Penpal


PenpalCerita ini dimulai dengan protagonis kita membuka kembali peninggalan-peninggalan masa kecilnya. Sedikit demi sedikit, apa yang ia mulai sebagai nostalgia berujung pada suatu kenyataan: bahwa masa lalunya sangat ganjil. Bahwa ada sesuatu, jauh di masa lalunya, yang telah mengikuti dan menghantui masa kecilnya. Sesuatu yang mengerikan, berbahaya, dan mematikan.

Dimulai dari masa kecil protagonis, kita diperkenalkan pada sebuah kota kecil di daerah rural Amerika. Dekat dengan hutan, alam, dan nuansa yang kelabu a la Stephen King, kita menyaksikan bagaimana sang protagonis – seorang anak kecil, polos, penurut meski kadang juga nakal, pintar namun tak mencolok – tumbuh besar dan bertransisi dari masa kanak-kanak, remaja, cinta, hingga dewasa.

Dan di belakangnya tentu saja, sesuai judul buku ini, adalah seorang penpal – sahabat pena – yang, sudah bisa ditebak, tidak begitu bersahabat. Setidaknya, menurut protagonis kita dan kita yang membacanya.

-a-

Sedari awal membacanya, saya mengkategorikan novel ini sebagai classic: gaya penulisannya, penceritaannya, mengingatkan saya akan Stephen King, Dickens, dan bahkan Lovecraft serta Gaiman. Horornya terasa sejak bab pertama – dimana protagonis kita nyaris saja tewas dan mengakhiri kisah ini di selusin halaman pertama – dan makin bertambah, bereskalasi, setiap babnya.

Dari segi karakterisasi, Mr. Auerbach berhasil melakukannya dengan sangat baik – menurut saya. Protagonis kita langsung memberikan hook dari awal halaman: seorang anak, masih polos, masih lugu, masih percaya pada imajinasinya. Ia juga tak terasa asing: punya sahabat di sekolah, punya cewek yang ditaksir, dan punya orangtua yang sangat disayanginya.

Sumber: 1000Vultures

Sumber: 1000Vultures

Antagonis kita, di sisi lain, sangat menarik: kesan stalker-y yang ada pada dirinya digambarkan dengan jelas, namun di saat bersamaan Mr. Auerbach menggambarkannya sebagai sosok ethereal: gaib, berkuasa, membayang-bayang di setiap sudut. Ada aroma Lovecraftian yang kental di sini – menjelang akhir novel, saya setengah menduga bahwa ia sesungguhnya sesuatu yang jauh lebih berbahaya dibandingkan manusia biasa.

Dan mengenai ceritanya sendiri, bisa dibilang plotnya sangat mengalir. Lurus. Meski timeline – latar waktu – dalam novel ini melompat-lompat maju-mundur (sangat klasik, a la orang yang sedang menuturkan kisah masa lalunya, dengan gaya seperti yang digunakan Mr. Gaiman dalam Samudra di Ujung Jalan Setapak), ceritanya sendiri dapat diikuti dengan mudah.

Meski demikian, dalam beberapa bagian terdapat poin-poin yang agak sulit dimengerti, ilustrasi lokasi dan suasana yang kurang memadai, serta ending yang – sangat disayangkan – agak kurang menusuk. Kuat, ya, tapi terasa kurang untuk sebuah novel horor dengan hook yang sangat kuat dari halaman pertamanya seperti ini.

Sumber: 1000Vultures

Sumber: 1000Vultures

Di atas semua itu, sebagai debut perdana, novel ini jelas sangat mantap. Salut untuk Mr. Auerbach, sangat dinanti karya-karyanya yang berikutnya.


Info tambahan, novel ini merupakan adaptasi dari serial cerita horor yang beredar di internet sejak lama. Mendapatkan respon yang sangat positif dari para penggemar cerita seram, penulisnya memutuskan untuk membukukan cerita-cerita tersebut dan menerbitkannya. Serial tersebut bisa dibaca di sini.

