Cell – Stephen King


cell

  • Jenis : novel
  • Penulis : Stephen King
  • Penerbit : Simon & Schuster, Inc.
  • Tahun penerbitan : 2006
  • Format : Mass market paperback
  • ISBN : 978-1-4165-2451-9

Sebuah entry dari Stephen King untuk zombie-apocalypse genre, Cell membawa kita kepada seorang protagonis yang, pada satu hari yang cerah saat ia sedang mengantri untuk membeli es krim, menyaksikan orang-orang menjadi gila dan memakan sesama. Penyebabnya satu: The Pulse, sebuah sinyal yang entah darimana asalnya dan disebarkan ke seluruh dunia melalui jaringan seluler global. Siapa pun yang sedang menggunakan handphone, di seluruh dunia, tertransformasi menjadi kanibal ganas yang tak kenal ampun.

Atau, benarkah seperti itu yang terjadi pada mereka? Observasi lebih lanjut oleh para protagonis mengungkap bahwa para “phoners“, orang-orang yang terkena pengaruh The Pulse, sesungguhnya masih memiliki kesadaran – sebuah hive mind, yang saling terhubung satu sama lain, dan menggerakkan para phoners. Dengan peradaban yang mulai runtuh oleh para phoners, para protagonis – dipimpin oleh Clay, seorang penulis novel grafis yang mencari anak laki-lakinya – memulai perjalanan panjang menuju peradaban yang tersisa, dan orang-orang yang selamat lainnya. Mampukah mereka bertahan hidup?

-a-

Three days ago we not only ruled the earth, we had survivor’s guilt about all the other species we’d wiped out on our climb to the nirvana of round-the-clock cable news and microwave popcorn.

Salah satu novel fiksi ilmiah/horor dengan kategori post-apocalyptic pertama yang saya dengar, namun salah satu yang baru akhir-akhir ini saya baca, Cell merupakan anomali dari karya-karya Stephen King yang biasanya. Tidak ada kisah mengenai kota kecil atau lingkungan yang tertutup seperti novel-novel King yang terbaru. Alih-alih, Cell membawa pembacanya ke dalam plot yang kencang, beruntun, kejadian demi kejadian yang runut dan menusuk, dengan latar yang luas dan konflik skala global.

Sumber gambar: Joblo.com

Sumber gambar: Joblo.com

Gaya penceritaannya pun mengingatkan pada King pada masa-masa awalnya. Meski berlatar dunia yang telah runtuh, pada dasarnya, inti konflik dalam kisah ini adalah para manusia: sifat dasar keturunan Homo sapiens, spesies yang – sebagaimana dituturkan oleh Stephen King dalam Cell – merupakan makhluk paling berbahaya yang pernah ada.

Maka, pertanyaan-pertanyaan pun berlanjut: Siapa yang menciptakan The Pulse? Kenapa ia membuat semua manusia menjadi kanibal, buas, dan mengerikan? Masih adakah yang selamat? Bagaimana cara bertahan hidup di dunia yang baru ini?

-a-

What Darwin was too polite to say, my friends, is that we came to rule the earth not because we were the smartest, or even the meanest, but because we have always been the craziest, most murderous motherfuckers in the jungle.

Sebagaimana Stephen King pada biasanya, beliau tidak malu-malu dalam menggunakan narasi dan deskripsi. Gore menjamur di sana-sini, dan setiap protagonis selalu berada dalam bahaya. Siapa pun bisa mati – bahkan tokoh utama yang tampak baik, menyenangkan, dan mudah untuk disukai. Kalau ada seseorang bilang George R. R. Martin adalah penulis paling kejam, cobalah suruh dia untuk membaca novel-novelnya Stephen King. Coba lihat bagaimana pendapatnya.

Dengan kata lain, membaca novel ini perlu kebijakan lebih besar. Banyak topik-topik yang membuat tidak nyaman di dalamnya. Seks, kekerasan, psiko-horor, thriller, sebut satu per satu – perlu kehati-hatian dalam membacanya. Plotnya yang kencang, ditambah dengan penokohan yang solid, pun menambah nilai novel ini. Tak diragukan lagi, Cell – meski terkesan klise, absurd, dan kuno untuk ukuran novel post-apocalyptic genre di masa kini – merupakan kisah horor yang sangat mengena.

