia modern akan rutinitas. Dunia yang kelabu, kecil, dan terbatas. Bangun, berangkat sekolah, belajar, jadi anak rajin, hadapi bully, dan kembali ke rumah. Hati ini rasanya kesal karena berbagai hal, dari bully hingga orangtua sendiri. Dan tidak ada apa-apa yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya.

Setidaknya, hingga Eli tiba.

-b-

Hanya satu hal yang kurang. Masa lalu. Di sekolah, anak-anak tidak ditugasi membuat proyek-proyek khusus tentang sejarah Blackeberg, sebab memang tidak ada sejarah.

2

Let The Right One In menyentuh banyak isu-isu sensitif. Sebutkan satu-satu, dari pedofilia, pelacuran, seks di bawah umur, transeksual, kekerasan, semua masalah-masalah seperti itu ada.

Tapi, di saat bersamaan, ia juga menampilkan kasih sayang, cinta, dan harapan. Lalu, di atas itu semua, novel ini juga menuturkan apa-apa yang kita siap lakukan demi orang-orang yang kita cintai.

Disturbing, tapi lovely.

Narasinya dibawa a la Stephen King: kisah kota kecil, penduduknya, masalah sosialnya, semuanya dibahas. Tak tanggung-tanggung, satu per satu. Hal tersebut membuat novel ini menjadi panjang, dan di banyak tempat terasa sangat lambat. Beberapa kali, saya mendapati adanya tokoh-tokoh yang nggak saya peduliin tapi menjadi sudut pandang cerita.

Apa yang terjadi? Siapa orang ini? Kenapa dia jadi fokusnya?

Untungnya, hal-hal tersebut terjadi selalu dengan alasan yang kuat. Meskipun, tetap saja, membuat novel ini sangat nggak cocok untuk yang menyukai fast-paced horror story.

“Aku… tidak membunuhi orang-orang.”

“Memang tidak, tapi kau ingin. Kalau bisa. Dan kau benar-benar akan melakukannya kalau terpaksa.”

Horrornya klasik, vampirnya klasik, namun dijejalkan dalam kehidupan modern. Hal tersebut membuat kita melihat culture clash dan konflik psikologis antara sang vampir dengan dunianya, yang terus berubah sementara ia abadi. Penceritaan dari sudut pandang vampir, untungnya, dilakukan dengan sangat baik. Aksi-nya kerasa, horrornya kerasa, gore-nya apalagi.

Truly classic, sedikit banyak mengingatkan saya terhadap Dracula yang legendaris.

Meski demikian, penutup novel ini – dan perangkum kisah ini – dilakukan dengan sangat manis. Lengkap, terbuka, menyediakan ruang untuk cerita berikutnya dengan tetap mempertahankan kekuatannya sebagai standalone novel.

Singkat kata, keren.


Novel ini sudah difilmkan dalam dua film: yang pertama adalah Let The Right One In dari tahun 2008, dan yang kedua adalah Let Me In dari tahun 2010. Yang satu versi Swedia, yang satu Amerika. Saya nggak bakal bilang mana yang lebih bagus, tapi yang jelas dua-duanya mantap. Adaptasi yang bagus dengan tetap mempertahankan unsur-unsur yang membuat novel ini menakjubkan.

Truly worth watching.

trailer:

Aku Tahu Kamu Hantu


Aku Tahu Kamu HantuPas tahu Mbak Eve udah nulis buku berjudul Aku Tahu Kamu Hantu, saya buru-buru ngecek di internet. Kesan pertama dari ngelihat sampulnya, “Wah, bukunya manis. Romance-kah?” Tapi, kemudian saya bertanya, “Terus apa hubungannya sama hantu, kalau romance?” Walhasil, karena saya kurang suka romance, dan masih rada-rada bingung, saya menunda membeli buku ini.

Barulah beberapa minggu kemudian, saat saya ke Gramedia untuk beli sebuah buku, saya nemu buku ini di antara rak-rak. Tadinya saya cuma ngeliat aja, terus ngangguk, mikir, “Oh, ini bukunya Mbak Eve.” Tapi, saya berhenti karena nyadar ada yang ganjil.

Di tengah-tengah sampul bunga tersebut, saudara-saudari, adalah tengkorak.

Tentu saja saya langsung membelalak. Baca blurb di bagian belakangnya, terus saya search di internet melalui hape saya saat itu juga, saya akhirnya ngeh kalau novel ini adalah novel horor. Bukan romance. Hanya saja, gara-gara sampulnya yang kaya’ gitu, dari awal saya kira romance.

Dan sebagai penggemar genre horor, beberapa hari kemudian saya sabet buku ini dari rak.

-b-

Premise utama dari cerita ini cukup sederhana: suatu hari, tokoh utama kita yang bernama Olivia, berulangtahun ke-17. Di hari yang sama, ia mulai bisa melihat makhluk-makhluk halus. Hantu, jin, dedemit, berbagai istilah lainnya – ia bisa melihat mereka. Di saat yang sama, mereka tahu kalau dia bisa melihat mereka.

Penyebab ia bisa melihat hantu? Sederhana: ibunya mewariskan kemampuan tersebut kepadanya. Dan ibunya mendapatkan kemampuan tersebut dari orangtuanya, turun-temurun. Kali ini, giliran Olivia. Dengan kemampuan tersebut, tentu saja muncul berbagai konsekuensi, apalagi Liv (nama panggilannya Olivia) masih bersekolah di SMA. Remaja biasa, cewek dengan segala kerumitan dunia remaja, mendapatkan kemampuan seperti itu?

Namun, itu baru awalnya. Karena, seorang hantu anak laki-laki mendadak mendatanginya. Hantu yang ia kenal, yang berkaitan erat dengan sebuah kasus yang baru saja terjadi di sekolahnya.

“Lambat laun kamu akan terbiasa. Kalau tak dihiraukan, mereka bosan sendiri.”

-b-

Secara keseluruhan, novel ini bagus. Seperempat jalan membacanya, saya menyadari bahwa buku ini (mungkin) memiliki sedikit aura Fantasy di dalamnya. Tidak kental, tapi ada. Kenyataan bahwa (spoiler) Liv bukan satu-satunya yang memiliki kemampuan tersebut? Fakta bahwa ‘hantu’ (spoiler) juga memiliki aturan-aturan mereka, hal-hal dan alasan yang membuat mereka ada?

Kemudian, setengah jalan membaca, tampak jelas bahwa selain horor, tema utama novel ini adalah remaja. Young adult, dengan berbagai permasalahan yang ada di dalamnya. Sangat menarik melihat beberapa adegan, seperti apa yang sebenarnya cewek lakukan di kamar mandi, bagaimana mereka merespons keremajaan mereka. Dengan menyentuh topik ‘perubahan’, sebagaimana remaja lainnya, Liv juga harus beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi pada dirinya. Perubahan-perubahan yang tak dapat ia cegah, seperti pada perasaannya, hubungannya dengan teman-teman dekatnya, dan yang utama: kemampuan uniknya.

Dan tentu saja, segala konsekuensi atas perubahan-perubahan tersebut juga masih harus ia tanggung.

Remaja banget, dan digambarkan dengan gamblang tanpa lebai.

Selain itu, novel ini juga sarat akan tema misteri. Kalau dijelaskan di sini pastinya bakal nggak menyenangkan nantinya pas baca, tapi yang jelas: misterinya keren. Ngalir, bisa ditelusuri, dipahami, dan ditebak. Kalau menurut saya, novel misteri itu bagus banget kalau pembacanya bisa ngikutin dan ngerti. Tapi, bakal lebih bagus lagi kalau pembacanya nggak berhasil, atau gagal, nebak pemecahannya.

Di sini, hal tersebut seluruhnya terpenuhi. Twist di bagian akhir tersebut, jujur, membuat saya sangat bahagia.

“Kamu kira kamu saja yang melihat mereka?”

-b-

Sebagai penggemar horor, menurut saya, ada satu kekurangan besar dari buku ini: kurang seram.

Ya, saya mengerti kalau tema utama novel ini tidak hanya horor tapi juga remaja, supernatural, misteri, dll. Tapi tetap saja, sebagai seseorang yang nyamber buku ini dari rak karena berharap akan mendapatkan cerita novel horor yang mantap, saya agak kecewa. Saya hampir nggak ingat, kapan terakhir kali saya beli dan baca buku novel horor karya dalam negeri. Belakangan ini yang namanya novel horor pasti ada baluran komedi-komedinya gitu. Dan yang nggak ada komedi-komedinya biasanya terlalu garing nyeritainnya.

Meski demikian, horor di dalam cerita ini ngena. Saya bisa mengerti perasaan helplessness yang dialami oleh protagonis, kengerian dan kebingungan yang dialaminya. Saya bisa ngerti horornya. Tapi, teuteup, menurut saya kurang serem. No offense lho, Mbak Eve :]

Overall, buku ini bagus. Lumayan, untuk mengurangi dahaga akan karya-karya dalam negeri yang nggak terbalur oleh agama, ideologi, dramatisasi, apalagi politik. Aku Tahu Kamu Hantu adalah sebuah novel horor-misteri untuk remaja, dan ia memenuhi peran tersebut dengan sangat baik.

Oh, dan top jempol buat ilustratornya 😀

Carrie


CarrieSalah satu karya klasik, Carrie adalah buku pertama Stephen King yang kubaca saat SMP. Aku masih ingat, buku ini tergeletak di salah satu sudut perpustakaan yang memuat buku-buku berbahasa inggris. Tak ada yang mau membacanya, karena, apa boleh buat, di SMP-ku saat itu bahasa inggris belum begitu populer.

Carrie White, tokoh utama kisah ini, adalah gadis remaja yang memiliki seorang ibu religius fanatik. Ia tidak populer, dan seringkali menjadi korban ejekan, bully, karena ia dianggap mirip seperti ibunya: fanatik. Carrie sendiri hanya ingin menjadi gadis normal, tidak diejek, melirik cowok, berangan-angan bisa ikut pesta dansa, dan seterusnya.

Suatu hari, setelah rangkaian kejadian rumit, seorang temannya – merasa menyesal karena perbuatannya pada Carrie – meminta pacarnya untuk mengajak Carrie ke pesta dansa. Di saat bersamaan, seorang gadis lain dan kawan-kawannya berniat membuat Carrie menderita atas kesulitan yang telah diakibatkannya.

Kupikir ia tidak tahu ada hal seperti haid hingga setengah jam yang lalu.

Carrie adalah persentuhan pertamaku dengan hal-hal mengenai… kewanitaan. Bisa dibilang seperti itu. Sebagai cowok ABG yang hidupnya cuma di kalangan cowok-cowok ABG lainnya, membaca buku ini memberikan – sedikit banyak – pembukaan wawasan untukku. Aku menjadi bisa mengerti mengapa  cewek-cewek ABG lainnya, di SMP dan SMA, bertingkah yang menurutku agak ganjil.

Lalu, narasinya yang blak-blakan membuatku kurang nyaman – kasarnya agak jijik – dalam membacanya. Deskripsi darah yang membuncah, membanjir, korban-korban yang berjatuhan, juga sangat detil hingga membuat mual. Namun, kukira itulah poinnya. Sembilan tahun kemudian, membaca buku ini lagi dalam versi bahasa Indonesia, aku masih merasa mual juga. Mungkin kami – para lelaki – memang seperti itu, selalu takut pada wanita dari hati yang paling dalam.

Hasil dari perkara White menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serius dan sulit. […] Bisakah kau menyalahkan fisikawan terkemuka seperti Gerald Luponet yang menyatakan bahwa semua ini hanya lelucon dan tipuan, bahkan setelah menghadapi bukti yang berlimpah seperti yang diajukan Komisi White? Karena jika Carrie White adalah kebenaran, lalu bagaimana dengan Newton?…

Banyak hal dalam buku ini menjadi perintis bagiku dalam memasuki dunia fiksi ilmiah. Yap, agak mengejutkan juga bagiku. Sebelum membaca Carrie, tidak pernah terbayang olehku ada yang namanya Telekinesis, Telepati, Pyrokinesis, dst.

Carrie membawa kita ke kehidupan remaja sehari-hari. Isinya lengkap: seorang remaja yang tidak populer dan sering di-bully, seorang remaja yang benar-benar menyesali perbuatannya dan ingin melakukan sesuatu demi menebus kesalahan, seorang cowok gentleman, seorang cewek (dan kawanannya) yang jahat, guru yang baik, kepala sekolah yang serbasalah, dan masih banyak lagi.

Hal-hal tersebut, saat itu, masih jarang diangkat: fiksi-fiksi klasik biasanya berkisar mengenai kehidupan di negara fantasi, di dunia di mana kehidupan dapat diuntai dengan cantik layaknya sutra, di tempat-tempat nun jauh, tempat kita bisa masuk ke dalamnya dan melarikan diri dari kehidupan (contoh: The Lord of the Rings, Chronicle of Narnia, 2001: Space Odyssey, Pride and Prejudice, Romeo and Juliet, etc.). Carrie merupakan salah satu perintis munculnya realistic fiction – fiksi yang mengisahkan kehidupan sekitar kita, mengurung kita dalam kenyataan – dan membombardir kita dengan kengerian yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Akibat keyakinan keagamaan pasangan White yang nyaris fanatik, Mrs. White tidak mempunyai kawan untuk menemaninya melewati masa dukanya. Dan ketika proses melahirkan dimulai tujuh bulan kemudian, ia sendirian.

Lalu, buku ini mengenalkan istilah ‘religious fanatic‘ jauh sebelum budaya pop mengangkatnya di film-film. Tahun ini, membaca Carrie lagi, aku merasa tertohok: kelompok fanatik bukan hanya ada di negara-negara jauh sana, dan mereka tak terbatas pada agama tertentu saja. Kelompok fanatik ada di TV, ada di sekitar kita, membanjiri jalan-jalan saat bulan puasa sekalipun, dan menghiasi halaman-halaman pertama surat kabar. Mereka tidak mau bertoleransi pada kita, dan kita tak mau bertoleransi pada mereka. Walhasil, tinggal menunggu seseorang untuk ‘terlecut’ – layaknya Carrie – dan membombardir dunia kita dengan kekacauan.

Tidak nyaman, ‘kan?

Padahal, tidak semua dari mereka jahat. Dan tidak semua dari mereka baik. Beberapa hanya bertindak atas apa yang mereka yakini, dan atas apa yang kita perbuat terhadap mereka. Seperti Mrs. White, maupun seperti Carrie sendiri.

Kami hanya anak-anak. Anak-anak yang mencoba melakukan yang terbaik.

– Susan Snell

Tapi, di atas itu semua, buku ini sebenarnya sederhana. Ia berkisah mengenai anak-anak, mengenai para remaja dan kehidupan mereka. Carrie, teman-teman di SMA-nya, bahkan orang-orang yang mengerjainya, hanyalah anak-anak. That hits close: membacanya lagi sekarang, aku ingat bagaimana dulu saat masih SMP dan SMA. Menjadi remaja, yang bingung, yang kaget, yang terpana-pana atas perubahan yang ada dan berusaha sekuat tenaga menyesuaikan diri, menonjol, menjadi yang terbaik. Atau, minimal, membaur dengan sesama.

Dan menurutku itu sangat fatal: kenyataan bahwa Carrie dan anak-anak lainnya, para korbannya, hanyalah anak-anak benar-benar fatal. Tragedi yang terjadi dalam buku ini bukan kesalahan mereka melainkan para orang-orang dewasa. Seandainya Mrs. White tidak fanatik. Seandainya guru-guru di sekolah lebih tegas. Seandainya orangtua cewek-cewek yang mem-bully Carrie bisa mengajari anak mereka lebih baik lagi. Dst.

Dan dengan umur kita yang semakin bertambah, sanggupkah kita menjadi orang dewasa yang baik?


Carrie sudah difilmkan tiga kali. Yang sekarang sedang tayang di bioskop, disutradarai oleh Kimberly Pearce dan dibintangi oleh Chloe Moretz, sudah kutonton juga. Cukup bagus, kalau menurutku. Cukup sesuai dengan jalan cerita aslinya, ide-ide dasarnya. Berikut trailernya, siapa tahu tertarik.