Selamat menikmati!

Biarkan Aku Masuk (Let The Right One In)


Biarkan Aku MasukDi sebuah kota kecil bernama Blackeberg, di bawah musim dingin yang membeku, seorang anak laki-laki bernama Oskar tinggal. Orangtuanya sudah berpisah, ia hidup bersama ibunya, dan sesekali mengunjungi ayahnya. Ia hanyalah anak biasa, meski sedikit kutubuku, dan karenanya menerima berbagai macam bully dari anak-anak lain di sekolahnya.

Kadang-kadang, saat ia yakin semua orang tak melihatnya, ia menusuk-nusuk batang pohon sembari membayangkan wajah anak-anak yang mem-bully-nya.

Suatu hari, datanglah sebuah keluarga baru ke apartemennya. Keluarga tersebut terdiri dari seorang pria paruh-baya dan seorang anak perempuan remaja bernama Eli. Berdua, mereka menyewa kamar, menjadi tetangga Oskar. Oskar berkenalan dengan Eli, dan mereka mulai berteman.

Tapi, ada sesuatu yang ganjil dengan keluarga Eli. Ayahnya sering pulang-pergi malam. Eli berkeliaran di salju tanpa baju hangat. Dan di siang hari, jendela kamar Eli selalu tertutup rapat. Belum lagi serangkaian pembunuhan yang terjadi di kota tersebut, yang kian mengarahkan Oskar pada konfrontasinya dengan kenyataan-kenyataan mengerikan mengenai Eli, keluarganya, kotanya, dan dirinya sendiri.

-b-

Dari postingan saya yang sebelumnya, saya telah ungkapkan bahwa saya adalah penggemar genre horor. Saya melahap banyak novel-novel Stephen King (Doctor Sleep, novel terbarunya, sangat keren. Akan saya ulas di sini dalam waktu dekat), R. L. Stine’s Goosebumps (yang membuat saya merinding habis-habisan pas masih kecil), H. P. Lovecraft, Neil Gaiman, T. E. D. Klein, dan masih banyak lagi.

Dari pengalaman saya membaca novel-novel genre tersebut, saya mendapati bahwa horror yang benar-benar ‘horor’ – atau, dengan kata lain, seram – bukanlah horor yang mengulas mengenai gore. Bukan pula mengenai pembunuhan, mutilasi, atau hantu-hantu. Bukan apparatus atau ilustrasinya pula yang membuat saya merasa sebuah cerita horor menyeramkan.

Yang membuat cerita horror menyeramkan, menurut saya, adalah sense of helplessness yang terdapat di dalam cerita.

Mungkin teman-teman perasaan seperti itu. Perasaan yang membuat teman-teman berpikir, “Ya Tuhan, mending mati aja deh” daripada menghadapi sebuah situasi.

Contoh sederhana: teman-teman dapat PR mengerjakan tiga soal esai yang sulit banget dari buku. Selesai. Terus tinggal tidur, pagi-pagi bangun, ke kelas, dan ada teman yang minta cocokin jawaban. Anda keluarkan lembar PR punya Anda, tunjukin, dan dia bilang, “Lhoh, kok ngerjainnya yang ini? Halaman 12 tahu, bukan halaman 11.”

Now die.

Tidak perlu jauh-jauh, ternyata. Sehari-hari saja bisa menjadi horror yang sangat mengerikan, ‘kan?

Itulah yang diangkat di Let The Right One In: kehidupan sehari-hari. Kenyamanan dunia modern akan rutinitas. Dunia yang kelabu, kecil, dan terbatas. Bangun, berangkat sekolah, belajar, jadi anak rajin, hadapi bully, dan kembali ke rumah. Hati ini rasanya kesal karena berbagai hal, dari bully hingga orangtua sendiri. Dan tidak ada apa-apa yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya.

Setidaknya, hingga Eli tiba.

