Gelombang 5 (The 5th Wave)


The 5th Wave

Jika alien sampai mengunjungi kita, menurutku konsekuensinya akan hampir serupa dengan ketika Christopher Columbus pertama kali mendarat di Amerika, yang ternyata dampaknya tak terlalu bagus bagi penduduk asli Amerika.

-Stephen Hawking

Setelah dekade demi dekade perdebatan mengenai “apakah kita sendirian di alam semesta”, akhirnya para Alien tiba. Mereka ‘memarkir’ kendaraan mereka di luar angkasa, dan setelah kepanikan yang mengiringi kemunculan mereka, seluruh dunia mencoba move on. Melanjutkan hidup. Mereka tak menunjukkan tanda-tanda ingin berkontak, jadi untuk apa peduli? Hanya para ilmuwan dan politikus dan orang-orang atas yang masih berdebat habis-habisan.

Protagonis kita pun salah satu dari yang mencoba tetap hidup seperti biasa, pergi ke sekolah, bertemu teman-temannya, pulang ke rumah, ngobrol dengan sahabatnya, naksir cowok, dan seterusnya. Normal.

Kemudian, serangan demi serangan datang. Gelombang demi gelombang, tanpa para Alien turun ke bumi. Pada gelombang serangan yang pertama, mereka mematikan seluruh listrik di bumi. Kedua, mereka menjatuhkan tonggak besi yang menusuk patahan benua, menimbulkan gempa dan tsunami dalam skala raksasa. Ketiga, mereka menyebarkan penyakit menggunakan burung-burung di bumi. Keempat, mereka merasuki tubuh manusia dan memburu orang-orang yang tersisa satu per satu.

Tanpa ada yang bisa dipercaya, protagonis kita, seorang gadis remaja bernama Cassie, mencoba bertahan hidup seorang diri. Tapi, ia memiliki tujuan: menyelamatkan adiknya dari cengkeraman para Alien. Di saat yang sama, seorang remaja laki-laki mendapati dirinya diselamatkan oleh militer, yang melatih dirinya – dan ratusan anak muda lainnya yang selamat – untuk bersiap bertempur melawan Alien.

Namun, kapan para Alien akan benar-benar turun ke bumi untuk menghadapi kita? Kapan gelombang serangan kelima akan tiba? Apakah akan ada gelombang kelima? Kalau ada, seperti apa serangan tersebut nantinya?

-a-

Sudah lama berselang sejak manusia menjadi mangsa binatang… Namun dalam gen kita, ingatan tersebut terkubur dalam-dalam: kewaspadaan kijang, naluri antelop. Angin yang berbisik menembus rerumputan. Bayangan yang berkelebat di sela-sela pepohonan. Dan ada suara lirih yang berbisik, Sst, dia sudah dekat. Dekat.

Belakangan ini, ada semacam trend untuk membuat novel-novel young adult menjadi lebih realistis, mengena, dan akurat (cek: Divergent, Starter, More Than This). Lebih jauh lagi, ada dorongan untuk memberikan karya-karya fiksi ilmiah/sci-fi yang menampilkan ‘serbuan’ Alien yang lebih seru (cek: Dark Skies). ‘Seru’ di sini bukan berarti ledakan-ledakan, aksi non-stop, tapinya: ‘seru’ di sini berarti Alien digambarkan sebagaimana apa yang diimplikasikan oleh Prof. Stephen Hawking sebagaimana terkutip di atas – kata-kata yang juga dikutip di bagian paling awal novel ini: Alien itu cerdas.

Sebuah klise/trope yang sejauh ini sering digunakan dalam kisah penyerbuan Alien ke bumi adalah, pada akhirnya, manusia dapat mengesampingkan berbagai perbedaan mereka dan mengalahkan Alien dengan power of friendship atau, lebih ‘mantap’ lagi, pure unused potential. Klasik, dan meski memang terasa seru, tampilan ini – menurut saya sendiri – tak realistis. Karena, mari renungkan: sebuah ras yang mampu mengatasi masalah jarak, waktu, menempuh perjalanan bertahun-tahun cahaya dari dunia mereka untuk datang ke bumi, bisa dihentikan dengan teknologi kita saat ini?

Oleh karena itu, saat saya mendapati Rick Yancey menggambarkan Alien sebagaimana mestinya – kuat, pintar, tanpa ampun, namun juga memiliki kemiripan dengan kita – saya acung jempol. Di sisi lain, keberadaan villain seperti itu membuat para protagonis kita terjerumus dalam situasi penuh keputusasaan, kesulitan, konflik fisik dan batin non-stop. Helplessness menjadi faktor utama yang menjadi api bagi novel ini.

Sehingga, dalam beberapa bagian, saya bisa mengkategorikan novel ini ke dalam genre horror tanpa ragu.

