Dewa-Dewa Amerika (American Gods)


Dewa-Dewa Amerika (American Gods)Setelah menjalani masa hukuman selama bertahun-tahun, seorang pria bernama Shadow akhirnya dibebaskan dari penjara. Namun, tak ada penyambutan untuknya. Istri dan sahabatnya baru saja meninggal, rumah lamanya tak lagi bisa ia datangi, dan tak ada sanak atau kerabat yang mau menampungnya.

Dihadapkan dengan kondisi tersebut, Shadow bertemu dengan Mr. Wednesday. Seorang pria misterius, Wednesday meminta Shadow untuk bekerja untuk sebagai bodyguard. Tak memiliki pilihan lain yang lebih baik, Shadow pun menerima.

Yang terjadi setelahnya adalah rangkaian kejadian paling ganjil dalam hidup Shadow: ia dan Wednesday bepergian ke berbagai tempat di Amerika, dari pesisir Barat hingga Timur, dari bagian tengah yang kosong hingga kota-kota paling besar. Bersamanya, Shadow bertemu dengan pria dan wanita, kenalan Mr. Wednesday, masing-masing lebih tua dibandingkan dunia, dan sangat, amat, sakti. Bersamanya, Shadow akan mencaritahu jati dirinya, siapa ia sebenarnya, dan takdir yang akan ia penuhi.

Namun, entitas-entitas baru telah bangkit di Amerika. Pertempuran dahsyat antara dua kubu akan segera berlangsung, untuk menentukan nasib seluruh manusia di Amerika. Shadow harus menentukan tindakannya setelahnya, karena nasib jutaan manusia – bahkan Dewa-Dewa kini berada di bahunya.

-a-

Negeri ini luas. Sebentar saja, orang-orang kita mencampakkan kita, mengingat kita hanya sebagai makhluk-makhluk dari negeri mereka dahulu, sebagai benda-benda yang tidak ikut dengan mereka ke negeri yang baru.

Hal pertama yang perlu diingat sebelum membaca Dewa-Dewa Amerika adalah: ini adalah novel fantasy. Kedua, ini adalah novel urban fantasy, yang berarti genre fantasy di dalamnya dibawakan dengan latar kehidupan urban – atau, lebih tepatnya, kehidupan sehari-hari. Dan dengan genre tersebut, dunia yang digambarkan di novel ini cukup realistis, dengan ilustrasi yang memikat mengenai Amerika, sehingga – saat pertama kali saya membaca novel ini, dan tidak mengetahui genrenya – saya mengira ini adalah novel thriller/mystery.

Gaya penceritaan di novel ini sangat unik, a la Neil Gaiman. Saya menyebutnya sebagai dreamlike, penuh metafor dan bahasa yang kadang susah dimengerti. Hal ini cukup mengganggu saya di paruh-paruh awal novel, karena bahasanya terasa panjang dan kalimat-kalimatnya seperti direntangkan. Paragraf-paragraf pun tampak padat dan tebal. Tapi, untungnya penceritaannya sendiri sangat mengalir, sehingga mudah untuk diikuti.

Plus, mungkin gaya bahasa seperti itu memang cocok untuk sebuah novel yang menceritakan Dewa-Dewi, mitologi, legenda kuno, dan kemanusiaan sekaligus.

-a-

1 - by luilouie

sumber gambar: luilouie (deviantart)

Satu hal brilian, salah satu yang paling menarik, dari American Gods adalah Neil Gaiman memasukkan unsur traveling di dalamnya. Sepanjang cerita, kita diajak mengelilingi Amerika – dari kota-kota pencakar langit dengan lalu lintas yang padat hingga apartemen kumuh di wilayah pinggiran, lalu dari gurun-gurun pasir menuju pegunungan berbatu. Ilustrasinya sangat padat, mantap, visual.

Sehingga, setiap kali saya membaca novel-novel atau buku-buku traveling lainnya, saya selalu membanding-bandingkannya dengan ini. Hingga kini, menurut saya hanya ada dua buku yang bisa menyamai – atau melebihi – visualistik yang ada di American Gods: Naked Traveler dan Edensor. Keduanya, sama seperti American Gods, memenuhi sebuah syarat suksesnya suatu kisah traveling. Syarat itu, sebagaimana telah diungkapkan dengan cemerlang oleh Cheri Lucas (editor di WordPress.com) di sini, adalah memasukkan unsur perjalanan ke dalam jiwa, bukan hanya raga.

