Baca Hujan, Triwulan Dua


Triwulan KeduaTak terasa, sudah tiga bulan berlalu sejak Triwulan Satu. Enam bulan blog ini telah berusia, dengan setiap minggunya sebuah buku diulas di sini. 12 buku di Triwulan Dua, 24 buku di blog ini, plus satu cerita pendek.

Banyak yang telah dilalui dan dicapai oleh blog sederhana ini. Ia telah menempati posisi atas dalam beberapa pencarian ulasan buku di Google. Ia telah mencapai 2000 pengunjung di Bulan Februari kemarin. Ia telah mencapai ratusan pengikut, dan setiap minggunya, link ulasan dari Baca Hujan dilihat oleh para penghuni dari komunitas-komunitas blogger.

Oleh karena itu, untuk memperingati setengah tahun Baca Hujan, ada beberapa pengumuman yang harus diberikan. Antara lain:

  • Baca Hujan akan meningkatkan frekuensi tulisannya. Jika sebelumnya hanya setiap hari Minggu dan terbatas pada buku-buku fiksi atau memoir, Baca Hujan akan melebarkan sayap dengan mengulas buku non-fiksi di hari Rabu pada minggu kedua dan ketiga setiap bulannya.
  • Baca Hujan telah memiliki Facebook Page. Di laman tersebut, berbagai tautan menuju bacaan-bacaan menarik akan dibagikan setiap harinya. Lebih lengkapnya dapat dibaca di sini.
  • Baca Hujan telah mengadopsi Tema baru. Untuk yang berkunjung dari Tablet atau Laptop dapat menyaksikan bahwa lay-out dan tampilan telah disederhanakan, dan sekarang lebih mudah untuk bernavigasi. Silakan gunakan Menu di atas header untuk membuka laman kategori, menyortir tulisan berdasarkan kategori sasaran usia pembaca hingga genre.

Kurang lebih, itulah pengumuman dari Baca Hujan di ulang Triwulannya yang kedua ini. Sehingga, yuk kita kilas balik buku-buku apa saja yang sudah diulas Baca Hujan di Triwulan Dua ini!


1. WarbreakerBrandon Sanderson

Salah satu karya Epic Fantasy dari penulis novel remaja best-seller Steelheart, Brandon Sanderson menyajikan sebuah standalone-fantasy yang dapat dibaca online di Wattpad.com. Novel ini bercerita mengenai perseteruan antar kerajaan, politik, cinta, sihir, konspirasi, dan aksi. Sebagai tokoh-tokohnya adalah sepasang saudari putri kerajaan, seorang Dewa yang tidak memercayai agamanya sendiri, seorang Dewa Raja, dan seorang ksatria khusus yang memiliki julukan Warbreaker.

2. More Than ThisPatrick Ness

Menggabungkan fiksi ilmiah dengan surealisme, memadukan kisah remaja yang familiar dengan cerita futuristik-distopia, More Than This berkisah mengenai seorang remaja yang bunuh diri, tenggelam, di samudra, dan terbangun di sebuah dunia yang kosong. Sendirian, ia menjelajahi dunia barunya yang absen dari manusia, namun penuh tanda-tanda peradaban. Perlahan, ia mempelajari kenyataan-kenyataan yang ada – mengenai hidup dan kematian, mengenai nyata dan tidak – dan menemukan keganjilan yang tak terkatakan.

3. PenpalDathan Auerbach

Berasal dari sebuah cerita online di forum cerita horor Nosleep, Penpal berkisah mengenai seorang pria yang menelusuri masa lalunya dan mendapati ingatan-ingatan yang ganjil: foto-foto yang menakutkan, seorang gadis yang tewas, kekuatan yang tak terbayangkan, serta berbagai kengerian lainnya. Diceritakan dengan begitu mengalir a la Samudra di Ujung Jalan Setapak, Penpal membawa kita menuju rasa nostalgia yang mengerikan.

