Sometimes


SometimesBeberapa waktu lalu, seorang teman mengirim email kepadaku, memberitahuku mengenai sebuah situs baru dimana kita bisa mengunduh buku dalam format digital secara legal. Legal karena penulisnya sendiri yang mengunggah buku mereka ke situs tersebut. Di samping itu, kalau masih merasa kurang enak, kita bisa memberikan ‘tip’ kepada penulisnya melalui fitus donate yang ada.

Maka, aku mengunjunginya. Nama situsnya adalah Noisetrade Books. Banyak buku yang ada di sana, fiksi maupun non fiksi, dari kisah-kisah terkenal seperti Down and Out in The Magic Kingdom karangannya Cory Doctorow hingga buku-buku baru karya penulis indie yang tergolong fresh dan berkualitas.

Salah satu buku yang cukup menarik perhatianku adalah ini: Sometimes karya Esther Marie. Berisikan ilustrasi-ilustrasi sebanyak 34 halaman, semuanya digambar dengan Paper di iPad, buku ini sangat simpel. Sederhana. Bisa selesai dibaca dalam waktu kurang dari semenit.

Dan isinya, kalau boleh kubilang, sangat menyegarkan.

Bisa dibilang, ini adalah salah satu illustrative art book pertama yang kubaca. Ini bukan komik, bukan graphic novel. Bisa dibilang ini adalah memoir, refleksi, yang di beberapa bagian cukup membangkitkan nostalgia dan menohok begitu dalam.

Di atas itu semua, isinya cukup unik karena mengangkat cinta dalam persahabatan alih-alih romansa pada umumnya.

Gambarnya juga lumayan 🙂

3

Yang mau baca, bisa unduh di sini ya. Selamat menikmati!

Iklan

Magical Game Time Vol. 1


Magical Game Time Vol 1Senang main video game? Pernah bertualang di dunianya Zelda, Mario, Sonic, dan banyak permainan konsol lainnya? Menikmati Final Fantasy? Magical Game Time Vol. 1 adalah kumpulan karya-karya Zac Gorman; komik-komik, ilustrasi, dengan tema game.

Membacanya merupakan sesuatu pengalaman tersendiri. Karena, sebenarnya, buku ini adalah fanworks. Fan piece, karya fans. Bukan ditujukan sebagai sesuatu yang ditanggapi secara benar-benar serius, tapi sesuatu yang bisa menjadi refreshing. Sesuatu yang nostalgia.

Zac Gorman juga menulis cerita-cerita di dalamnya dengan gaya yang, bisa dimilang, melodramatic. Tapi bukan dalam arti buruk: malah, memberikan sisi lain dari sebuah game untuk dilihat. Sangat menarik melihat Zelda dari segi pandang manusiawinya, mengingat kembali “Oh ya, ini dulu pernah main, pas bagian ini!” atau “Wah, bisa jadi ini yang dipikirkan tokoh utama game ini saat dulu di stage ini!”

Di beberapa bagian, dark humor-nya sangat terasa dengan kental. Beberapa benar-benar kocak dan lucu, sedangkan beberapa… terasa agak garing. Atau mungkin itu tergantung selera?

Yang jelas, semuanya terasa menarik. Apalagi saat Mr. Gorman mencoba menghubungkan antara gamer dengan game yang dimainkannya.

5

Beberapa ilustrasinya benar-benar bagus, menarik. Menginspirasi.

4

Dan ingat di atas, kusebutkan bahwa karya-karyanya di sini terasa melodramatic? Nah, bukan hanya melodramatic, menurutku beberapa bahkan mengandung pesan yang cukup berat. Tentu, itu akan tergantung persepsi setiap orang, namun sangat menarik rasanya saat kita – sebagai gamer – membaca ini dan menyadari bahwa “Oh, ya, jadi itu pesan tersiratnya!”

6

Magical Game Time: Vol. 1 dapat dibeli dalam bentuk hardcopy melalui website resminya Zac Gorman. Tapi, kalau tidak punya cukup uang (dan ingin menghindari pembelian online interlokal), bisa juga dengan mendapatkan PDF-nya – seperti yang kulakukan – dengan menyumbang kepadanya di sini.

Dan yang terakhir, kalau tidak bisa juga, teman-teman masih dapat membaca karya-karya Zac Gorman di blognya, Magical Game Time. Karena sesungguhnya buku ini adalah kumpulan fanworks karyanya, jadi, menurutku tak rugi. 🙂

PS: kalau di blognya, sebagian besar karyanya ada dalam format .GIF! Dan menurutku GIF-nya justru bagus-bagus sekali!

The 13 Clocks


The 13 ClocksBulan November ini digadang-gadang bakal menjadi bulan yang mengerikan. Bagaimana tidak, ada NaNoWriMo, ada Ujian Tengah Semester, penelitian dan skripsi, dan masih banyak lagi. Walhasil, waktu membaca pun turun drastis. Target membaca 100 buku tahun ini menjadi agak sulit dipenuhi, dengan reading list yang masih menumpuk. Dan setiap kali mau mulai baca novel, pasti pusing: setelah seharian membaca textbook dalam jumlah berjibun, mengerjakan latihan soal, mata ini sangat membutuhkan istirahat dari dinding huruf yang kian tinggi tiap harinya.

Oleh karena itu, saya mulai membaca lebih banyak buku anak-anak. Lebih tepatnya, buku ilustratif, graphic novel, atau bahkan komik. Di minggu sebelumnya, saya menulis mengenai Vader’s Little Princess: sebuah buku yang sangat menarik dan memanjakan mata. Dan minggu ini pun tak berbeda: akan saya tulis sedikit mengenai buku yang baru saja selesai saya baca, yang berjudul The 13 Clocks karangan James Thurber.

Kalangan pembaca generasi sebelumnya, generasi tua, mungkin sangat mengenal sang penulis, James Thurber. Beliau adalah kartunis, pelawak, sekaligus penulis yang karya-karyanya banyak muncul di The New York Times. Biodatanya bisa dibaca di Mas Wiki.

Lalu, sekedar informasi, The 13 Clocks ini adalah buku novel anak-anak yang beliau tulis pada saat berada di Bermuda. Memberi kesan tersendiri, ‘kan?

Lugas, luwes dan ilustratif, buku bergenre Fantasy ini mengisahkan mengenai seorang pangeran yang harus melaksanakan deretan tantangan dan tugas untuk membebaskan seorang putri dari cengkeraman Duke Jahat di Kastil Coffin. Kocak, seru, dan seringkali dark di beberapa bagian, hingga membuat saya bertanya-tanya bagaimana bisa novel seperti ini dimasukkan dalam kategori anak-anak. Mungkin karena ceritanya yang mudah dimengerti dan bahasanya yang lugas. Atau mungkin anak-anak jaman dulu lebih dewasa dibandingkan jaman sekarang.

The 13 Clocks_3

Eniwei, buku ini sekarang bisa diunduh dengan gratis karena masuk dalam public domain di Archive.org. Dan tahukah Anda? Ada film pendeknya juga lho, ditulis dan dinarasikan oleh para veteran bidang Fantasy. Salah satunya adalah penulis favorit saya, Neil Gaiman 😛 Jadi… silakan diunduh, silakan dibaca, dan silakan ditonton!

Vader’s Little Princess


Vader's Little Princess

Sebagian besar dari kita pasti pernah menonton Star Wars. Salah satu kisah epik fiksi ilmiah sepanjang masa, serial Star Wars telah membentang sepanjang enam film (bahkan sebentar lagi dikabarkan akan ada yang terbaru, setelah Disney membeli hak ciptanya tahun lalu), berbagai jenis mainan, kartun, video games, dan buku-buku. Salah satunya adalah Vader’s Little Princess, sebuah buku komik ilustratif karya Jeffrey Brown.

Vader’s Little Princess berisi komik-komik kecil dengan latar dunia Star Wars, namun ada sedikit twist: Darth Vader, dalam kisah ini, membesarkan putrinya, Leia. Dalam kisah ini, kita menyaksikan bagaimana Darth Vader menjadi seorang ayah, sekaligus seorang Sith – tangan kanan Sith Lord – yang menguasai galaksi.

Lucu, menggemaskan, cerita-cerita di dalamnya menggabungkan kisah-kisah seorang ayah dan Star Wars dengan baik. Ada kisah Darth Vader yang akan membunuh admiralnya, namun terhenti karena Leia muncul dan memeluknya. Ada kisah Darth Vader yang mengamati bagaimana putrinya tumbuh besar, berpacaran dengan (yang sudah kita kenal, tak lain dan tak bukan) Han Solo yang kesohor.

IMG_5246

IMG_5244

IMG_5243

Beberapa kisah mengejutkanku: beberapa karena begitu lucu, begitu mudah untuk dihubungkan dengan peristiwa sehari-hari, dan beberapa karena mengharukan.

rebellious

Vader’s Little Princess adalah proyek Star Wars kedua dari Jeffrey Brown setelah Darth Vader and Son. Kalau di Vader’s Little Princess kita melihat Sang Sith sebagai ayah dari seorang anak perempuan, di Darth Vader and Son kita melihatnya sebagai ayah seorang anak laki-laki. Cerita di kedua buku ini sesungguhnya saling berhubungan, dengan Luke muncul di VLP dan Leia di DVS. Tokoh-tokohnya juga sama.

Dan ceritanya, di kedua buku itu, juga cukup hangat, ringan, dan nostalgik. Cocok untuk dibaca oleh kita, generasi Star Wars, penyuka fiksi ilmiah, dan penggemar komik secara menyeluruh.