Rating: 4/5

In The Name of The King – Jo Marchant


in the name of the king

Pertama-tama, saya harus meminta maaf: saya belum begitu ahli dalam membagi waktu. Minggu-minggu kemarin diisi dengan berbagai kegiatan, baik akademik maupun non-akademik, dan sangat sedikit waktu yang tersisa untuk membaca buku-buku baru. Sempitnya waktu membuat orientasi membaca saya berubah, termodifikasi. Saya semakin sering dan memilih untuk melahap buku-buku yang pendek, ringkas, namun tetap berisi sekaligus enak dibaca.

Salah satu buku tersebut – malahan, saya berani bilang, salah satu buku non-fiksi terbaik yang pernah saya baca – adalah buku yang saya cantumkan di sini: In The Name of The King karya Jo Marchant, seorang jurnalis sains dari MATTER Publishing.

Dalam buku yang pendek namun padat ini, Jo Marchant menuturkan kisah mengenai penelitian-penelitian modern Mumi Firaun Tutankhamun. Salah satu Firaun paling terkenal hingga saat ini, Tutankhamun telah menumbuhkan benih-benih legenda dan mitos sejak penemuannya hampir seabad silam. Tak seperti mumi-mumi lainnya, Sang Firaun – Raja Mesir – ini didapati dalam kondisi kurang bagus, namun makamnya penuh dengan perhiasan dan harta karun. Makamnya juga merupakan salah satu yang paling bagus di antara para Firaun lainnya yang ditemukan. Berbagai artikel dan buku telah diterbitkan mengenai masa lalu Tutankhamun.

Gambar oleh: MATTER Publishing

Gambar oleh: MATTER Publishing

Namun, bukan berarti penemuannya – dan ulasan-ulasan mengenainya – selalu tanpa suara miring. Sebagaimana diuraikan oleh Jo Marchant dalam karyanya ini, berbagai pihak telah mencoba mengambil klaim atas Tutankhamun melalui cara-cara yang beraneka ragam. Sains dan kepercayaan digunakan bersamaan. Penelusuran DNA mencoba mencaritahu ras dan latar belakang keluarga Sang Firaun. Kelompok-kelompok di seluruh dunia, dari Yahudi, Mormon, Kulit Hitam, hingga Brotherhood of Muslim saling mengklaim hak atas darah Tutankhamun. Sepertinya, masih ada anggapan – dan semakin kuat seiring berjalannya jaman – bahwa siapapun yang mengklaim Tutankhamun dapat mengklaim juga seluruh Mesir Kuno, kerajaan pendiri peradaban.

Seakan belum cukup berbagai masalah yang melingkupi penelitian mengenai Tutankhamun, revolusi Mesir tiba pada tahun 2012 lalu. Rezim Mubarak dijatuhkan, pemilihan demokratis dilakukan, dan Morsi pun diangkat hanya untuk dijatuhkan kembali kurang dari setahun kemudian. Setelahnya, militer melakukan pembersihan besar-besaran terhadap para pendukung Morsi, tindakan yang melibatkan pertumpahan darah dalam jumlah yang tidak sedikit. Seluruh penelitian terhenti total, para peneliti bahkan turut turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Picture by Aymanation

Gambar oleh: Aymanation

Sebagai penulis kawakan yang telah menerbitkan banyak artikel, memenangkan penghargaan, serta menulis banyak buku, Jo Marchant menarasikan In The Name of The King dengan gaya yang sangat memikat. Narasinya begitu mengalir, mengena, dan merinci. Tak seperti kebanyakan artikel-artikel sains pada umumnya, Jo Marchant memilih melakukan pendekatan manusiawi – dengan menarasikan kisah penelitian terhadap Tutankhamun dari mata Yehia Gad, salah satu peneliti utama dalam pengulasan sejarah masa lalu Sang Firaun – alih-alih mengambil sudut ekspositif. Hasilnya adalah sebuah bacaan yang sangat menarik dan layak untuk dibaca.

Akhir dari buku ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Jo Marchant pada akhir kisah tersebut, cukup puitis: bagi Firaun sendiri, revolusi, konflik, dan berbagai hal duniawi lainnya yang terjadi di sekelilingnya hanyalah riak di Sungai Nil. Ribuan tahun sejak kematiannya, peradaban dan kerajaan telah bangkit dan jatuh, agama dan Dewa-Dewi muncul dan ditinggalkan pengikutnya. Namun, tetap saja, manusia masih bersiteru antar sesamanya, memperebutkan hak atas sisa-sisa dirinya di makam yang dingin dan membeku.