4. Aku Tahu Kamu HantuEve Shi

Sebuah karya debut, Aku Tahu Kamu Hantu berkisah mengenai seorang anak perempuan yang, pada hari ulangtahunnya, mendapatkan kekuatan yang sudah diwariskan secara turun-temurun di keluarganya. Dengan kekuatan barunya tersebut, ia berusaha memecahkan misteri hilangnya seorang anak di sekolahnya, sekaligus berjuang menyesuaikan dirinya – dengan kekuatannya tersebut – di tengah-tengah kehidupan normal. Sebuah cerita horor yang sangat efektif, modern, dan cocok untuk remaja.

5. Gelombang 5Rick Yancey

Sebuah kisah penyerbuan Alien, Rick Yancey menggambarkan apa yang terjadi apabila Alien menyerbu kita dalam gelombang demi gelombang serangan tanpa sedikit pun memasuki wilayah udara kita dan menginjak tanah di bumi. Tak ada perlawanan, tak ada yang bisa dipercaya, dan tak ada yang tersisa, dua orang remaja dan satu orang anak kecil berjuang untuk bertahan hidup di dunia pasca-Gelombang Empat. Dengan hanya sedikit sekali yang selamat, masih akan adakah Gelombang Lima? Atau, mungkinkah Gelombang Lima sudah terjadi?

6. Biarkan Aku MasukJohn Ajvide Lindqvist

Perpaduan kisah vampir klasik dengan horor modern, penulis Swedia John Ajvide Lindqvist menggambarkan kehidupan seorang anak remaja laki-laki yang mendapati tetangga barunya adalah seorang remaja perempuan, kira-kira seusia dengannya. Seiring mereka saling berkenalan, peristiwa-peristiwa ganjil mulai terjadi di kota tempat mereka tinggal, dan berbagai petunjuk membawa si anak kepada tetangganya tersebut. Mungkinkah tetangganya tak seperti yang terlihat dari luar?

7. Dewa-Dewa AmerikaNeil Gaiman

Menyabet berbagai penghargaan bergengsi di dunia, American Gods mengisahkan seorang pria yang baru saja keluar dari penjara dan menjadi sebatang kara. Tanpa tujuan, tanpa arah, dan tanpa rumah, ia bertemu dengan seorang pria paruh-baya bernama Mr. Wednesday, yang menyewanya sebagai bodyguard dan membawanya ke dalam perjalanan panjang melintasi Amerika guna menyusuri jaring-jaring konflik besar yang akan terjadi antar Dewa-Dewa Amerika.

8. The Ghost BrigadesJohn Scalzi

Sekuel dari Old Man’s War meski dapat berdiri sendiri dengan kokoh, novel ini mengisahkan masa depan yang berisi konflik berkepanjangan antara manusia dengan para ras alien di luar angkasa guna memperebutkan planet-planet yang menunjang kehidupan di galaksi. Di saat bersamaan, sebuah pengkhianatan terjadi, seorang prajurit super ditugaskan, dan sebuah pasukan dikerahkan – pasukan yang, berdasarkan kisah-kisah, dibangkitkan dari mayat orang-orang mati. Pasukan khusus yang disebut, dengan nada segan oleh seantero galaksi, sebagai Brigadir Hantu.

9. Kisah-Kisah Beedle si Juru CeritaJ.K. Rowling

Sebuah companion book untuk serial Harry Potter, Tales of Beedle the Bard merupakan kumpulan cerita pendek karya J.K. Rowling yang, konon katanya, diceritakan secara turun-temurun di dunia sihir Inggris. Salah satu ceritanya, Kisah Tiga Saudara, merupakan kunci dan penutup dari serial Harry Potter. Bagus untuk diceritakan ke anak-anak, dan mantap sebagai pelengkap sebuah serial paling terkenal di dunia.

10. SometimesEsther Marie

Sometimes adalah sebuah buku ilustratif sederhana, berisi refleksi dan memoir, renungan serta kisah, mengenai momen-momen berharga dan penuh kasih sayang yang seringkali dialami oleh sepasang sahabat. Tidak tebal, tidak panjang, namun cukup mengena.