-b-

Hanya satu hal yang kurang. Masa lalu. Di sekolah, anak-anak tidak ditugasi membuat proyek-proyek khusus tentang sejarah Blackeberg, sebab memang tidak ada sejarah.

2

Let The Right One In menyentuh banyak isu-isu sensitif. Sebutkan satu-satu, dari pedofilia, pelacuran, seks di bawah umur, transeksual, kekerasan, semua masalah-masalah seperti itu ada.

Tapi, di saat bersamaan, ia juga menampilkan kasih sayang, cinta, dan harapan. Lalu, di atas itu semua, novel ini juga menuturkan apa-apa yang kita siap lakukan demi orang-orang yang kita cintai.

Disturbing, tapi lovely.

Narasinya dibawa a la Stephen King: kisah kota kecil, penduduknya, masalah sosialnya, semuanya dibahas. Tak tanggung-tanggung, satu per satu. Hal tersebut membuat novel ini menjadi panjang, dan di banyak tempat terasa sangat lambat. Beberapa kali, saya mendapati adanya tokoh-tokoh yang nggak saya peduliin tapi menjadi sudut pandang cerita.

Apa yang terjadi? Siapa orang ini? Kenapa dia jadi fokusnya?

Untungnya, hal-hal tersebut terjadi selalu dengan alasan yang kuat. Meskipun, tetap saja, membuat novel ini sangat nggak cocok untuk yang menyukai fast-paced horror story.

“Aku… tidak membunuhi orang-orang.”

“Memang tidak, tapi kau ingin. Kalau bisa. Dan kau benar-benar akan melakukannya kalau terpaksa.”

Horrornya klasik, vampirnya klasik, namun dijejalkan dalam kehidupan modern. Hal tersebut membuat kita melihat culture clash dan konflik psikologis antara sang vampir dengan dunianya, yang terus berubah sementara ia abadi. Penceritaan dari sudut pandang vampir, untungnya, dilakukan dengan sangat baik. Aksi-nya kerasa, horrornya kerasa, gore-nya apalagi.

Truly classic, sedikit banyak mengingatkan saya terhadap Dracula yang legendaris.

Meski demikian, penutup novel ini – dan perangkum kisah ini – dilakukan dengan sangat manis. Lengkap, terbuka, menyediakan ruang untuk cerita berikutnya dengan tetap mempertahankan kekuatannya sebagai standalone novel.

Singkat kata, keren.


Novel ini sudah difilmkan dalam dua film: yang pertama adalah Let The Right One In dari tahun 2008, dan yang kedua adalah Let Me In dari tahun 2010. Yang satu versi Swedia, yang satu Amerika. Saya nggak bakal bilang mana yang lebih bagus, tapi yang jelas dua-duanya mantap. Adaptasi yang bagus dengan tetap mempertahankan unsur-unsur yang membuat novel ini menakjubkan.

Truly worth watching.

trailer:

Aku Tahu Kamu Hantu


Aku Tahu Kamu HantuPas tahu Mbak Eve udah nulis buku berjudul Aku Tahu Kamu Hantu, saya buru-buru ngecek di internet. Kesan pertama dari ngelihat sampulnya, “Wah, bukunya manis. Romance-kah?” Tapi, kemudian saya bertanya, “Terus apa hubungannya sama hantu, kalau romance?” Walhasil, karena saya kurang suka romance, dan masih rada-rada bingung, saya menunda membeli buku ini.

Barulah beberapa minggu kemudian, saat saya ke Gramedia untuk beli sebuah buku, saya nemu buku ini di antara rak-rak. Tadinya saya cuma ngeliat aja, terus ngangguk, mikir, “Oh, ini bukunya Mbak Eve.” Tapi, saya berhenti karena nyadar ada yang ganjil.

Di tengah-tengah sampul bunga tersebut, saudara-saudari, adalah tengkorak.

Tentu saja saya langsung membelalak. Baca blurb di bagian belakangnya, terus saya search di internet melalui hape saya saat itu juga, saya akhirnya ngeh kalau novel ini adalah novel horor. Bukan romance. Hanya saja, gara-gara sampulnya yang kaya’ gitu, dari awal saya kira romance.

Dan sebagai penggemar genre horor, beberapa hari kemudian saya sabet buku ini dari rak.

-b-

Premise utama dari cerita ini cukup sederhana: suatu hari, tokoh utama kita yang bernama Olivia, berulangtahun ke-17. Di hari yang sama, ia mulai bisa melihat makhluk-makhluk halus. Hantu, jin, dedemit, berbagai istilah lainnya – ia bisa melihat mereka. Di saat yang sama, mereka tahu kalau dia bisa melihat mereka.

Penyebab ia bisa melihat hantu? Sederhana: ibunya mewariskan kemampuan tersebut kepadanya. Dan ibunya mendapatkan kemampuan tersebut dari orangtuanya, turun-temurun. Kali ini, giliran Olivia. Dengan kemampuan tersebut, tentu saja muncul berbagai konsekuensi, apalagi Liv (nama panggilannya Olivia) masih bersekolah di SMA. Remaja biasa, cewek dengan segala kerumitan dunia remaja, mendapatkan kemampuan seperti itu?

Namun, itu baru awalnya. Karena, seorang hantu anak laki-laki mendadak mendatanginya. Hantu yang ia kenal, yang berkaitan erat dengan sebuah kasus yang baru saja terjadi di sekolahnya.

“Lambat laun kamu akan terbiasa. Kalau tak dihiraukan, mereka bosan sendiri.”

-b-

Secara keseluruhan, novel ini bagus. Seperempat jalan membacanya, saya menyadari bahwa buku ini (mungkin) memiliki sedikit aura Fantasy di dalamnya. Tidak kental, tapi ada. Kenyataan bahwa (spoiler) Liv bukan satu-satunya yang memiliki kemampuan tersebut? Fakta bahwa ‘hantu’ (spoiler) juga memiliki aturan-aturan mereka, hal-hal dan alasan yang membuat mereka ada?

Kemudian, setengah jalan membaca, tampak jelas bahwa selain horor, tema utama novel ini adalah remaja. Young adult, dengan berbagai permasalahan yang ada di dalamnya. Sangat menarik melihat beberapa adegan, seperti apa yang sebenarnya cewek lakukan di kamar mandi, bagaimana mereka merespons keremajaan mereka. Dengan menyentuh topik ‘perubahan’, sebagaimana remaja lainnya, Liv juga harus beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi pada dirinya. Perubahan-perubahan yang tak dapat ia cegah, seperti pada perasaannya, hubungannya dengan teman-teman dekatnya, dan yang utama: kemampuan uniknya.

Dan tentu saja, segala konsekuensi atas perubahan-perubahan tersebut juga masih harus ia tanggung.

Remaja banget, dan digambarkan dengan gamblang tanpa lebai.

Selain itu, novel ini juga sarat akan tema misteri. Kalau dijelaskan di sini pastinya bakal nggak menyenangkan nantinya pas baca, tapi yang jelas: misterinya keren. Ngalir, bisa ditelusuri, dipahami, dan ditebak. Kalau menurut saya, novel misteri itu bagus banget kalau pembacanya bisa ngikutin dan ngerti. Tapi, bakal lebih bagus lagi kalau pembacanya nggak berhasil, atau gagal, nebak pemecahannya.

Di sini, hal tersebut seluruhnya terpenuhi. Twist di bagian akhir tersebut, jujur, membuat saya sangat bahagia.

“Kamu kira kamu saja yang melihat mereka?”

-b-

Sebagai penggemar horor, menurut saya, ada satu kekurangan besar dari buku ini: kurang seram.

Ya, saya mengerti kalau tema utama novel ini tidak hanya horor tapi juga remaja, supernatural, misteri, dll. Tapi tetap saja, sebagai seseorang yang nyamber buku ini dari rak karena berharap akan mendapatkan cerita novel horor yang mantap, saya agak kecewa. Saya hampir nggak ingat, kapan terakhir kali saya beli dan baca buku novel horor karya dalam negeri. Belakangan ini yang namanya novel horor pasti ada baluran komedi-komedinya gitu. Dan yang nggak ada komedi-komedinya biasanya terlalu garing nyeritainnya.

Meski demikian, horor di dalam cerita ini ngena. Saya bisa mengerti perasaan helplessness yang dialami oleh protagonis, kengerian dan kebingungan yang dialaminya. Saya bisa ngerti horornya. Tapi, teuteup, menurut saya kurang serem. No offense lho, Mbak Eve :]

Overall, buku ini bagus. Lumayan, untuk mengurangi dahaga akan karya-karya dalam negeri yang nggak terbalur oleh agama, ideologi, dramatisasi, apalagi politik. Aku Tahu Kamu Hantu adalah sebuah novel horor-misteri untuk remaja, dan ia memenuhi peran tersebut dengan sangat baik.

Oh, dan top jempol buat ilustratornya 😀

Baca Hujan, Triwulan Satu


Triwulan PertamaTerhitung dari postingan pertama blog ini, sudah tiga bulan Baca Hujan berjalan. Tiga bulan, empat minggu, satu buku tiap minggunya: satu triwulan ditandai dengan sudah adanya dua belas buku saya ulas, pajang, dan promosikan di sini. Dua belas buku bacaan favorit saya, dari berbagai genre.

Oleh karena itu, untuk memperingati tiga bulan berjalannya Baca Hujan, saya akan melakukan sedikit ulasan singkat tentang keduabelas buku yang sudah saya ulas di sini. Diurut dari yang paling lama diposting hingga yang paling baru, dan lengkap dengan link ke masing-masing postingan ulasan.


1. Ender’s GameOrson Scott Card

Baru saja dijadikan film layar lebar, Ender’s Game membawa kita mengikuti kisah Ender Wiggin, seorang anak laki-laki jenius yang direkrut oleh pemerintah di masa depan dan dilatih untuk menjadi pemimpin pasukan perlawanan terhadap invasi Alien bersama dengan anak-anak jenius lainnya dari seluruh dunia. Sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

2. Mimpi-Mimpi EinsteinAlan Lightman

Separuh memoir separuh kumpulan jurnal mimpi, Mimpi-Mimpi Einstein berisikan tulisan-tulisan karya Alan Lightman mengenai gagasan-gagasan Einstein akan ruang dan waktu. Setiap bab adalah sebuah dunia dengan keunikan-keunikannya tersendiri, namun begitu familiar dan dekat dengan kita hingga terasa sangat nyata dan retrospektif.

3. The Age of MiraclesKaren Thompson Walker

Novel remaja yang sangat dewasa, fantastik sekaligus realistis, The Age of Miracles mengisahkan dunia yang kehilangan rotasinya. Malam dan siang terentang menjadi lebih panjang. Di tengah-tengah hancurnya peradaban, seorang remaja perempuan berefleksi pada segala perubahan yang ada – baik pada dunia, masyarakat, sekolah, teman-temannya, keluarganya, hingga dirinya sendiri.

4. Samudra di Ujung Jalan SetapakNeil Gaiman

Sebuah novel untuk anak-anak dalam diri setiap orang dewasa, Samudra di Ujung Jalan Setapak mengantarkan pembaca ke dalam dunia kanak-kanak, penuh dengan fantasi, alegori, metafor, dan imajinasi. Atau, benarkah mereka imajinasi? Jalan setapak yang dulu kita lalui, yang kita percaya mengantarkan kita ke istana naga? Ingatan tentang seorang anak perempuan yang mengaku kolam di rumahnya adalah Samudra?

5. EdensorAndrea Hirata

Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang legendaris, Edensor mengisahkan perjalanan Ikal dan Arai saat berkuliah dan backpacking di Eropa. Nuansa Paris yang nikmat, Eropa yang beragam, pergaulan dan budaya yang berbeda, begitu menyentuh dalam kisah ini.

6. Vader’s Little PrincessJeffrey Brown

Sebuah fan-work dari Mr. Brown, Vader’s Little Princess membayangkan sebuah dunia di masa lalu di galaksi yang sangat, amat jauh, di mana Mr. Vader membesarkan Leia, putrinya. Menguasai seluruh galaksi, pesawat sebesar bulan, dan menghancurkan planet-planet pemberontak? Nanti dulu, karena Darth Vader harus mengantarkan Leia kecil ke sekolah.

7. The 13 ClocksJames Thurber

Novel ringan, ilustratif, dengan cerita sederhana dan didesain untuk dibaca segala usia – terutama anak-anak? Menggabungkan unsur fantasi, middle-age, sekaligus semi-fiksi ilmiah? Dengan unsur konspirasi a la kerajaan dan ksatria yang tidak klise? Silakan baca ini. Tersedia gratis untuk diunduh lho.

8. CarrieStephen King

Master genre horror Stephen King pernah berkata bahwa Carrie bukanlah karya yang ia banggakan, namun kisah seorang gadis dengan kemampuan telepati a la Jean Grey serta semi-biblical force ini telah diadaptasi ke dalam tiga film layar kaca dan memiliki fans mengglobal. Nikmati horrornya, dan betapa dekatnya kisah ini dengan aroma remaja masa kini.

9. Magical Game Time Vol. 1Zac Gorman

Senang main video game? Pernah bertualang di dunianya Zelda, Mario, Sonic, dan banyak permainan konsol lainnya? Menikmati Final Fantasy? Magical Game Time Vol. 1 adalah kumpulan karya-karya Zac Gorman; komik-komik, ilustrasi, dengan tema game. Kocak, sedih, dan keren sekaligus dalam satu buku!

10. Catching FireSuzanne Collins

Protagonis yang mandiri, kuat, jago memanah, namun tetap erat dengan jati dirinya sebagai perempuan? Sebuah TV Show a la Battle Royale yang diselenggarakan pemerintah korup? Distopia, dan konspirasi? Plus kisah cinta segitiga yang benar-benar mengena, membuat buku ini layak menjadi sekuel yang sangat kuat dari The Hunger Games.

11. SteelheartBrandon Sanderson

Sepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya misterius muncul di langit. Orang-orang tertentu mulai mendapatkan kekuatan super di saat bersamaan, dan masyarakat – manusia biasa – menamai mereka Epics. Twist: tak ada superhero. Semuanya supervillain.

12. The Amulet of SamarkandJonathan Stroud

Sesuatu terjadi di masa lalu, sesuatu yang membuat para penyihir, alih-alih bersembunyi dari manusia biasa, justru mengambil alih pemerintahan dan membangun peradaban. Di dunia Nathaniel, para penyihir memerintah kerajaan Inggris. Twist: tidak ada tongkat sihir. Setiap penyihir membutuhkan jin untuk bisa menyihir.


Lalu, karena pada peringatan Triwulan ini saya tidak akan memposting ulasan buku, sebagai gantinya saya akan ulas sebuah cerita pendek yang sangat menarik yang saya temukan. Jadi, ini dia:

A Study in Emerald by Neil Gaiman

-o0o-

A Study in Emerald

Cerita pendek satu ini bisa dibilang semacam crossover antara Sherlock Holmes dengan Lovecraft. Dari judulnya saja bisa dibilang sudah hampir ketahuan ‘kan? A Study in Emerald dengan A Study in Scarletsalah satu kisah penyidikan legendaris Sherlock Holmes karyanya Sir Arthur Conan Doyle. Tapi, mungkin ada yang bertanya-tanya: Lovecraft itu apa ya? Atau siapa? Nah, silakan bisa dibaca dulu mengenai beliau di sini.

Mengenai ceritanya sendiri, bisa dibilang, nggak bakal seru lagi kalau saya beritahu meski hanya sedikit saja ceritanya di sini. Serius. Membaca A Study in Emerald, saya dapat feel-nya karena kagetnya. ‘Wah’-nya. Awalnya saya kira begini, lanjutnya ternyata begitu. Perasaan saya dibolak-balik dicampur-aduk sampai kaya blender. Pokoknya ‘Wah’ karena saya tidak tahu, tidak menduga. Jadinya seram juga.

So… simply, I’d say, save the surprise for the time when you’re reading it.

Cerita pendek ini bisa dibaca gratis di sini. Mr. Gaiman juga memiliki banyak koleksi cerita pendek lainnya yang bisa dibaca di situs resmi beliau. Tepatnya di sini. Selamat membaca!

Carrie


CarrieSalah satu karya klasik, Carrie adalah buku pertama Stephen King yang kubaca saat SMP. Aku masih ingat, buku ini tergeletak di salah satu sudut perpustakaan yang memuat buku-buku berbahasa inggris. Tak ada yang mau membacanya, karena, apa boleh buat, di SMP-ku saat itu bahasa inggris belum begitu populer.

Carrie White, tokoh utama kisah ini, adalah gadis remaja yang memiliki seorang ibu religius fanatik. Ia tidak populer, dan seringkali menjadi korban ejekan, bully, karena ia dianggap mirip seperti ibunya: fanatik. Carrie sendiri hanya ingin menjadi gadis normal, tidak diejek, melirik cowok, berangan-angan bisa ikut pesta dansa, dan seterusnya.

Suatu hari, setelah rangkaian kejadian rumit, seorang temannya – merasa menyesal karena perbuatannya pada Carrie – meminta pacarnya untuk mengajak Carrie ke pesta dansa. Di saat bersamaan, seorang gadis lain dan kawan-kawannya berniat membuat Carrie menderita atas kesulitan yang telah diakibatkannya.

Kupikir ia tidak tahu ada hal seperti haid hingga setengah jam yang lalu.

Carrie adalah persentuhan pertamaku dengan hal-hal mengenai… kewanitaan. Bisa dibilang seperti itu. Sebagai cowok ABG yang hidupnya cuma di kalangan cowok-cowok ABG lainnya, membaca buku ini memberikan – sedikit banyak – pembukaan wawasan untukku. Aku menjadi bisa mengerti mengapa  cewek-cewek ABG lainnya, di SMP dan SMA, bertingkah yang menurutku agak ganjil.

Lalu, narasinya yang blak-blakan membuatku kurang nyaman – kasarnya agak jijik – dalam membacanya. Deskripsi darah yang membuncah, membanjir, korban-korban yang berjatuhan, juga sangat detil hingga membuat mual. Namun, kukira itulah poinnya. Sembilan tahun kemudian, membaca buku ini lagi dalam versi bahasa Indonesia, aku masih merasa mual juga. Mungkin kami – para lelaki – memang seperti itu, selalu takut pada wanita dari hati yang paling dalam.

Hasil dari perkara White menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serius dan sulit. […] Bisakah kau menyalahkan fisikawan terkemuka seperti Gerald Luponet yang menyatakan bahwa semua ini hanya lelucon dan tipuan, bahkan setelah menghadapi bukti yang berlimpah seperti yang diajukan Komisi White? Karena jika Carrie White adalah kebenaran, lalu bagaimana dengan Newton?…

Banyak hal dalam buku ini menjadi perintis bagiku dalam memasuki dunia fiksi ilmiah. Yap, agak mengejutkan juga bagiku. Sebelum membaca Carrie, tidak pernah terbayang olehku ada yang namanya Telekinesis, Telepati, Pyrokinesis, dst.

Carrie membawa kita ke kehidupan remaja sehari-hari. Isinya lengkap: seorang remaja yang tidak populer dan sering di-bully, seorang remaja yang benar-benar menyesali perbuatannya dan ingin melakukan sesuatu demi menebus kesalahan, seorang cowok gentleman, seorang cewek (dan kawanannya) yang jahat, guru yang baik, kepala sekolah yang serbasalah, dan masih banyak lagi.