-a-

Sayangnya, sama seperti banyak novel YA lainnya, karakterisasi di novel ini masih terasa lemah. Penokohan terkuat justru ada di pihak para penjahat: dua jenis Alien, yang satu penuh rasa ingin tahu dan satu lagi tanpa ampun. Di luar itu, sulit menemukan tokoh dengan pondasi yang kuat. Bahkan Cassie, sang protagonis, terasa labil dan berubah-ubah tak menentu.

Meski demikian, dari segi plot, novel ini bisa dibilang adalah jawara. Dengan sukses, Rick Yancey membuat cerita dengan menghindari trope-trope yang klise tanpa mengorbankan alur kisahnya. Banyak kejutan di sana-sini, twist yang membuat mual karena sulit untuk ditebak, dan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pembaca menebak-nebak hingga halaman terakhir. Penceritaan dilakukan dengan sudut pandang orang pertama, dan narasinya – meski tak begitu kuat – cukup bagus dan terasa mengalir.

Bukankah mereka cerdik?” gumam Ringer, seolah membaca pikiranku. “Pakai wajah manusia supaya tidak ada manusia yang bisa dipercaya. Satu-satunya solusi: Bunuh semua orang atau mengambil risiko terbunuh oleh siapa saja.”

Kalau boleh disama-samakan, novel ini terasa seperti The Host karya Stephenie Meyer (yang sudah dibuat jadi film layar lebar) dengan tingkat pendalaman yang lebih baik. Romansanya mungkin tidak sama dengan yang di The Host, tapi dari segi plot, banyak lubang yang sudah ditutup di The 5th Wave. Dari banyak segi, The 5th Wave juga menyerupai The Hunger Games (sebagaimana ditulis di tagline): kedua-duanya berkisah mengenai seorang remaja perempuan. Kedua-duanya berkisah mengenai upaya remaja tersebut bertahan hidup menghadapi bahaya yang tak bisa ia hadapi. Helplessness, tentu saja. Dan romansanya juga ada.

Plus, kedua-duanya menampilkan tokoh perempuan, remaja, yang kuat, mandiri, nan tangguh.

-a-

Akhirnya adalah, kami saling membunuh di balik deretan lemari pendingin bir kosong dalam cahaya matahari yang hampir lenyap pada suatu hari di pengujung musim panas.

Untuk penggemar novel YA, remaja, atau sci-fi, novel ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Bagus, seru, mengalir, dan memiliki plot yang kuat. (Spoiler: sekuelnya juga sedang dikerjakan).

Tapi, ada sedikit dilema: Aku kurang yakin mau mengkategorikan ini ke novel remaja. Tidak saat ada adegan-adegan kekerasan eksplisit dan seks (meski implisit). Tapi, sepertinya masih dalam kategori YA – karena, bagaimanapun juga, YA, berarti young adult (dewasa muda), ‘kan?

Bagaimanapun, novel ini totally worth reading. Persiapkan dirimu untuk terkejut.

More Than This


More Than ThisSangat sedikit buku Young Adult yang dapat membuat pembacanya berpikir mendalam, dan More Than This adalah salah satu yang sanggup melakukannya dengan mudah. Di awal, kita diperkenalkan kepada Seth: seorang anak laki-laki biasa yang sedang tenggelam di laut. Digambarkan dengan narasi yang sangat ilustratif, kita melihat bagaimana Seth terhempas oleh gelombang ke batu karang, tewas dengan kepala pecah seperti cangkang telur.

Dan itu baru permulaan.

Beberapa saat berikutnya, Seth terbangun di sebuah tempat, digambarkan dengan narasi yang sangat membingungkan – sebingung tokoh utama kita saat ia baru terbangun – dan mendapati bahwa ia berada di sebuah daerah suburban. Jalanannya, rumah-rumahnya, semuanya merujuk pada kompleks perumahan.

Hanya saja, tidak ada seorang pun di sana. Bangunan-bangunan tampak terbengkalai, kendaraan tidak ada pengemudinya, tanaman, hewan, dan burung telah mengambil alih kembali dunia.

Kemudian, ia ingat apa yang terjadi padanya. Ia sudah mati, sudah tenggelam dengan kepala pecah dan otak berhamburan, mungkin terkubur jauh di dasar lautan. Sehingga, kemungkinan besar tempat tersebut adalah alam barzah. Atau lebih mungkin lagi, tempat tersebut adalah neraka: sebuah rumah dari masa lalunya, rumah yang ia dan keluarganya berjanji untuk tidak pernah datangi lagi, tempat yang mereka tinggalkan jauh menyeberangi samudra untuk melupakannya setelah peristiwa yang menimpa adiknya.

Dan ketika ia mulai menyusuri tempat tersebut, sendirian, seorang diri, ia mendapati bahwa ia lagi-lagi salah.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar telah terjadi. Sesuatu yang telah membuat semua manusia, bersama-sama, meninggalkan dunia – kalau tempat tersebut bisa disebut dunia – yang mereka tinggali jauh di belakang.

***

2

Cover photos by Matt Roeser

Ini bukan buku Young-Adult biasa, itu hal pertama yang harus dipahami. Tidak ada aksi yang mendebarkan, romansa antara tokoh cowok-ganteng-banget dengan tokoh cewek-cantik-amat di dalamnya. Tentu, ada adegan kekerasan, jika itu yang kau inginkan, tapi untunglah hanya sedikit. Namun, dengan tebal nyaris mencapai 500 halaman, Patrick Ness dengan gamblang menuliskan kisah petualangan tokoh-tokoh utamanya dengan begitu mengalir. Halaman demi halaman bisa dilalui dalam sekejap.

Novel ini dimulai dengan cukup lambat, dengan seorang tokoh utama perlahan-lahan mempelajari dunia sekelilingnya seorang diri. Ia cukup cerdas untuk menjelajah dengan hati-hati, dan cukup kuat untuk bisa bertahan hidup. Dalam mimpi-mimpinya, ia juga teringat akan masa lalu yang membahagiakan, namun di saat bersamaan cukup kelam. Ia mulai bertanya-tanya apa makna dari hidup, kelahiran, dan kematian, jika neraka yang ia terima adalah didamparkan seorang diri di sebuah tempat yang memenuhinya dengan perasaan bersalah.

Awal yang lambat dan panjang tersebut mungkin akan mengganggu para pembaca yang tidak sabaran, yang menyukai action-packed scenes atau hot scenes atau adegan-adegan yang silih berganti. Tapi, jika berhasil melewatinya dan memahaminya, begitu sampai di tengah – saat suatu pengungkapan kembali dihadapkan pada pembaca – kita akan mendapati bahwa segalanya, secara sederhana, makes sense. Yap, angguk-angguk. Kemudian kita (spoiler) dihadapkan pada tokoh-tokoh lainnya, dan bersama, mereka akan menjelajahi dunia tersebut.

Token

Dilihat dari permukaannya, novel ini mirip dengan The Matrix yang digabungkan dengan The 5th Wave. Dua-duanya sama-sama membawa kita mempelajari, perlahan-lahan, mengenai apa yang telah terjadi pada dunia, bagaimana nasib semua orang, dengan gambaran yang sangat realistis. Berbagai pertanyaan filosofis dilontarkan di dalamnya, mengenai dunia nyata dan dunia mimpi, serta apa yang akan kita berikan demi mendapatkan dunia yang sempurna. Misteri yang diberikan nyaris menyamai level Inception: saat saya kira saya mengerti, ternyata ada twist lagi di sana-sini.

Namun, di saat bersamaan novel ini juga, tepat di hatinya, adalah novel remaja. Young-adult. Kita mendapati tokoh utama dengan orientasi seksual yang tidak sama dengan mayoritas orang di lingkungannya, kita mengikuti, melalui flashback, bagaimana ia mencoba mengatasi hal tersebut dan tetap melanjutkan hidupnya. Dengan gamblang, Patrick Ness menggambarkan dunia remaja sebagaimana dunia remaja: tempat anak-anak dengan fisik yang terus tumbuh, hormon terus berkembang, yang tidak mengerti dirinya sendiri apalagi dunia di sekelilingnya, yang terus-menerus ditekan dari segala arah dan terus berusaha sebaik-baiknya.

But imagine there’s this thing that always sits there in the room with you. And everyone knows it’s there and no one will ever say a single goddamn word about it until it becomes like an extra person living in your house that you have to make room for. And if you bring it up, they pretend they don’t know what you’re talking about.

Secara menyeluruh, buku ini sangat bagus. Narasinya begitu mengalir, tokoh-tokohnya terasa sangat dekat, dan penceritaannya dilakukan dengan sangat realistik. Dan jangan lupa, unsur fiksi ilmiah di dalamnya sangat luar biasa.


Trailer untuk buku ini:

Tersulut – Catching Fire


Catching Fire (The Hunger Games #2) (Movie tie-in)The Hunger Games. Serial yang menampilkan ulang Battle Royale untuk para pembaca remaja. Itulah kesan yang ditampilkan oleh novel pertamanya, sebelum Catching Fire tiba, sebuah sekuel yang mengubah The Hunger Games dan menjadikannya lebih kuat lagi.

Cerita dimulai dengan Katniss, yang memenangkan The Hunger Games ke-74 bersama Peeta Melark, kembali ke Distrik 12 dan mencoba menjalani kehidupan normal. Alas, tidak ada kehidupan normal untuk para pemenang The Hunger Games. Ia kini seorang figur publik berkat aksinya menjelang akhir permainan beberapa bulan sebelumnya, dan lebih daripada yang diinginkan siapa pun, ia menjadi sangat terkenal.

Orang-orang di distrik lain menganggapnya sebagai simbol pemberontakan terhadap Capitol, terhadap sistem diktatorial yang telah melingkupi Negara Panem selama 70 tahun lebih. Begitu hebatnya popularitas sosok dirinya hingga Presiden Snow, Sang Diktator harus turun tangan, menemui Katniss dan mengancamnya agar ia bisa meredam pemberontakan di distrik-distrik dalam Tur Pemenang yang dia lakukan bersama Peeta.

Bagaimana ia bisa melakukannya? Tentu dengan menjadi pengalih perhatian. Ia dan Peeta menonjolkan ‘sandiwara’ cinta mereka kepada masyarakat, ‘berpura-pura’ akan menikah, mencoba mengambil hati rakyat dengan kisah cinta remaja yang manis. Hasilnya? Tentu saja dia gagal.

…no, seriously. Seberapa putus asanya mereka sampai bisa berpikir untuk meredam semangat pemberontakan dengan mempertontonkan kisah cinta pasangan remaja yang nyata-nyata digenggam nasibnya oleh pemerintah? Bahkan masyarakat distrik pun tahu akan ‘sandiwara’ tersebut. Keributan terus menyebar dimana-mana

Sementara itu, jarum terus berputar, Tur Kemenangan usai, dan ancaman-ancaman baru menanti di Distrik 12. Hidup semakin tidak aman, baik bagi Katniss, keluarganya, dan penduduk di kotanya. Sementara itu, The Hunger Games ke-75 kian mendekat. Dan untuk kali ini, ada kejutan besar yang menanti, dan tidak hanya untuk Katniss, tapi juga untuk Peeta, Haymitch, dan para pemenang The Hunger Games sebelumnya.

Burung, pin, lagu, buah berry, jam, biskuit, gaun yang terbakar. Akulah mockingjay. Orang yang selamat dari rencana-rencana jahat Capitol. Lambang pemberontakan.

Sekali lagi, Catching Fire dengan sukses membabat habis kesan-kesan yang ditonjolkan oleh buku pertamanya. Dengan novel ini, Suzanne Collins menunjukkan bahwa, bukan, ini bukan mengenai Battle Royale-nya. Unsur tersebut ada, ya, tapi hanya bayang-bayang dari sosok yang sesungguhnya, inti serial ini yang sebenarnya. Dan apa, intinya, sesungguhnya?

Jawabannya ada di halaman demi halaman Catching Fire. Kita mendapatkan expanded universe, detailed history, more character depth, dan konspirasi sekaligus. Mrs. Collins melukiskan sebuah negara yang begitu kaku, daerah-daerah yang miskin, sumberdaya yang dikuras habis,  dan orang-orang kaya serta berpendidikan di ibukota yang dihibur setiap saat oleh teknologi, acara TV, dan kenyamanan-kenyamanan lainnya.

Familiar? Mungkin karena kondisi tersebut tak jauh berbeda dari yang kita lihat sehari-hari. Beberapa perbedaannya hanyalah waktu (latar cerita ini adalah ratusan tahun di masa depan), tempat, dan pelaku. Dan adanya The Hunger Games sebagai alat untuk menakut-nakuti masyarakat non-Capitol.

Karena aku egois. Aku pengecut. Aku adalah tipe gadis yang ketika dibutuhkan malah bakalan lari menyelamatkan diri dan meninggalkan semua orang yang tidak bisa mengikutinya untuk menderita dan mati.

Inilah gadis yang ditemui Gale di hutan hari ini. Tidak heran kalau aku memenangkan Hunger Games. Tidak ada orang yang berperikemanusiaan yang bisa menang.

Salah satu segi lainnya yang unik dari Catching Fire, atau dari serial The Hunger Games secara keseluruhan, adalah fakta bahwa tokoh protagonisnya bukanlah pahlawan. Ini sangat menarik. Serial ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca bisa melihat kisah ini langsung dari mata Katniss. Banyak cerita-cerita Young-Adult, Fantasy/Sci-Fi lain yang seperti ini, namun di buku ini pembaca dapat benar-benar membaca bagaimana rasanya membaca kisah sejenis ini (dystopia, conspiracy, dll.) tidak dari sudut pandang seorang pahlawannya.

Jangan salah – Katniss menjadi tokoh pemberontakan, berkat apa yang telah ia lakukan. Namun, dari sudut pandangnya, dia tidak melakukan itu semua untuk memberontak. Dia hanya berusaha bertahan hidup, menyelamatkan dirinya dan orang-orang terdekatnya. Dia berusaha tidak mengganggu ‘orang-orang atas’, mengguncangkan pemerintahan, apalagi menjatuhkannya. Baca: dia hanyalah gadis biasa. Gadis biasa yang memiliki kemampuan memanah sangat baik, ya, tapi benar-benar gadis biasa. Dia ‘dipaksa’ untuk menjadi simbol. Mereka semua berusaha memanfaatkannya.

Banyak yang harus kucerna dalam cerita ini, dalam rencana rumit yang menjadikanku sebagai pion, seperti halnya aku menjadi pion dalam Hunger Games. Dimanfaatkan tanpa izin, tanpa tahu apa-apa.

Setidaknya, dalam Hunger Games, aku tahu aku sedang dijadikan mainan.

Reluctant heroes, atau bahkan manipulated heroes, selalu menjadi sesuatu yang istimewa. Tidak seperti para pahlawan di kisah-kisah yang biasa, yang tradisional, yang senantiasa mencerminkan kebaikan, perjuangan untuk orang banyak, rela mengorbankan diri, dsb., protagonis dalam kisah-kisah seperti Catching Fire memberi kita gambaran mengenai bagaimana orang-orang biasa – sebagian besar anak-anak muda – yang memiliki kemampuan, pengaruh, namun tidak mendukung adanya ‘revolusi’ dimanfaatkan oleh para penguasa. Mereka masih lugu, masih tidak tahu apa-apa, dan begitu mudah untuk digerakkan. Mirip dengan yang ada di kehidupan nyata.

Mirip dengan rombongan anak muda yang digerakkan untuk mendemo pemerintahnya, atau untuk mendemo balik para pendemo. Bentrokan terjadi, dan para penguasa yang mengangguk-angguk puas.

Namun, di atas semua manipulasi, konspirasi, dan segala permainan para penguasa tersebut, yang  jauh lebih menarik lagi adalah menyaksikan para protagonis tersebut mencoba untuk tetap bangkit. Untuk tetap berjuang, tetap bertahan, dan tidak menyerah. Untuk berusaha kembali menyulut semangat mereka, membakarnya, dan melangkah maju, dengan membawa seluruh kenangan para pejuang lainnya di setiap langkah mereka.

Kesimpulannya: buku ini sangat bagus. Jauh melampaui buku pertamanya, dan menjadi jembatan yang sempurna menuju buku ketiga, Mockingjay.


Catching Fire sudah dijadikan film layar lebar. Berikut trailer-nya.

Vader’s Little Princess


Vader's Little Princess

Sebagian besar dari kita pasti pernah menonton Star Wars. Salah satu kisah epik fiksi ilmiah sepanjang masa, serial Star Wars telah membentang sepanjang enam film (bahkan sebentar lagi dikabarkan akan ada yang terbaru, setelah Disney membeli hak ciptanya tahun lalu), berbagai jenis mainan, kartun, video games, dan buku-buku. Salah satunya adalah Vader’s Little Princess, sebuah buku komik ilustratif karya Jeffrey Brown.

Vader’s Little Princess berisi komik-komik kecil dengan latar dunia Star Wars, namun ada sedikit twist: Darth Vader, dalam kisah ini, membesarkan putrinya, Leia. Dalam kisah ini, kita menyaksikan bagaimana Darth Vader menjadi seorang ayah, sekaligus seorang Sith – tangan kanan Sith Lord – yang menguasai galaksi.

Lucu, menggemaskan, cerita-cerita di dalamnya menggabungkan kisah-kisah seorang ayah dan Star Wars dengan baik. Ada kisah Darth Vader yang akan membunuh admiralnya, namun terhenti karena Leia muncul dan memeluknya. Ada kisah Darth Vader yang mengamati bagaimana putrinya tumbuh besar, berpacaran dengan (yang sudah kita kenal, tak lain dan tak bukan) Han Solo yang kesohor.

IMG_5246

IMG_5244

IMG_5243

Beberapa kisah mengejutkanku: beberapa karena begitu lucu, begitu mudah untuk dihubungkan dengan peristiwa sehari-hari, dan beberapa karena mengharukan.

rebellious

Vader’s Little Princess adalah proyek Star Wars kedua dari Jeffrey Brown setelah Darth Vader and Son. Kalau di Vader’s Little Princess kita melihat Sang Sith sebagai ayah dari seorang anak perempuan, di Darth Vader and Son kita melihatnya sebagai ayah seorang anak laki-laki. Cerita di kedua buku ini sesungguhnya saling berhubungan, dengan Luke muncul di VLP dan Leia di DVS. Tokoh-tokohnya juga sama.

Dan ceritanya, di kedua buku itu, juga cukup hangat, ringan, dan nostalgik. Cocok untuk dibaca oleh kita, generasi Star Wars, penyuka fiksi ilmiah, dan penggemar komik secara menyeluruh.

The Age of Miracles: Yang Pernah Ada


18044961

Tepat dua hari sebelum berangkat praktek lapang di gunung selama tiga minggu penuh, aku menemukan buku ini di Gramedia. Ditaruh di bagian ‘Young Adult’, aku merasa tertarik pada sampulnya yang sangat simpel: langit berwarna keunguan, seorang anak perempuan yang tampak seperti melayang, dan bangkai seekor burung.

Buku itu sangat kontras dibandingkan buku-buku YA lainnya di rak yang sama, seperti Hunger Games, Percy Jackson, City of Ashes, dan banyak lagi. Karena keunikan sampulnya – dan sesuatu alasan lain yang sulit untuk kujelaskan, mungkin perasaan ‘seram’ yang kurasakan saat menatap sampul buku ini – aku menariknya dari rak, dan membaca ringkasan di sampul belakangnya.

Tanpa ada yang tahu penyebabnya, rotasi Bumi mendadak mulai melambat. Siang dan malam semakin panjang, gravitasi berubah, lingkungan hidup jadi kacau balau.

Sambil berusaha menerima segala perubahan alam di sekelilingnya, Julia juga harus mengadapi berbagai masalah lain – pernikahan orangtuanya yang retak, teman-teman lama yang meninggalkannya, kerumitan cinta pertama. Dan sementara Julia menyesuaikan diri, perlambatan rotasi Bumi terus berlanjut.

Membacanya, aku langsung menyadari bahwa buku ini menyerupai buku-buku YA lainnya yang sedang menjamur di pasaran belakangan ini. Fiksi ilmiah? Ya. Tokoh utama remaja perempuan? Ya. Ada cinta-cintanya? Berdasarkan ringkasannya, ya. Aku melakukan pencarian cepat di Goodreads, dan mendapati ratingnya tidak terlalu bagus. Oke, ratingnya bagus, ya, tapi tidak mencapai empat bintang. Sejenak, buku ini jadi tidak semenarik sebelumnya. Tidak begitu layak untuk dibeli.

Namun, ada sesuatu yang mendorongku untuk membelinya. Mungkin ringkasannya yang sederhana tanpa menyingkap apa pun. Mungkin sampulnya yang sempat membuatku merinding. Yang jelas, aku membelinya dan membawanya bersamaku ke praktek lapang selama tiga minggu di gunung.

Aku sangat senang aku melakukannya. Karena, kalau aku tidak membelinya, pastilah aku sudah sangat menyesal sekarang ini.

Saat itu perhatian kami teralihkan oleh cuaca dan perang. Kami tidak tertarik pada masalah perputaran bumi. Bom terus meledak di jalanan negara-negara jauh. Badai datang dan pergi. Musim panas berakhir. Tahun ajaran baru dimulai. Jam berdetik seperti biasa. Detik mengumpul jadi menit. Menit tumbuh menjadi jam. Dan tidak ada tanda-tanda bahwa jam tidak lagi mengumpul jadi hari, yang panjangnya sama dengan yang diketahui setiap manusia.

Saat mulai membaca buku ini, di tengah-tengah hutan tanpa sinyal ponsel maupun internet, pertanyaan terbesarku adalah: apa yang terjadi jika bumi mendadak melambat?

Jawabannya tercantum dalam buku ini, dari mata seorang anak remaja biasa. Bencana, tentu saja. Kekacauan iklim, samudra, lautan, daratan, kematian satwa-satwa, dan lebih banyak lagi. Kegilaan. Orang-orang berdiri di sudut-sudut jalan, berteriak dengan suara yang serak, menjeritkan Kiamat yang telah tiba dan Pembalasan akan jatuh pada kita semua. Itu standar. Aku sudah banyak membaca cerita-cerita end of world lainnya di buku-buku sebelum The Age of Miracles. Oleh karena itu, aspek fiksi ilmiahnya tidak terlalu menggangguku. Cukup standar.

Yang membuatku amat tertarik, dan terpukau, adalah: 1) Prosanya. Setiap kalimat ditulis seolah siap untuk dijadikan kata-kata mutiara. Setiap dua halaman, kurang lebih, ada kata-kata yang mampu menggetarkan hati. Membuat merinding. Dan yang berikutnya, 2) Sudut pandang yang unik.

Kenapa unik? Karena, sepanjang yang kutahu, belum pernah ada novel dengan tema apocalyptic world lainnya yang membawakan ceritanya dari sudut pandang remaja, dan mampu menggambarkan remaja tersebut sebagaimana remaja yang seharusnya. Masih belum mengerti? Yang kumaksudkan adalah: remaja di sini amat, sangat, normal.

Age-of-Miracles-art

Di buku ini, tidak ada remaja yang mampu menembak zombie dari jarak dua puluh meter. Tak ada remaja yang memimpin sebuah kelompok perlawanan menghadapi batalyon Daemon. Tak ada remaja yang mendadak memiliki kekuatan sihir. Yap, seandainya saja segala tema apocalypse di buku ini dilucuti, buku ini dapat berdiri sendiri sebagai cerita remaja biasa. Namun, tema apocalypse-nya ada, dan sangat kuat, dan tokoh utamanya bertingkah sebagaimana remaja pada umumnya kalau menghadapi ‘kiamat’: Panik. Takut. Khawatir. Mati Rasa. Dan Takut lagi. Namun, ada secercah harapan juga di dalamnya. Dan kepasrahan seluruh umat manusia, ketidakmampuan kita untuk melakukan apa-apa…

Tetapi di antara artefak-artefak yang tidak akan pernah ditemukan – di antara benda-benda yang akan hancur lama sebelum seseorang dari suatu tempat tiba – ada sepetak trotoar di jalanan California. Pernah, pada satu siang yang gelap di musim panas, pada penghujung tahun perlambatan yang menyusut, dua anak berlutut bersama di tanah yang dingin. Kami mencelupkan jari-jari di semen yang basah, dan menulis hal yang paling jujur, sederhana – nama kami, tanggal, dan kata-kata ini: Kami pernah ada di sini.

Membaca buku ini, dikelilingi oleh pepohonan, hutan, dan pegunungan, tanpa sambungan internet dan teknologi lainnya, mampu membuatku berintrospeksi. Mengenai betapa lemahnya kita, betapa ringkihnya kehidupan kita ini. Sekali dorong, dan segalanya akan runtuh. Untuk apa kita bersombong hati? Untuk apa kita berbangga, berfoya-foya ria? Kenapa kita tidak menghabiskan seumur hidup kita untuk berusaha berguna, dan bermanfaat, bagi sesama alih-alih meledakkan dan menembaki satu sama lain dengan butiran timah panas serta serpihan logam tajam?

Satu hal yang sangat kusayangkan – tapi, di sisi lain, juga kukagumi – adalah buku ini tidak benar-benar memberi ending. Mungkin memang itu keinginan penulisnya: untuk memberi sedikit sentuhan realistis. Karena bagaimana kita bisa menemukan closure dari ‘kiamat’? Cerita-cerita yang lebih gagah berani menampilkan para pahlawan yang berjuang mencegah hancurnya dunia. Beberapa dari mereka berhasil. Banyak dari mereka yang gagal. Dalam buku ini, tidak ada pahlawan – hanya ada kita, umat manusia, mencoba bertahan hidup dengan saling berpegangan tangan hingga akhir.

Dan terakhir: aku nggak tahu buku ini masih ada di Gramed atau enggak. Soalnya, terakhir kucek, sudah tidak ada di Bogor. Sayang sekali, padahal aku mau membeli satu eksemplar lagi untuk adikku. Mungkin saking lakunya?

Yang jelas, buku ini keren.

 

Ender’s Game


enders-game-by-orson-scott-card-ebookPasca-Harry Potter pada tahun 2012, ada kekosongan besar dalam kehidupan baca-membacaku. Aku masih memiliki sederet penuh buku di lemariku, namun sebagian besar dari mereka tidak terasa sama lagi dibaca dibanding saat Harry Potter masih ada, masih berlanjut, masih ditunggu-tunggu. Pada tahun itu, kusadari kesalahan terbesarku: kehidupan fiksiku terlalu bergantung pada Harry Potter. Saat ia berakhir, maka seolah kegiatan baca-membaca fiksiku berakhir juga. Buku-buku yang lain yang berderet di lemariku tidak pernah benar-benar kuanggap sebagai sesuatu yang utuh, sebagai sesuatu yang berbeda. Mereka semua lebih kuanggap sebagai companion untuk serial Harry Potter, buku-buku yang layak dibaca di waktu senggang sembari menunggu Harry Potter berikutnya terbit, atau filmnya muncul.

Hal tersebut berubah pada pertengahan tahun itu. Membeli iPad dari hasil kerja paruh-waktu, aku menggunakannya untuk banyak hal – dari ber-facebook-ria, menonton film, video, mendengarkan musik, blogging, hingga membaca buku. Aplikasi iBooks merupakan aplikasi pembaca ebook pertama yang kugunakan, dan aku sangat senang menggunakannya. Membaca di iBook sangat nyaman, natural. Oleh karena itu, aku mencoba mengunduh banyak buku. Salah satunya adalah Ender’s Game, sebuah buku yang akhirnya mendobrak stagnasi kehidupan membacaku.

Dari konsep, Ender’s Game merupakan kisah yang sederhana: di masa depan, sebuah ras Alien bernama Bugger telah menyerang bumi dua kali. Setiap kali mereka menyerang, mereka merusak dan menghancurkan banyak hal, memorak-porandakan dunia, dan setiap kali juga manusia hanya menang tipis melawan mereka. Untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan ketiga, pemerintah dunia membentuk sebuah pasukan khusus, terdiri atas anak-anak jenius dari seluruh dunia, direkrut dan diambil dari orangtua serta keluarga mereka, dan dilatih dalam sekolah peperangan yang sangat ketat, disiplin, dan menekan. Pasukan khusus tersebut diharapkan dapat memiliki segala keahlian yang diperlukan dalam rangka menyambut gelombang serangan ketiga Alien Bugger.

Salah satu dari mereka adalah Andrew ‘Ender’ Wiggin. Anak ketiga dari tiga bersaudara, Ender merupakan keganjilan tersendiri sejak kecil. Di dunia dimana memiliki anak ketiga adalah sebuah tabu, dimana mempunyai dua anak pun bisa dicela, Ender telah mengalami bully sejak kecil dari anak-anak lainnya di sekolah. Kehidupan masa kecilnya tak bisa disebut bahagia: kakak tertuanya, Peter, membencinya, dan kedua orangtuanya pun tampak agak ragu-ragu dalam menunjukkan kasih sayang mereka. Hanya Valentine, kakak keduanya, yang mencintainya sepenuh hati, melindunginya dan senantiasa menyayanginya. Dan, suatu hari, melihat potensi besar yang ada dalam dirinya, pemerintah dunia, dengan bendera komando International Fleet – pasukan luar angkasa manusia – merekrutnya dan membawanya ke Battle School, dimana ia menghabiskan bertahun-tahun dalam pendidikan militer yang menguras masa kecilnya.

sumber: Alan Atwood

artist: Alan Atwood

Meski terdengar sederhana, mungkin sesuatu yang sangat menarikku saat aku pertama kali membacanya adalah narasinya yang begitu mengalir. Setiap dialog terasa alami, setiap pikiran, tindakan, terasa bermakna. Visualisasi yang dibuat Orson Scott Card untuk Battle School terasa sangat riil, hingga rasanya nyaris tak bisa dipercaya. Battle Room – sebuah ruangan permainan pertempuran yang berada di inti sekolah tersebut – bahkan digambarkan dan dikonsepkan dengan detil.

Bagi seseorang yang hapal nyaris semua mantra di Harry Potter, dan gemar akan detil-detil kecil seperti itu dalam sebuah buku fiksi, hal tersebut sangat memikat bagiku. Mereka tidak hanya membangun dunia dalam cerita tersebut. Bagiku, detil-detil seperti itulah yang membuat dunia Ender terasa sangat nyata.

In the moment when I truly understand my enemy, understand him well enough to defeat him, then in that very moment I also love him. I think it’s impossible to really understand somebody, what they want, what they believe, and not love them the way they love themselves. And then, in that very moment when I love them…. I destroy them.

Selain itu, ada banyak isu-isu dan topik-topik kontroversial yang terdapat di dalamnya. Tengoklah perekrutan anak sejak bahkan sebelum mereka mencapai usia 10 tahun untuk menjadi prajurit. Pertempuran dan genosida yang dilakukan oleh anak-anak seusia tersebut, begitu pula dengan pembunuhan yang mereka lakukan, apakah justifiableSanggupkah kita mengirimkan mereka ke medan perang? Bermoralkah hal tersebut? Dan itu baru satu. Masih banyak lagi topik-topik lainnya yang mungkin, bagi beberapa orang, akan terasa tidak nyaman membacanya. Namun, bagiku yang sedang sangat ingin menemukan hal baru saat itu, kisah tersebut terasa luar biasa.

Ender’s Game terasa sangat riil. Untuk pertama kalinya, aku menemukan sebuah buku yang, saat aku selesai membacanya, aku bisa berkata dengan yakin bahwa buku tersebut jauh lebih bagus dibandingkan Harry Potter.

That is the earth, he thought. Not a globe thousands of kilometers around, but a forest with a shining lake, a house hidden at the crest of a hill, high in the trees, a grassy slope leading upwards from the water, fish leaping and birds strafing to take the bugs that lived at the border between water and sky. Earth was the constant noise of crickets, and winds, and birds. And the voice of one girl, who spoke to him out of his far-off childhood. The same voice that had once protected him from terror. The same voice that he would do anything to keep alive, even return to school, even leave Earth behind again for another four or forty or four thousand years.

Pertama kali membaca paragraf tersebut, mataku menjadi berkaca-kaca, bulu kudukku merinding. Aku sudah membaca banyak buku romansa, atau buku-buku inspiratif, atau buku-buku percintaan sejak dulu hingga sekarang, dan aku belum menemukan sesuatu yang bisa menyamai ungkapan kasih sayang yang tertulis dalam satu paragraf di atas saja.

Definitely a cut above.

Orson Scott Card menulis Ender’s Game sebagai awal dari sebuah saga yang membentang selama ribuan tahun sepanjang galaksi dan bintang-bintang. Namun, menurutku, Ender’s Game sangat luar biasa sebagai standalone story. Menurutku, kisahnya di buku ini sudah cukup sempurna. Sebentar lagi bahkan film Ender’s Game akan dirilis, dan aku yakin, setelah filmnya, pasti buku edisi Bahasa Indonesia-nya akan diterbitkan juga. Kalau sudah terbit, segeralah beli dan baca juga. Kalau tidak bisa menunggu, silakan beli versi Inggris-nya.

artist: Sam Weber

artist: Sam Weber