11. The Battle of the LabyrinthRick Riordan

Buku keempat serial Percy Jackson and the Olympians merupakan pengantar menuju klimaks, puncak, dari kisah epos sang putra Poseidon. Secara individual, buku ini merupakan standalone story yang sangat baik, mengalir dan penuh refleksi, manis serta penuh aksi. Wajib dibaca oleh para penggemar serial magis/fantasi remaja.

12. Every Dead ThingJohn Connolly

Sebuah novel debut, Every Dead Thing berkisah mengenai seorang mantan detektif yang berkelana ke dunia gelap, menyusup ke lingkungan jalanan, mafia, dan penjahat-penjahat. Selama perjalanannya tersebut, ia akan bertemu dengan seorang cenayang yang tinggal di wilayah berawa yang misterius, bertempur melawan para kriminal paling berbahaya, serta menghadapi seorang pembunuh berantai yang gemar menyiksa dan membunuh anak-anak – pembunuh berantai yang sama yang memegang petunjuk kunci mengenai Si Pengembara, seorag psikopat yang telah menyiksa dan membantai istri dan anak sang mantan detektif.


Sebagaimana saya telah tuliskan di atas, setiap hari Rabu, saya akan mulai menulis ulasan-ulasan cerita pendek di sini. Oleh karena itu, pada peringatan Triwulan ini, saya tahan dulu ulasan cerita pendeknya – nanti akan saya tulis di hari Rabu.

Jadi, selamat! Dan sekali lagi, terima kasih sudah mengunjungi Baca Hujan!

Biarkan Aku Masuk (Let The Right One In)


Biarkan Aku MasukDi sebuah kota kecil bernama Blackeberg, di bawah musim dingin yang membeku, seorang anak laki-laki bernama Oskar tinggal. Orangtuanya sudah berpisah, ia hidup bersama ibunya, dan sesekali mengunjungi ayahnya. Ia hanyalah anak biasa, meski sedikit kutubuku, dan karenanya menerima berbagai macam bully dari anak-anak lain di sekolahnya.

Kadang-kadang, saat ia yakin semua orang tak melihatnya, ia menusuk-nusuk batang pohon sembari membayangkan wajah anak-anak yang mem-bully-nya.

Suatu hari, datanglah sebuah keluarga baru ke apartemennya. Keluarga tersebut terdiri dari seorang pria paruh-baya dan seorang anak perempuan remaja bernama Eli. Berdua, mereka menyewa kamar, menjadi tetangga Oskar. Oskar berkenalan dengan Eli, dan mereka mulai berteman.

Tapi, ada sesuatu yang ganjil dengan keluarga Eli. Ayahnya sering pulang-pergi malam. Eli berkeliaran di salju tanpa baju hangat. Dan di siang hari, jendela kamar Eli selalu tertutup rapat. Belum lagi serangkaian pembunuhan yang terjadi di kota tersebut, yang kian mengarahkan Oskar pada konfrontasinya dengan kenyataan-kenyataan mengerikan mengenai Eli, keluarganya, kotanya, dan dirinya sendiri.

-b-

Dari postingan saya yang sebelumnya, saya telah ungkapkan bahwa saya adalah penggemar genre horor. Saya melahap banyak novel-novel Stephen King (Doctor Sleep, novel terbarunya, sangat keren. Akan saya ulas di sini dalam waktu dekat), R. L. Stine’s Goosebumps (yang membuat saya merinding habis-habisan pas masih kecil), H. P. Lovecraft, Neil Gaiman, T. E. D. Klein, dan masih banyak lagi.

Dari pengalaman saya membaca novel-novel genre tersebut, saya mendapati bahwa horror yang benar-benar ‘horor’ – atau, dengan kata lain, seram – bukanlah horor yang mengulas mengenai gore. Bukan pula mengenai pembunuhan, mutilasi, atau hantu-hantu. Bukan apparatus atau ilustrasinya pula yang membuat saya merasa sebuah cerita horor menyeramkan.

Yang membuat cerita horror menyeramkan, menurut saya, adalah sense of helplessness yang terdapat di dalam cerita.