Atau, lebih mudahnya: kita mengikuti perjalanan batin tokoh utama sepanjang perjalanan fisiknya.

Kenapa saya berkata bahwa hal tersebut sangat kuat? Karena, yah, sebagai tokoh utama, Shadow kurang sympathetic. Ia tinggi, besar, kuat, tangguh, macho, dan dia pendiam, tidak banyak bicara, kaku, serta kurang menyenangkan. Sangat sulit mendapatkan alasan kenapa pembaca harus menyukainya. Hal tersebut berpotensi menjadi bencana, karena kalau pembaca tidak bisa terhubung dengan tokoh utama, biasanya mereka akan sulit untuk terhubung dengan cerita.

Untungnya, sebagaimana saya telah tuturkan di atas, Mr. Gaiman turut membawa kita menyaksikan perkembangan Shadow – jalan pikirannya sepanjang perjalanannya, pengembaraannya, petualangannya. Beliau mengajak kita melihat bagaimana Shadow, perlahan tapi pasti, menyadari posisinya: bahwa ia, seorang manusia biasa, pria biasa, sedang terbelit perseteruan dahsyat antar Dewa-Dewi kuno dan baru. Bahwa ia akan mati, dan tak keberatan menghadapinya.

Hingga, bagaimana ia, menjelang akhir, mendapatkan jawaban akan semua pertanyaan yang telah menghantuinya sejak kecil. Jawaban yang, karenanya, membuat ia bersedia untuk kembali dan (jreng jreng!) menyelamatkan dunia.

-a-

Lebih dari seratus tahun kemudian, barulah Leif yang beruntung, putra Erik si Merah, menemukan kembali daratan itu, yang lalu disebutnya Vineland. Dewa-dewanya sudah menunggunya ketika dia tiba: Tyr, bertangan satu, dan Odin kelabu si penguasa tiang gantungan, dan Thor penguasa halilintar.

Membaca American Gods akan terasa seperti membaca Percy Jackson, tapi untuk versi dewasa, dan dalam versi yang sangat gelap serta membuat depresi. Buku ini jelas bukan untuk semua orang – di beberapa bagian, bahasa yang digunakan cukup eksplisit (meski sudah diselamatkan berkat penerjemahan Inggris ke Indonesia), plotnya rumit, dan seringkali terasa ngalor-ngidul.

Tapi, jika Anda menyukai cerita mengenai sejarah Amerika, sejarah para Dewa, dan melihat lebih dalam mengenai budaya Amerika – cara hidup penduduknya, kepercayaannya, asal-muasalnya – buku ini sangat saya rekomendasikan. Sedikit banyak buku ini juga mengajak pembacanya berpikir, bertanya-tanya, dengan bahasannya mengenai asal-muasal agama dan kepercayaan-kepercayaan kuno, serta kenapa – dan bagaimana – sebuah agama bisa menghilang dan Dewa-dewanya memudar.

by Nicolas Delort

sumber gambar: Nicolas Delort (blog)

Singkat kata, ini adalah novel urban fantasy paling serius, paling rumit, paling kompleks, namun paling memuaskan jika selesai dibaca. Not for everyone, though, tapi menurut saya pribadi kualitasnya sangat bagus. Karya Neil Gaiman di masa puncaknya.

Warbreaker


WarbreakerAlkisah ada dua kerajaan yang sejak dulu saling bersaing, yaitu Idris dan Hallandren. Idris adalah kerajaan kecil di pegunungan, sedangkan Hallandren adalah kerajaan besar dengan wilayah yang luas, seorang Dewa Raja sebagai pemimpinnya, dan Dewa-Dewi yang berjalan di antara para manusia: mereka disembah rakyatnya, diberi persembahan oleh rakyatnya.

Kekuatan para Dewa yang luar biasa, sejarah kedua kerajaan yang rumit di masa lampau, ditambah balatentara yang masif dari Hallandren membuat mereka menjadi ancaman utama bagi Idris.

Sehingga, bertahun-tahun silam, dalam rangka menjalin hubungan yang lebih ‘erat’, Idris dan Hallandren membuat sebuah perjanjian. Saat putri kerajaan Idris sudah mencapai kedewasaan, ia akan dikirim ke Hallandren untuk menikahi Sang Dewa Raja. Dengan ikatan melalui pernikahan, tentunya hubungan kedua kerajaan akan lebih baik, ‘kan?

Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya.

Sehingga, cerita ini pun dimulai. Cerita mengenai sepasang kakak-beradik putri kerajaan Idris, cerita mengenai Susebron Sang Dewa Raja, kisah seorang Dewa yang tidak mempercayai agamanya sendiri, serta seorang pria misterius berpedang hitam bernama Vasher, Sang Warbreaker.

***

Warbreaker adalah cerita karangan Brandon Sanderson yang pertama kali kubaca. Bergenre Fantasy, kisah ini mengantarkanku ke sesuatu yang disebut ‘Magic System‘ – sistem sihir.

Sistem sihir sendiri adalah suatu bentuk aturan, atau hukum-hukum, sebuah sihir yang biasanya terdapat di setiap buku Fantasy yang menampilkan penyihir. Sistemnya ada yang sangat sederhana hingga sangat rumit.

Yang sangat sederhana biasanya dapat ditemui di novel-novel Fantasy anak-anak: seorang penyihir, tua, dengan janggut klasik, dan bisa menyihir dengan mengayunkan tangan atau mengacungkan tongkatTak ada penjelasan bagaimana ia bisa melakukannya selain bahwa ia melakukan dua hal tersebut.

Sistem yang medium bisa ditemui di novel Harry Potter, misalnya. Kita mengetahui bahwa untuk melakukan sihir, penyihir memerlukan tongkat sihir, merapalkan mantra (atau minimal membatinkan mantra tersebut), melakukan gerakan dengan tongkat sihirnya (swish and flick! Wingardium leviosa!), hingga bahkan meniatkannya sepenuh hati (Avada kedavra takkan berfungsi kalau penggunanya tidak benar-benar menginginkan kematian lawannya).

You are a god. To me, at least. It doesn’t matter how easily you can be killed, how much Breath you have, or how you look. It has to do with who you are and what you mean.

Sementara, yang paling rumit bisa dibaca di novel-novel Fantasy dewasa seperti Warbreaker. Brandon Sanderson menulis artikel cukup panjang mengenai sistem sihir, aturan-aturan, dan penggunaannya di novel-novelnya di sini. Seperti apa tepatnya aku takkan menjelaskannya sepenuhnya di sini karena pasti bakal men-spoil banyak sekali dari novel ini. Jadi, kuberitahu sekilas permukaannya saja: orang-orang di dunia Warbreaker memiliki ‘bakat’ sihir bernama Breath. Mereka dapat menggunakan Breath dengan merapalkan Command, sejenis mantra, untuk menggerakkan benda-benda mati di sekitar mereka. Jika memiliki cukup banyak Breath, kau bisa menggerakkan seluruh benda di istana, memanfaatkan mereka untuk bertarung, atau mengendalikan puluhan ribu pasukan zombie.

Tapi, jangan salah. Meski terdengar rumit, buku ini tidak melulu mengisahkan mengenai sistem sihir tersebut. Justru sebaliknya, buku ini sepenuhnya mengenai para tokoh-tokohnya: sepasang kakak-beradik, seorang Dewa Raja, seorang Dewa yang ragu, dan seorang Warbreaker. Kita akan mengikuti perjalanan mereka, seluruhnya, dari awal yang begitu terpisah hingga akhir yang menyatu bersama.

Politik. Sihir. Perjalanan para tokoh, serta aksi yang luar biasa. Semua syarat-syarat kisah Fantasy yang luar biasa ada di sini.

They say a man doesn’t know himself until he faces death for the first time. I don’t know about that. It seems to me that the person you are when you’re about to die isn’t as important as the person you are during the rest of your life. Why should a few moments matter more than an entire lifetime?

Keunikan lainnya dari buku ini adalah Brandon Sanderson merilisnya secara online dan bisa diunduh.

Yap, bisa diunduh naskahnya. Format PDF, bisa diprint pula. Dan kalau nggak suka baca PDF, bisa dibaca online di Wattpad. Gratisan. Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah karena beliau menerbitkannya di bawah Creative Common License berikut. Alasan kenapa Mr. Sanderson menerbitkannya secara gratisan seperti itu dapat dibaca di sini.

Saya nggak tahu apakah alasan tersebut baik atau nggak, benar atau salah. Terserah dunia kepenulisan untuk menentukan mana yang paling baik atau buruk bagi mereka. Yang jelas, bagiku, yang satu-satunya cara untuk bisa membaca buku-buku Fantasy luar adalah dengan membelinya di toko buku impor atau iTunes Store, hal tersebut sangat membantu. Setelah selesai membacanya – solid 4 bintang dariku – aku langsung membeli bukunya dalam bentuk eBook.

Tujuan Mr. Sanderson – mempromosikan karyanya – berhasil. Aku membeli buku karyanya untuk pertama kali, dan beberapa bulan kemudian bahkan membeli bukunya yang lainnya: Steelheartyang sudah kubuat ulasannya di sini.

Blushweaver, the Goddess of Honesty - by Icemaya

Blushweaver, the Goddess of Honesty – by Icemaya

Jadi, silakan baca buku ini! Unduh di website resminya Mr. Sanderson, atau baca langsung di Wattpad di sini. Oh, dan kalau baca di Wattpad dan punya akunnya, add aku ya! Username-ku AAlkadri 😀 *promosi*

Baca Hujan, Triwulan Satu


Triwulan PertamaTerhitung dari postingan pertama blog ini, sudah tiga bulan Baca Hujan berjalan. Tiga bulan, empat minggu, satu buku tiap minggunya: satu triwulan ditandai dengan sudah adanya dua belas buku saya ulas, pajang, dan promosikan di sini. Dua belas buku bacaan favorit saya, dari berbagai genre.

Oleh karena itu, untuk memperingati tiga bulan berjalannya Baca Hujan, saya akan melakukan sedikit ulasan singkat tentang keduabelas buku yang sudah saya ulas di sini. Diurut dari yang paling lama diposting hingga yang paling baru, dan lengkap dengan link ke masing-masing postingan ulasan.


1. Ender’s GameOrson Scott Card

Baru saja dijadikan film layar lebar, Ender’s Game membawa kita mengikuti kisah Ender Wiggin, seorang anak laki-laki jenius yang direkrut oleh pemerintah di masa depan dan dilatih untuk menjadi pemimpin pasukan perlawanan terhadap invasi Alien bersama dengan anak-anak jenius lainnya dari seluruh dunia. Sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

2. Mimpi-Mimpi EinsteinAlan Lightman

Separuh memoir separuh kumpulan jurnal mimpi, Mimpi-Mimpi Einstein berisikan tulisan-tulisan karya Alan Lightman mengenai gagasan-gagasan Einstein akan ruang dan waktu. Setiap bab adalah sebuah dunia dengan keunikan-keunikannya tersendiri, namun begitu familiar dan dekat dengan kita hingga terasa sangat nyata dan retrospektif.

3. The Age of MiraclesKaren Thompson Walker

Novel remaja yang sangat dewasa, fantastik sekaligus realistis, The Age of Miracles mengisahkan dunia yang kehilangan rotasinya. Malam dan siang terentang menjadi lebih panjang. Di tengah-tengah hancurnya peradaban, seorang remaja perempuan berefleksi pada segala perubahan yang ada – baik pada dunia, masyarakat, sekolah, teman-temannya, keluarganya, hingga dirinya sendiri.

4. Samudra di Ujung Jalan SetapakNeil Gaiman

Sebuah novel untuk anak-anak dalam diri setiap orang dewasa, Samudra di Ujung Jalan Setapak mengantarkan pembaca ke dalam dunia kanak-kanak, penuh dengan fantasi, alegori, metafor, dan imajinasi. Atau, benarkah mereka imajinasi? Jalan setapak yang dulu kita lalui, yang kita percaya mengantarkan kita ke istana naga? Ingatan tentang seorang anak perempuan yang mengaku kolam di rumahnya adalah Samudra?

5. EdensorAndrea Hirata

Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang legendaris, Edensor mengisahkan perjalanan Ikal dan Arai saat berkuliah dan backpacking di Eropa. Nuansa Paris yang nikmat, Eropa yang beragam, pergaulan dan budaya yang berbeda, begitu menyentuh dalam kisah ini.

6. Vader’s Little PrincessJeffrey Brown

Sebuah fan-work dari Mr. Brown, Vader’s Little Princess membayangkan sebuah dunia di masa lalu di galaksi yang sangat, amat jauh, di mana Mr. Vader membesarkan Leia, putrinya. Menguasai seluruh galaksi, pesawat sebesar bulan, dan menghancurkan planet-planet pemberontak? Nanti dulu, karena Darth Vader harus mengantarkan Leia kecil ke sekolah.

7. The 13 ClocksJames Thurber

Novel ringan, ilustratif, dengan cerita sederhana dan didesain untuk dibaca segala usia – terutama anak-anak? Menggabungkan unsur fantasi, middle-age, sekaligus semi-fiksi ilmiah? Dengan unsur konspirasi a la kerajaan dan ksatria yang tidak klise? Silakan baca ini. Tersedia gratis untuk diunduh lho.

8. CarrieStephen King

Master genre horror Stephen King pernah berkata bahwa Carrie bukanlah karya yang ia banggakan, namun kisah seorang gadis dengan kemampuan telepati a la Jean Grey serta semi-biblical force ini telah diadaptasi ke dalam tiga film layar kaca dan memiliki fans mengglobal. Nikmati horrornya, dan betapa dekatnya kisah ini dengan aroma remaja masa kini.

9. Magical Game Time Vol. 1Zac Gorman

Senang main video game? Pernah bertualang di dunianya Zelda, Mario, Sonic, dan banyak permainan konsol lainnya? Menikmati Final Fantasy? Magical Game Time Vol. 1 adalah kumpulan karya-karya Zac Gorman; komik-komik, ilustrasi, dengan tema game. Kocak, sedih, dan keren sekaligus dalam satu buku!

10. Catching FireSuzanne Collins

Protagonis yang mandiri, kuat, jago memanah, namun tetap erat dengan jati dirinya sebagai perempuan? Sebuah TV Show a la Battle Royale yang diselenggarakan pemerintah korup? Distopia, dan konspirasi? Plus kisah cinta segitiga yang benar-benar mengena, membuat buku ini layak menjadi sekuel yang sangat kuat dari The Hunger Games.

11. SteelheartBrandon Sanderson

Sepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya misterius muncul di langit. Orang-orang tertentu mulai mendapatkan kekuatan super di saat bersamaan, dan masyarakat – manusia biasa – menamai mereka Epics. Twist: tak ada superhero. Semuanya supervillain.

12. The Amulet of SamarkandJonathan Stroud

Sesuatu terjadi di masa lalu, sesuatu yang membuat para penyihir, alih-alih bersembunyi dari manusia biasa, justru mengambil alih pemerintahan dan membangun peradaban. Di dunia Nathaniel, para penyihir memerintah kerajaan Inggris. Twist: tidak ada tongkat sihir. Setiap penyihir membutuhkan jin untuk bisa menyihir.


Lalu, karena pada peringatan Triwulan ini saya tidak akan memposting ulasan buku, sebagai gantinya saya akan ulas sebuah cerita pendek yang sangat menarik yang saya temukan. Jadi, ini dia:

A Study in Emerald by Neil Gaiman

-o0o-

A Study in Emerald

Cerita pendek satu ini bisa dibilang semacam crossover antara Sherlock Holmes dengan Lovecraft. Dari judulnya saja bisa dibilang sudah hampir ketahuan ‘kan? A Study in Emerald dengan A Study in Scarletsalah satu kisah penyidikan legendaris Sherlock Holmes karyanya Sir Arthur Conan Doyle. Tapi, mungkin ada yang bertanya-tanya: Lovecraft itu apa ya? Atau siapa? Nah, silakan bisa dibaca dulu mengenai beliau di sini.

Mengenai ceritanya sendiri, bisa dibilang, nggak bakal seru lagi kalau saya beritahu meski hanya sedikit saja ceritanya di sini. Serius. Membaca A Study in Emerald, saya dapat feel-nya karena kagetnya. ‘Wah’-nya. Awalnya saya kira begini, lanjutnya ternyata begitu. Perasaan saya dibolak-balik dicampur-aduk sampai kaya blender. Pokoknya ‘Wah’ karena saya tidak tahu, tidak menduga. Jadinya seram juga.

So… simply, I’d say, save the surprise for the time when you’re reading it.

Cerita pendek ini bisa dibaca gratis di sini. Mr. Gaiman juga memiliki banyak koleksi cerita pendek lainnya yang bisa dibaca di situs resmi beliau. Tepatnya di sini. Selamat membaca!

The Amulet of Samarkand (Bartimaeus Trilogy #1)


Amulet of SamarkandAlkisah, sesuatu terjadi di masa lampau. Sesuatu yang membuat penyihir berjalan dengan leluasa di dunia dan membaur dengan masyarakat. Sihir dan jampi-jampi diterima di kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang biasa. Di dunia seperti ini, Inggris dikuasai oleh penyihir-penyihir sakti, dan Nathaniel, seorang anak laki-laki, dijual oleh orangtuanya kepada pemerintah untuk menjadi murid penyihir di bawah bimbingan Arthur Underwood, seorang penyihir kelas menengah di pemerintahan Inggris.

Suatu hari, karena sebuah insiden, Nathaniel dipermalukan oleh seorang penyihir kelas atas bernama Simon Lovelace. Bertekad untuk membalas dendam, ia mempelajari sihir sedalam-dalamnya, berjuang menguasai sihir-sihir bahkan di usianya yang masih belia. Akhirnya, ia berhasil memanggil seorang Djinn bernama Bartimaeus, yang konon berusia lebih dari 5000 tahun, untuk mencuri sebuah amulet dari Simon Lovelace. Tindakan sederhana tersebut membuat Nathaniel terjebak dalam jaring-jaring kriminal, politik, dan persaingan sihir di jajaran kerajaan Inggris.

Di saat bersamaan, sebuah gerakan pemberontak jalanan telah bangkit.

***

Pertama kali aku menemukan novel ini, tergeletak di toko buku lokal, adalah saat aku masih SMA. Saat itu, aku masih terlalu gandrung dengan Harry Potter untuk melirik novel-novel fantasi lainnya, apalagi yang kedengarannya terlalu sejenis (bukan salahku. Waktu itu ada film di TV Indonesia berjudul Heri Putret. Atau Heri Potret. Whatever. Bagaimana pun, setiap kali mengingatnya, aku selalu merasa malu sendiri). Jadi, aku rada gerah kalau nemu novel, terus baca summary-nya di bagian belakang, dan mendapati isinya terlalu mirip serial favoritku itu.

Itu dulu.

Tahun kemarin, setelah mendapatkan tablet dan bisa membeli eBook dengan sesuka hati, aku menemukan kembali novel ini dan membelinya. Hasilnya, ternyata, isi ceritanya jauh dari dugaanku.

One magician demanded I show him an image of the love of his life. I rustled up a mirror.

Ada beberapa kesamaan, pastinya, antara Bartimaeus Trilogy – dalam hal ini adalah The Amulet of Samarkand – dengan Harry Potter. Kedua-duanya sama-sama menceritakan mengenai penyihir, kedua-duanya sama-sama ber-setting di Inggris. Tapi, melalui buku ini, untuk pertama kalinya aku mengenal yang namanya hard magic system.

Apa itu hard magic system? Artinya adalah sistem sihir yang kaku, strict, dengan aturan-aturan dan logika yang menyerupai ilmiah. Ini berlawanan dengan soft magic system seperti pada Harry Potter, yang satu-satunya aturan adalah mantra (itupun di buku-buku selanjutnya ada yang namanya non-verbal spells, jadi nggak perlu mengucapkan mantra) dan ayunan tangan (tidak juga, di buku-buku selanjutnya orang meluncurkan mantra-mantra bisa seenak hati dari posisi tangan mana pun). Jadi, sistem sihirnya nggak kaku. Tidak seperti The Amulet of Samarkand.

Di The Amulet of Samarkand, supaya seorang penyihir bisa menyihir, ia harus memanggil jin. Yups, benar-benar memanggil jin dengan lingkaran pemanggil, pentagram/heksagram, mantra, ucapan tertentu, dst. Tanpa melakukannya, penyihir takkan bisa menyihir. Sesederhana itu, namun krusial. Di satu bab, kita bisa melihat bagaimana penyihir yang tidak sempat memanggil jinnya terbunuh, dan penyihir yang jinnya kalah kuat terbunuh juga. Semakin ahli penyihir dalam menggambar lingkaran dan jampi-jampi, ia bisa memanggil dan mengendalikan jin yang semakin kuat. Dan semakin kuat jin yang dipanggil, semakin sakti-lah penyihir tersebut.

Dan, di cerita ini, protagonis kita, seorang penyihir muda yang masih belajar di bawah bimbingan Master-nya, berhasil memanggil Bartimaeus: seorang jin berusia 5000 tahun lebih.

Jabor finally appeared at the top of the stairs, sparks of flame radiating from his body and igniting the fabric of the house around him. He caught sight of the boy, reached out his hand and stepped forward.

And banged his head nicely on the low-slung attic door.

Salah satu hal yang membuat The Amulet of Samarkand bersinar adalah karakternya. Setiap tokoh di The Amulet of Samarkand, bahkan para jinnya, terasa hidup. Mereka memiliki kelemahan, mereka memiliki kekurangan. Dan mereka semua cool. 

Selain itu, ceritanya cukup ramai: ada konspirasi, ada kisah balas dendam, kisah cinta, kisah belajar sihir, kisah penebusan dosa dan kesalahan, dan masih banyak lagi. Dan, yang paling utama, sistem sihirnya ngepas dengan ceritanya. Benar-benar sesuai.

Source: Myluckyseven.net

Source: Myluckyseven.net

Terus, satu hal yang kusadari, adalah bahwa sistem sihir seperti ini sebenarnya tidak asing: kita menjumpainya di perdukunan di Indonesia, ‘kan? Memanggil jin, memanfaatkan mereka untuk melakukan hal-hal kotor kita, dan banyak lagi. Mungkin Mr. Jonathan Stroud pernah datang ke sini, melihat bagaimana dukun bekerja, dan memutuskan untuk membuat novel berdasarkan hal tersebut?

Yang jelas, buku ini superb.

Steelheart


SteelheartSepuluh tahun sebelumnya, sebuah bola cahaya yang disebut ‘Calamity’ muncul di langit. Saat yang sama, manusia-manusia mulai mendapatkan kekuatan super. Publik menyebut mereka sebagai ‘Epics’, dan banyak dari mereka memberi reaksi (standar) manusia saat mendapati superhumans berjalan bersama mereka: kagum, takjub, takut, ngeri, dan berharap.

Namun, ada satu masalah: seluruh Epics adalah penjahat. Ya, di dunia yang baru ini, tidak ada superhero. Only supervillains ruled. Di sebuah kota yang dulunya adalah Chicago, seorang Epics berkuasa dengan tangan besi. Seorang Epics bernama Steelheart, dengan kemampuan mengubah barang apapun menjadi baja, menembakkan energi dari telapak tangan, dan tak bisa dilukai oleh peluru, meriam, rudal, pedang, pisau, atau senjata apa pun yang dikenal. Epics merajai jalanan, dan manusia biasa mati-matian mencoba hidup dalam rezim yang baru tersebut. Tak ada yang melawan. Tak ada, kecuali para Reckoners.

Dan seorang pemuda bernama David ingin bergabung. Bertahun-tahun sebelumnya, ia telah menyaksikan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang banyak orang mengira mustahil: ia melihat Steelheart terluka. Dia memiliki rahasia untuk mengalahkan Steelheart, dan dia ingin membalas dendam.

***

Epics had a distinct, even incredible, lack of morals or conscience. That bothered some people, on a philosophical level. Theorists, scholars. They wondered at the sheer inhumanity many Epics manifested. Did the Epics kill because Calamity chose—for whatever reason—only terrible people to gain powers? Or did they kill because such amazing power twisted a person, made them irresponsible?

Ada beberapa hal yang membuat cerita-cerita superhero seringkali gagal: pertama, kisah mereka menampilkan orang keren dengan kekuatan keren yang tentu saja tidak dimiliki pembaca-pembaca mereka yang tidak keren. Kedua, kisah mereka cliche. That’s it. Kisah yang klise bisa menjadi bagus, namun sangat mudah diprediksi.

Untungnya, hal yang sama tidak terjadi pada Steelheart. Dengan cerdas Mr. Sanderson meramu buku ini menjadi sesuatu yang klise tapi tidak mudah diprediksi. Sebagai awal mula, sebagaimana yang sudah saya tuliskan di atas, there are no heroes. Para jagoan kita, para tokoh protagonis, adalah manusia biasa yang memiliki tekad kuat untuk membasmi para Epics. Caranya? Dengan membunuh, tentu saja. Setiap Epics memiliki kelemahan, dan jika kelemahan tersebut berhasil diketahui, maka ia bisa dibunuh. Kelemahannya bisa apa saja, dari takut pada semut hingga kekuatan yang hilang jika sedang berciuman, tapi mereka semua memiliki satu.

Dan tahukah? Satu-satunya cara para Reckoners untuk bisa mengetahui kelemahan tersebut adalah dengan mengamati para Epics. Meneliti. Mencari tahu. Knowledge is power, after all.

Maka, saat David, seorang pemuda yang pernah bertatap muka dengan Steelheart jauh di masa lalu, yang pernah menyaksikan ayahnya, seorang pria biasa yang kebetulan berada di Bank, melukai Steelheart, para Reckoners mau tak mau mendengarkan ceritanya. Dan misi terbesar untuk mereka pun dimulai: menjatuhkan Steels dengan kekuatan layaknya gabungan Superman dan Black Adam.

Setiap tokoh di cerita ini mendapatkan suara mereka. Itu yang kusenang dari cerita ini: setiap tokoh memiliki kehidupan, jiwa, tersendiri. Tidak ada tokoh yang kosong, kecuali (yang sangat disayangkan) para Epics sendiri. Karena mereka digambarkan sebagai pure evil, pure brutality, rasanya saya tak bisa memahami mereka. Namun mungkin itulah inti cerita ini: sebuah kisah klasik-klise, pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan. Putih melawan hitam. Manusia melawan monster. Klise. Tapi seru.

Fan art by ArchetypeAngel

Steelheart. Fan art by ArchetypeAngel

Setiap babnya memiliki cliffhanger dalam skala epik: tak mungkin rasanya meletakkan buku ini sebelum selesai membacanya. Narasinya luar biasa, sangat mengalir, mengingatkan saya kepada Harry Potter yang legendaris. Tambahkan dengan alur yang berbelok sana-sini, tidak bisa ditebak, tapi masuk akal. 

Hasilnya? Sangat bagus sebagai buku pertama dalam trilogi Reckoners yang baru dari Brandon Sanderson. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, masih banyak bagian dari dunia yang baru ini untuk dibahas, tapi mengingat reputasi Brandon Sanderson sebagai pengarang Mistborn Trilogy, penutup Wheel of Time series dengan A Memory of Light, dan banyak lagi serial-serial karangannya, saya yakin cerita yang akan diberikan nantinya akan jauh lebih banyak juga.

The 13 Clocks


The 13 ClocksBulan November ini digadang-gadang bakal menjadi bulan yang mengerikan. Bagaimana tidak, ada NaNoWriMo, ada Ujian Tengah Semester, penelitian dan skripsi, dan masih banyak lagi. Walhasil, waktu membaca pun turun drastis. Target membaca 100 buku tahun ini menjadi agak sulit dipenuhi, dengan reading list yang masih menumpuk. Dan setiap kali mau mulai baca novel, pasti pusing: setelah seharian membaca textbook dalam jumlah berjibun, mengerjakan latihan soal, mata ini sangat membutuhkan istirahat dari dinding huruf yang kian tinggi tiap harinya.

Oleh karena itu, saya mulai membaca lebih banyak buku anak-anak. Lebih tepatnya, buku ilustratif, graphic novel, atau bahkan komik. Di minggu sebelumnya, saya menulis mengenai Vader’s Little Princess: sebuah buku yang sangat menarik dan memanjakan mata. Dan minggu ini pun tak berbeda: akan saya tulis sedikit mengenai buku yang baru saja selesai saya baca, yang berjudul The 13 Clocks karangan James Thurber.

Kalangan pembaca generasi sebelumnya, generasi tua, mungkin sangat mengenal sang penulis, James Thurber. Beliau adalah kartunis, pelawak, sekaligus penulis yang karya-karyanya banyak muncul di The New York Times. Biodatanya bisa dibaca di Mas Wiki.

Lalu, sekedar informasi, The 13 Clocks ini adalah buku novel anak-anak yang beliau tulis pada saat berada di Bermuda. Memberi kesan tersendiri, ‘kan?

Lugas, luwes dan ilustratif, buku bergenre Fantasy ini mengisahkan mengenai seorang pangeran yang harus melaksanakan deretan tantangan dan tugas untuk membebaskan seorang putri dari cengkeraman Duke Jahat di Kastil Coffin. Kocak, seru, dan seringkali dark di beberapa bagian, hingga membuat saya bertanya-tanya bagaimana bisa novel seperti ini dimasukkan dalam kategori anak-anak. Mungkin karena ceritanya yang mudah dimengerti dan bahasanya yang lugas. Atau mungkin anak-anak jaman dulu lebih dewasa dibandingkan jaman sekarang.

The 13 Clocks_3

Eniwei, buku ini sekarang bisa diunduh dengan gratis karena masuk dalam public domain di Archive.org. Dan tahukah Anda? Ada film pendeknya juga lho, ditulis dan dinarasikan oleh para veteran bidang Fantasy. Salah satunya adalah penulis favorit saya, Neil Gaiman 😛 Jadi… silakan diunduh, silakan dibaca, dan silakan ditonton!