Hal-hal tersebut, saat itu, masih jarang diangkat: fiksi-fiksi klasik biasanya berkisar mengenai kehidupan di negara fantasi, di dunia di mana kehidupan dapat diuntai dengan cantik layaknya sutra, di tempat-tempat nun jauh, tempat kita bisa masuk ke dalamnya dan melarikan diri dari kehidupan (contoh: The Lord of the Rings, Chronicle of Narnia, 2001: Space Odyssey, Pride and Prejudice, Romeo and Juliet, etc.). Carrie merupakan salah satu perintis munculnya realistic fiction – fiksi yang mengisahkan kehidupan sekitar kita, mengurung kita dalam kenyataan – dan membombardir kita dengan kengerian yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Akibat keyakinan keagamaan pasangan White yang nyaris fanatik, Mrs. White tidak mempunyai kawan untuk menemaninya melewati masa dukanya. Dan ketika proses melahirkan dimulai tujuh bulan kemudian, ia sendirian.

Lalu, buku ini mengenalkan istilah ‘religious fanatic‘ jauh sebelum budaya pop mengangkatnya di film-film. Tahun ini, membaca Carrie lagi, aku merasa tertohok: kelompok fanatik bukan hanya ada di negara-negara jauh sana, dan mereka tak terbatas pada agama tertentu saja. Kelompok fanatik ada di TV, ada di sekitar kita, membanjiri jalan-jalan saat bulan puasa sekalipun, dan menghiasi halaman-halaman pertama surat kabar. Mereka tidak mau bertoleransi pada kita, dan kita tak mau bertoleransi pada mereka. Walhasil, tinggal menunggu seseorang untuk ‘terlecut’ – layaknya Carrie – dan membombardir dunia kita dengan kekacauan.

Tidak nyaman, ‘kan?

Padahal, tidak semua dari mereka jahat. Dan tidak semua dari mereka baik. Beberapa hanya bertindak atas apa yang mereka yakini, dan atas apa yang kita perbuat terhadap mereka. Seperti Mrs. White, maupun seperti Carrie sendiri.

Kami hanya anak-anak. Anak-anak yang mencoba melakukan yang terbaik.

– Susan Snell

Tapi, di atas itu semua, buku ini sebenarnya sederhana. Ia berkisah mengenai anak-anak, mengenai para remaja dan kehidupan mereka. Carrie, teman-teman di SMA-nya, bahkan orang-orang yang mengerjainya, hanyalah anak-anak. That hits close: membacanya lagi sekarang, aku ingat bagaimana dulu saat masih SMP dan SMA. Menjadi remaja, yang bingung, yang kaget, yang terpana-pana atas perubahan yang ada dan berusaha sekuat tenaga menyesuaikan diri, menonjol, menjadi yang terbaik. Atau, minimal, membaur dengan sesama.

Dan menurutku itu sangat fatal: kenyataan bahwa Carrie dan anak-anak lainnya, para korbannya, hanyalah anak-anak benar-benar fatal. Tragedi yang terjadi dalam buku ini bukan kesalahan mereka melainkan para orang-orang dewasa. Seandainya Mrs. White tidak fanatik. Seandainya guru-guru di sekolah lebih tegas. Seandainya orangtua cewek-cewek yang mem-bully Carrie bisa mengajari anak mereka lebih baik lagi. Dst.

Dan dengan umur kita yang semakin bertambah, sanggupkah kita menjadi orang dewasa yang baik?


Carrie sudah difilmkan tiga kali. Yang sekarang sedang tayang di bioskop, disutradarai oleh Kimberly Pearce dan dibintangi oleh Chloe Moretz, sudah kutonton juga. Cukup bagus, kalau menurutku. Cukup sesuai dengan jalan cerita aslinya, ide-ide dasarnya. Berikut trailernya, siapa tahu tertarik.