Mungkin teman-teman perasaan seperti itu. Perasaan yang membuat teman-teman berpikir, “Ya Tuhan, mending mati aja deh” daripada menghadapi sebuah situasi.

Contoh sederhana: teman-teman dapat PR mengerjakan tiga soal esai yang sulit banget dari buku. Selesai. Terus tinggal tidur, pagi-pagi bangun, ke kelas, dan ada teman yang minta cocokin jawaban. Anda keluarkan lembar PR punya Anda, tunjukin, dan dia bilang, “Lhoh, kok ngerjainnya yang ini? Halaman 12 tahu, bukan halaman 11.”

Now die.

Tidak perlu jauh-jauh, ternyata. Sehari-hari saja bisa menjadi horror yang sangat mengerikan, ‘kan?

Itulah yang diangkat di Let The Right One In: kehidupan sehari-hari. Kenyamanan dunia modern akan rutinitas. Dunia yang kelabu, kecil, dan terbatas. Bangun, berangkat sekolah, belajar, jadi anak rajin, hadapi bully, dan kembali ke rumah. Hati ini rasanya kesal karena berbagai hal, dari bully hingga orangtua sendiri. Dan tidak ada apa-apa yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya.

Setidaknya, hingga Eli tiba.

-b-

Hanya satu hal yang kurang. Masa lalu. Di sekolah, anak-anak tidak ditugasi membuat proyek-proyek khusus tentang sejarah Blackeberg, sebab memang tidak ada sejarah.

2

Let The Right One In menyentuh banyak isu-isu sensitif. Sebutkan satu-satu, dari pedofilia, pelacuran, seks di bawah umur, transeksual, kekerasan, semua masalah-masalah seperti itu ada.

Tapi, di saat bersamaan, ia juga menampilkan kasih sayang, cinta, dan harapan. Lalu, di atas itu semua, novel ini juga menuturkan apa-apa yang kita siap lakukan demi orang-orang yang kita cintai.

Disturbing, tapi lovely.

Narasinya dibawa a la Stephen King: kisah kota kecil, penduduknya, masalah sosialnya, semuanya dibahas. Tak tanggung-tanggung, satu per satu. Hal tersebut membuat novel ini menjadi panjang, dan di banyak tempat terasa sangat lambat. Beberapa kali, saya mendapati adanya tokoh-tokoh yang nggak saya peduliin tapi menjadi sudut pandang cerita.

Apa yang terjadi? Siapa orang ini? Kenapa dia jadi fokusnya?

Untungnya, hal-hal tersebut terjadi selalu dengan alasan yang kuat. Meskipun, tetap saja, membuat novel ini sangat nggak cocok untuk yang menyukai fast-paced horror story.

“Aku… tidak membunuhi orang-orang.”

“Memang tidak, tapi kau ingin. Kalau bisa. Dan kau benar-benar akan melakukannya kalau terpaksa.”

Horrornya klasik, vampirnya klasik, namun dijejalkan dalam kehidupan modern. Hal tersebut membuat kita melihat culture clash dan konflik psikologis antara sang vampir dengan dunianya, yang terus berubah sementara ia abadi. Penceritaan dari sudut pandang vampir, untungnya, dilakukan dengan sangat baik. Aksi-nya kerasa, horrornya kerasa, gore-nya apalagi.

Truly classic, sedikit banyak mengingatkan saya terhadap Dracula yang legendaris.

Meski demikian, penutup novel ini – dan perangkum kisah ini – dilakukan dengan sangat manis. Lengkap, terbuka, menyediakan ruang untuk cerita berikutnya dengan tetap mempertahankan kekuatannya sebagai standalone novel.

Singkat kata, keren.


Novel ini sudah difilmkan dalam dua film: yang pertama adalah Let The Right One In dari tahun 2008, dan yang kedua adalah Let Me In dari tahun 2010. Yang satu versi Swedia, yang satu Amerika. Saya nggak bakal bilang mana yang lebih bagus, tapi yang jelas dua-duanya mantap. Adaptasi yang bagus dengan tetap mempertahankan unsur-unsur yang membuat novel ini menakjubkan.

Truly worth watching.

trailer: