Sandman: Ramadan by Neil Gaiman


Sandman - RamadanHampir satu bulan penuh sejak saya menulis ulasan buku di sini. Selama itu pula, saya telah mendaftar wisuda, melamar kerja, diundang ke wawancara, ditolak, pulang, introspeksi diri, minum-minum (kopi susu), lalu melamar lagi, diundang wawancara, tes praktek, dan diterima. Tak lupa, negara-negara jatuh, perang dimulai dan akan berakhir, jiwa datang dan pergi. Begitu banyak yang terjadi hanya dalam rentang waktu tiga puluh hari; waktu terus mengalir sementara kita melupakan banyak hal.

Ruang dan waktu. Space and time. Belakangan ini, sejak saya menyadari betapa besarnya kekuatan yang disimpan waktu terhadap kita semua, saya mulai membongkar-bongkar kembali arsip-arsip lama saya. Kardus demi kardus yang ada di rumah saya buka, dan, voila! Setumpuk buku novel lama, mass market paperback dari luar negeri, komik-komik Doraemon, Kung Fu Komang, Captain Tsubasa, dan, yang paling menarik perhatian saya: Sandman.

Bertahun-tahun silam, saya menemukan satu bagian di toko buku emperan di dekat Universitas Indonesia (tempatnya sekarang sudah dipindah, entah ke mana). Di sana, dijual banyak  buku-buku impor dan menjadi salah satu sasaran utama saya kalau mau mencari buku berbahasa Inggris yang tidak diterbitkan di Indonesia. Sebagian besar murah, karena bekas, dan dalam kondisi tidak bagus, tapi kontennya masih sama. Serial Sandman adalah serial komik yang saya beli di sana dengan harga yang bagus. Sebelum saya tahu mengenai novel-novelnya, inilah karya Neil Gaiman pertama yang saya baca.

Dan, tentu saja, Sandman: Ramadan stood out sebagai salah satu karya Sandman yang paling saya suka dari beliau.

Baca lebih lanjut

Stories: All New Tales, edited by Neil Gaiman and Al Sarrantonio


Stories-All New TalesPertama-tama, saya mau minta maaf karena minggu kemarin tidak nge-post review buku di sini. Sejak dua minggu lalu saya sudah berencana untuk mengulas Stories: All New Tales, sebuah buku kumpulan cerita yang dikompilasi oleh Neil Gaiman dan Al Sarrantonio, dua novelis terkemuka yang telah menerbitkan puluhan tulisan. Namun, apalah daya ternyata bukunya sangat tebal, ceritanya sangat banyak, dan masing-masing tidak bisa dibilang berformat cerita pendek (satu cerita ada yang lebih dari 7000 kata!), serta kesibukan kerja menghalangi terselesaikannya buku ini.

Oleh karena itu, sekali lagi, mohon maaf yaa.

Kemudian, mengenai buku ini. Ya, saya sebenarnya sudah memilikinya dalam format ebook sejak dua-tiga minggu silam, namun baru sepuluh hari lalu saya menemukannya dalam format mass market paperback di Periplus (sedang diskon lho!). Tertarik dengan cover-nya, dan menyadari bahwa saya biasanya lebih cepat dan lebih baik dalam membaca buku dengan format cetak, saya membelinya. Meski sudah diskon, harganya tetap sedikit membuat dompet lebih ringan, namun saya tak menyesal.

Sama sekali tidak.

Baca lebih lanjut