Saya pernah mendengar, dulu sekali, bahwa para Firaun dikutuk oleh Tuhan agar tetap abadi dalam waktu hingga akhir zaman. Inikah, sebagaimana yang juga Jo Marchant ungkapkan, perwujudannya? Hanya sejarah yang nantinya akan membuktikan.

Sekali lagi, saya tekankan: bacaan yang luar biasa. Solid 5/5.

PS: Buku ini dapat diunduh secara gratis dalam berbagai format ebook di website Medium MATTER Publishing.

Fangirl – Rainbow Rowell


  • Jenis : novel
  • Penulis : Rainbow Rowell
  • Penerbit : St. Martin Press
  • Tahun penerbitan : 2013
  • ISBN : 125-003-095-1

Dalam buku “Fangirl“, kita mengikuti seorang gadis remaja bernama Cath. Cath dan saudari kembarnya, Wren, adalah fans Simon Snow – sama seperti ribuan (atau jutaan) anak lainnya di dunia – dan mereka cukup serius dalam menjalankan kefanatikan mereka. Tidak dalam arti negatif, tentu saja – mereka memiliki poster Simon Snow, mereka mengetahui dunia Simon hingga ke dalam-dalamnya, dan Cath bahkan menulis fanfiksi slash antara Simon dengan Baz – salah satu tokoh utama lainnya di serial tersebut – dan terkenal di seantero internet.

Kemudian, masa remaja berakhir. Mereka masuk ke kuliah, ngampus, ikut perkuliahan, tinggal di asrama, berkenalan dengan orang-orang baru, lingkungan baru, dan kehidupan baru secara menyeluruh. Tak seperti saudari kembarnya, Cath tidak semudah itu menyesuaikan diri – dan jadilah cerita ini dimulai.

 ***

“Simon Snow is a series of seven fantasy books written by English philologist Gemma T. Leslie. The books tell the story of Simon Snow, an 11-year-old orphan from Lancashire who is recruited to attend the Watford School of Magicks to become a magician. As he grows older, Simon joins a group of magicians—the Mages—who are fighting the Insidious Humdrum, an evil being trying to rid the world of magic.

Since the publication of Simon Snow and the Mage’s Heir in 2001, the books have been translated into 53 languages and, as of August 2011, have sold more than 380 million copies.”

Pertama-tama, saya harus katakan bahwa ide buku ini sangat jenius. Simon Snow, serial yang digandrungi jutaan anak di seluruh dunia dalam novel Fangirl, merupakan ‘Harry Potter’-nya dunia Cath. Sama seperti Harry Potter, Simon Snow ditulis oleh seorang penulis Inggris, menceritakan perjalanan seorang anak laki-laki penyihir yang masuk ke sekolah sihir, dan mempelajari sihir guna menghadapi entitas jahat bernama Humdrum.

Namun, itu belum seberapa dibanding kejeniusan Miss Rowell menuliskan kisah yang sangat familiar: seorang remaja yang beranjak dewasa, masuk kuliah dan menghadapi dinamika baru, hingga menghadapi kisah cinta yang pertama kalinya. Cara beliau menggambarkan itu semua, menarasikannya, dan membawa pembaca masuk ke dalam kepala sang protagonis benar-benar level atas – saya terkejut saya tak pernah mendengar mengenai penulis satu ini sebelumnya, apalagi membaca bukunya.

Dialog-dialognya juga mantap, mengalir. Seluruhnya kuat, dan bahkan dilengkapi dengan bahasa-bahasa gaul (dalam bahasa Inggris, tentu saja, punten), dan sang penulis juga tak ragu untuk menggunakan bahasa-bahasa yang terkesan kasar atau eksplisit. Karena, sebagaimana kita semua tahu, remaja pun tidak ragu untuk menggunakannya.

Simply put: dialog-dialog di buku ini tuh remaja banget!

“Cath stepped away from the register, trying to get out of the way, clutching the book with both hands. There was an illustration of Simon on the front, holding up the Sword of Mages under a sky full of stars.

“Are you okay?” she heard someone—Levi?—ask. “Hey … are you crying?”

Cath ran her fingers along the cover, over the raised gold type.

Then someone else ran right into her, pushing the book into Cath’s chest. Pushing two books into her chest. Cath looked up just as Wren threw an arm around her.

“They’re both crying,” Cath heard Reagan say. “I can’t even watch.”

art by Siminiblocker

art by Siminiblocker

Di setiap pergantian bab, ada snippet – potongan-potongan adegan – dari serial Simon Snow maupun fanfiksi yang ditulis oleh Cath. Dalam setiap potongan adegan tersebut, perlahan-lahan kita bisa mengetahui seperti apa dunia dan cerita Simon Snow tersebut, apa-apa saja yang membedakannya dengan Harry Potter, dan bagaimana kisah tersebut berakhir.

Dan, nyaris sama dengan novel ini, Rowell menuliskan akhir yang melegakan: seorang protagonis yang, akhirnya, dapat melepas kelemahan-kelemahan masa lalunya, menemukan kekuatannya, dan mendapatkan alasan yang nyata untuk terus maju. Move on. Live. Dorongan untuk berprestasi, menjadi dewasa, sukses, dan bahagia.

Sudah lama saya tidak membaca novel remaja dengan ending sebagus itu, secara pribadi saya sangat terharu. Inilah novel remaja yang sangat superior: membawa kisah kehidupan yang familiar sekaligus menyampaikan pesan-pesan dengan jelas tanpa menggurui.

Singkat kata, solid 5/5 dari saya.

.

PS: Can someone please start writing Simon Snow series?

Baca Hujan, Triwulan Dua


Triwulan KeduaTak terasa, sudah tiga bulan berlalu sejak Triwulan Satu. Enam bulan blog ini telah berusia, dengan setiap minggunya sebuah buku diulas di sini. 12 buku di Triwulan Dua, 24 buku di blog ini, plus satu cerita pendek.

Banyak yang telah dilalui dan dicapai oleh blog sederhana ini. Ia telah menempati posisi atas dalam beberapa pencarian ulasan buku di Google. Ia telah mencapai 2000 pengunjung di Bulan Februari kemarin. Ia telah mencapai ratusan pengikut, dan setiap minggunya, link ulasan dari Baca Hujan dilihat oleh para penghuni dari komunitas-komunitas blogger.

Oleh karena itu, untuk memperingati setengah tahun Baca Hujan, ada beberapa pengumuman yang harus diberikan. Antara lain:

  • Baca Hujan akan meningkatkan frekuensi tulisannya. Jika sebelumnya hanya setiap hari Minggu dan terbatas pada buku-buku fiksi atau memoir, Baca Hujan akan melebarkan sayap dengan mengulas buku non-fiksi di hari Rabu pada minggu kedua dan ketiga setiap bulannya.
  • Baca Hujan telah memiliki Facebook Page. Di laman tersebut, berbagai tautan menuju bacaan-bacaan menarik akan dibagikan setiap harinya. Lebih lengkapnya dapat dibaca di sini.
  • Baca Hujan telah mengadopsi Tema baru. Untuk yang berkunjung dari Tablet atau Laptop dapat menyaksikan bahwa lay-out dan tampilan telah disederhanakan, dan sekarang lebih mudah untuk bernavigasi. Silakan gunakan Menu di atas header untuk membuka laman kategori, menyortir tulisan berdasarkan kategori sasaran usia pembaca hingga genre.

Kurang lebih, itulah pengumuman dari Baca Hujan di ulang Triwulannya yang kedua ini. Sehingga, yuk kita kilas balik buku-buku apa saja yang sudah diulas Baca Hujan di Triwulan Dua ini!


1. WarbreakerBrandon Sanderson

Salah satu karya Epic Fantasy dari penulis novel remaja best-seller Steelheart, Brandon Sanderson menyajikan sebuah standalone-fantasy yang dapat dibaca online di Wattpad.com. Novel ini bercerita mengenai perseteruan antar kerajaan, politik, cinta, sihir, konspirasi, dan aksi. Sebagai tokoh-tokohnya adalah sepasang saudari putri kerajaan, seorang Dewa yang tidak memercayai agamanya sendiri, seorang Dewa Raja, dan seorang ksatria khusus yang memiliki julukan Warbreaker.

2. More Than ThisPatrick Ness

Menggabungkan fiksi ilmiah dengan surealisme, memadukan kisah remaja yang familiar dengan cerita futuristik-distopia, More Than This berkisah mengenai seorang remaja yang bunuh diri, tenggelam, di samudra, dan terbangun di sebuah dunia yang kosong. Sendirian, ia menjelajahi dunia barunya yang absen dari manusia, namun penuh tanda-tanda peradaban. Perlahan, ia mempelajari kenyataan-kenyataan yang ada – mengenai hidup dan kematian, mengenai nyata dan tidak – dan menemukan keganjilan yang tak terkatakan.

3. PenpalDathan Auerbach

Berasal dari sebuah cerita online di forum cerita horor Nosleep, Penpal berkisah mengenai seorang pria yang menelusuri masa lalunya dan mendapati ingatan-ingatan yang ganjil: foto-foto yang menakutkan, seorang gadis yang tewas, kekuatan yang tak terbayangkan, serta berbagai kengerian lainnya. Diceritakan dengan begitu mengalir a la Samudra di Ujung Jalan Setapak, Penpal membawa kita menuju rasa nostalgia yang mengerikan.

4. Aku Tahu Kamu HantuEve Shi

Sebuah karya debut, Aku Tahu Kamu Hantu berkisah mengenai seorang anak perempuan yang, pada hari ulangtahunnya, mendapatkan kekuatan yang sudah diwariskan secara turun-temurun di keluarganya. Dengan kekuatan barunya tersebut, ia berusaha memecahkan misteri hilangnya seorang anak di sekolahnya, sekaligus berjuang menyesuaikan dirinya – dengan kekuatannya tersebut – di tengah-tengah kehidupan normal. Sebuah cerita horor yang sangat efektif, modern, dan cocok untuk remaja.

5. Gelombang 5Rick Yancey

Sebuah kisah penyerbuan Alien, Rick Yancey menggambarkan apa yang terjadi apabila Alien menyerbu kita dalam gelombang demi gelombang serangan tanpa sedikit pun memasuki wilayah udara kita dan menginjak tanah di bumi. Tak ada perlawanan, tak ada yang bisa dipercaya, dan tak ada yang tersisa, dua orang remaja dan satu orang anak kecil berjuang untuk bertahan hidup di dunia pasca-Gelombang Empat. Dengan hanya sedikit sekali yang selamat, masih akan adakah Gelombang Lima? Atau, mungkinkah Gelombang Lima sudah terjadi?

6. Biarkan Aku MasukJohn Ajvide Lindqvist

Perpaduan kisah vampir klasik dengan horor modern, penulis Swedia John Ajvide Lindqvist menggambarkan kehidupan seorang anak remaja laki-laki yang mendapati tetangga barunya adalah seorang remaja perempuan, kira-kira seusia dengannya. Seiring mereka saling berkenalan, peristiwa-peristiwa ganjil mulai terjadi di kota tempat mereka tinggal, dan berbagai petunjuk membawa si anak kepada tetangganya tersebut. Mungkinkah tetangganya tak seperti yang terlihat dari luar?

7. Dewa-Dewa AmerikaNeil Gaiman

Menyabet berbagai penghargaan bergengsi di dunia, American Gods mengisahkan seorang pria yang baru saja keluar dari penjara dan menjadi sebatang kara. Tanpa tujuan, tanpa arah, dan tanpa rumah, ia bertemu dengan seorang pria paruh-baya bernama Mr. Wednesday, yang menyewanya sebagai bodyguard dan membawanya ke dalam perjalanan panjang melintasi Amerika guna menyusuri jaring-jaring konflik besar yang akan terjadi antar Dewa-Dewa Amerika.

8. The Ghost BrigadesJohn Scalzi

Sekuel dari Old Man’s War meski dapat berdiri sendiri dengan kokoh, novel ini mengisahkan masa depan yang berisi konflik berkepanjangan antara manusia dengan para ras alien di luar angkasa guna memperebutkan planet-planet yang menunjang kehidupan di galaksi. Di saat bersamaan, sebuah pengkhianatan terjadi, seorang prajurit super ditugaskan, dan sebuah pasukan dikerahkan – pasukan yang, berdasarkan kisah-kisah, dibangkitkan dari mayat orang-orang mati. Pasukan khusus yang disebut, dengan nada segan oleh seantero galaksi, sebagai Brigadir Hantu.

9. Kisah-Kisah Beedle si Juru CeritaJ.K. Rowling

Sebuah companion book untuk serial Harry Potter, Tales of Beedle the Bard merupakan kumpulan cerita pendek karya J.K. Rowling yang, konon katanya, diceritakan secara turun-temurun di dunia sihir Inggris. Salah satu ceritanya, Kisah Tiga Saudara, merupakan kunci dan penutup dari serial Harry Potter. Bagus untuk diceritakan ke anak-anak, dan mantap sebagai pelengkap sebuah serial paling terkenal di dunia.

10. SometimesEsther Marie

Sometimes adalah sebuah buku ilustratif sederhana, berisi refleksi dan memoir, renungan serta kisah, mengenai momen-momen berharga dan penuh kasih sayang yang seringkali dialami oleh sepasang sahabat. Tidak tebal, tidak panjang, namun cukup mengena.

11. The Battle of the LabyrinthRick Riordan

Buku keempat serial Percy Jackson and the Olympians merupakan pengantar menuju klimaks, puncak, dari kisah epos sang putra Poseidon. Secara individual, buku ini merupakan standalone story yang sangat baik, mengalir dan penuh refleksi, manis serta penuh aksi. Wajib dibaca oleh para penggemar serial magis/fantasi remaja.

12. Every Dead ThingJohn Connolly

Sebuah novel debut, Every Dead Thing berkisah mengenai seorang mantan detektif yang berkelana ke dunia gelap, menyusup ke lingkungan jalanan, mafia, dan penjahat-penjahat. Selama perjalanannya tersebut, ia akan bertemu dengan seorang cenayang yang tinggal di wilayah berawa yang misterius, bertempur melawan para kriminal paling berbahaya, serta menghadapi seorang pembunuh berantai yang gemar menyiksa dan membunuh anak-anak – pembunuh berantai yang sama yang memegang petunjuk kunci mengenai Si Pengembara, seorag psikopat yang telah menyiksa dan membantai istri dan anak sang mantan detektif.


Sebagaimana saya telah tuliskan di atas, setiap hari Rabu, saya akan mulai menulis ulasan-ulasan cerita pendek di sini. Oleh karena itu, pada peringatan Triwulan ini, saya tahan dulu ulasan cerita pendeknya – nanti akan saya tulis di hari Rabu.

Jadi, selamat! Dan sekali lagi, terima kasih sudah mengunjungi Baca Hujan!

Every Dead Thing: Orang-Orang Mati


Every Dead Thing (Orang-Orang Mati)Tahun 2012 menandai tertariknya saya pada buku-buku genre crime/detective. Hal tersebut dimulai dengan membeli sebuah buku berjudul The Silence of the Lambs karya Thomas Harris. Tak jauh setelahnya, saya mulai mendalami genre tersebut lebih jauh lagi. Di antara buku-buku dari genre tersebut antara lain: Sherlock Holmes yang legendaris, Jack Reacher, John Grisham, dan masih banyak lagi.

Saya mendapati bahwa genre crime/detective cukup unik karena pada dasarnya, genre tersebut bisa dimasukkan dalam kategori misteri dengan tokoh utama seorang ‘detektif’ (saya beri tanda kutip karena pada dasarnya, meski melakukan penyidikan, tidak selalu tokoh utamanya adalah detektif a la Detective Conan atau Sherlock). Dengan demikian, genre tersebut akan mengikat pembaca dalam jalinan jaring plot yang rumit, misterius, dan sulit untuk diduga, namun bukan berarti tak bisa ditebak. Dengan menjadikan tokoh utamanya seorang penyidik – dalam hal ini, manusia biasa – crime/detective membuat penulis harus bisa sepintar-pintar mungkin membangun sebuah kasus yang sulit, tak tertebak, sembari memberikan petunjuk-petunjuk di sepanjang jalan ceritanya.

Dengan kata lain, menjelang akhir cerita, penulis harus mampu menyimpulkan segala benang-benang plot yang rumit tersebut dalam satu ikatan, sedemikian rupa sehingga pembaca dapat berkata, “Oh! Begitu rupanya!” alih-alih “Waduh? Kok bisa begitu?”

Dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Yang kita hadapi di sini sepertinya adalah pembunuhan seksual – pembunuhan seksual yang sadis.”

Every Dead Thing adalah kisah pertama dari serial Charlie Parker, seorang mantan detektif NYPD yang mengalami tragedi begitu mengerikan hingga kewarasan dan kemanusiaannya terganggu. Tanpa ampun, di bab pertama kita disuguhkan dengan penceritaan yang mengerikan mengenai tewasnya istri dan anak Charlie Parker. Ia meninggalkan keduanya untuk minum-minum di suatu malam, dan kembali ke rumah untuk mendapati keluarganya telah dikuliti oleh pembunuh berantai. Para polisi dan agensi turun tangan untuk menginvestigasi, namun selain detil-detil tambahan mengenai cara mati mereka berdua (istrinya dikuliti hidup-hidup, anaknya menyaksikan hal tersebut utuh-utuh, dst.) tak ada petunjuk lebih lanjut mengenai pelakunya selain dugaan bahwa pembunuhnya – siapa pun itu – adalah orang yang sangat sadis dan gila.

Dengan kondisi tersebut, beberapa pihak mencurigai Charlie Parker sendiri sebagai sang pelaku. Meski alibinya terbukti dan ia dinyatakan bersih, Parker mengundurkan diri dari kepolisian, berhenti minum-minum, berhenti melakukan hal-hal lainnya yang tak berguna dan memutuskan untuk mengerahkan segala daya upayanya demi menemukan pelaku sebenarnya. Petunjuk demi petunjuk ia ikuti, membawanya pada seorang dukun wanita dengan kemampuan supernatural, kelompok-kelompok mafia berbahaya, dunia bawah tanah yang kejam, dan seorang pria yang dikenal dengan sebutan Si Pengembara – The Traveler.

Kami membersihkan tanahnya hingga mayat anak itu terlihat, meringkuk seperti janin dengan kepalanya tersembunyi di balik lengan kiri. Bahkan meski sudah membusuk, kami bisa melihat jari-jarinya telah dipatahkan, meski tanpa memindahkannya aku tidak bisa yakin anak ini laki-laki atau perempuan.

Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, novel ini memiliki deskripsi yang sangat detil. Narasinya begitu tajam dan grandiose, penulis benar-benar memanfaatkan sudut pandang orang pertama dengan sangat baik. Kita akan mengikuti Charlie Parker sepanjang perjalanannya, dengan deskripsi pergantian lokasi – dari perkotaan dengan gedung-gedungnya menuju Louisiana dengan rawa-rawanya, bahkan ke sang dukun dan para pembunuh berantai lainnya – yang sangat terjabarkan. Beberapa bagiannya dijamin dapat membuat perut tidak enak, terutama apabila pembaca adalah orang yang sensitif.

Secara keseluruhan, saya dapat membagi novel ini ke dalam tiga plot utama: yang pertama adalah jatuhnya Parker, sang tokoh utama, ke dalam jurang dendam yang begitu dalam, yang membuatnya mampu untuk melakukan apa pun – bahkan membuatnya ditakuti oleh orang-orang dunia jalanan. Yang kedua adalah perjalanan Parker lebih dalam ke dunia gelap, ke dunia bawah tanah, bertemu dengan orang-orang berbahaya, termasuk seorang monster yang membunuh dan menyiksa anak-anak untuk kesenangan. Monster yang, terlepas dari segala kejahatannya, dapat memberinya petunjuk mengenai keberadaan Sang Pengelana.

Dan akhirnya, yang ketiga, adalah klimaks yang membawa Parker ke dunia mafia dan menghadapi Sang Pengembara sendiri.

“Aku minum-minum pada malam Jennifer dan Susan terbunuh. Aku minum banyak sekali, tidak hanya malam itu, tapi malam-malam yang lain juga. Aku minum karena banyak hal, karena tekanan pekerjaan, karena kegagalanku sebagai suami, sebagai ayah, dan mungkin juga hal lain, dari masa lalu. Kalau aku tidak jadi pemabuk, Susan dan Jennifer mungkin tidak akan mati. Jadi, aku berhenti. Sudah terlambat, tapi aku berhenti.”

Kompleks, rumit, panjang, tebal dan penuh kengerian, Every Dead Thing cukup mengejutkan dan mengagetkan dengan kisahnya yang amat berterus terang mengenai tragedi yang bisa terjadi pada siapa pun dari kita. Andaikata, suatu hari, kita dihadapkan dalam situasi seperti itu – pulang ke rumah dan mendapati keluarga kita telah dikuliti hidup-hidup oleh seorang psikopat – apa yang akan kita lakukan? Menjadi gila? Menjadi diam saja, berharap polisi akan menangkapnya, berdoa Tuhan akan membalasnya? Atau mungkin mencoba memaafkan siapa pun pelakunya?

Apa yang Charlie Parker hadapi banyak mengingatkan saya mengenai Bruce Wayne, yang menyaksikan orangtuanya dibunuh; kemudian tentang The Punisher, bahkan Spider-man. Mereka semua menghadapi tragedi, menemukan kekuatan darinya, dan merasakannya sebagai berkah sekaligus kutukan. Hal-hal tersebut sangat saya sukai dalam suatu cerita karena, alih-alih menyampaikan pesan moral secara langsung ataupun tidak langsung, penulis memancing debat moral, konflik diri, dari para pembaca. Menurut saya, hal tersebut masih sangat jarang dimiliki oleh penulis dalam negeri, padahal seharusnya lebih banyak lagi penulis yang mampu untuk melakukannya.

Alasannya ada dua: Di satu sisi, pembaca menjadi lebih kritis. Di sisi lain, pembaca menjadi turut bertanya-tanya sepanjang cerita, dan dengan mengikuti sang tokoh utama, kita menjadi mengerti penyebab-penyebab dia memilih untuk melakukan apa yang ia lakukan, apa landasan moralnya, di mana empatinya berada, dan bagaimana ia bisa mempertahankan kemanusiaannya dalam posisinya tersebut.

Dan aku memikirkan Lisa: gadis kecil gemuk dengan mata gelap, yang bereaksi buruk atas perceraian orangtuanya, dan mencari kedamaian dalam ajaran Kristianitas yang aneh di Meksiko, dan akhirnya kembali kepada ayahnya.

Every Dead Thing cocok dibaca oleh Anda yang menggemari Thomas Harris, James Patterson, Lee Child, hingga gore-nya Junji Ito. Lebih jauh lagi, jika Anda ingin membaca ini, siapkan mental dan perut Anda. Dan tentu saja, karena isi dari ceritanya, buku ini tidak begitu cocok untuk remaja hingga anak-anak – kecuali jika psikis mereka sudah siap.

Selamat membaca!

The Battle of the Labyrinth


The Battle of the LabyrinthKalau serial A Song of Ice and Fire digadang-gadang sebagai jawaban Amerika atas The Lord of the Rings, Percy Jackson and the Olympians awalnya terkenal sebagai tanggapan Barat atas serbuan Harry Potter. Bagaimana tidak? Keduanya adalah serial anak-anak, memiliki tokoh utama anak-anak yang tumbuh menjadi dewasa seiring berjalannya cerita, dan para tokohnya memiliki kekuatan magis.

Tapi, Percy memiliki kekuatannya karena ia mendapatkannya dari orangtuanya (lebih tepatnya: ayahnya) seperti yang Harry alami, Percy bukanlah penyihir. Dia, secara sederhana, adalah keturunan langsung keluarga entitas supersakti yang telah ada sejak jaman-jaman kuno.

Secara gamblang, Percy adalah putra dewa – lebih tepatnya, putra Sang Dewa Laut Poseidon.

Serial Percy Jackson terdiri atas lima buku. Dimulai dari The Lightning Thief dan diakhiri dengan The Last Olympian, serialnya mengisahkan petualangan-petualangan Percy Jackson dalam perjuangannya melawan monster-monster legendaris, menelusuri langit, bumi, dan dunia bawah (ya, dia menerobos ke neraka, bertarung dengan Dewa Kematian, dan menang), serta menghadapi para Titan yang bahkan lebih kuat dibandingkan Dewa-Dewi Olympus.

Dan The Battle of the Labyrinth – Pertempuran Labirin, buku keempat dari serial Percy Jackson – merupakan buku yang, menurutku, paling keren di antara buku-buku lainnya di serial tersebut.

Dimulai di Camp Half-Blood seperti buku-buku sebelumnya, Percy dan kawan-kawannya kali ini menghadapi petualangan yang agak berbeda. Luke, seorang kawan lama mereka yang telah berubah menjadi pengkhianat dan – sialnya – turut membantu membangkitkan Titan Chronos, telah menemukan sebuah jalan yang memungkinkannya untuk menyerbu ke Camp Half-Blood tanpa ada yang bisa menghadangnya. Jalan tersebut bernama Labirin Daedalus.

Untuk mencegah penyerbuan tersebut, Percy dan kawan-kawannya turut masuk ke dalam labirin. Tujuan utama mereka adalah mencari Daedalus dan membujuknya agar tak membantu Luke.

1

Ada beberapa alasan yang membuatku berpikir bahwa The Battle of Labyrinth merupakan buku terbaik dari serial Percy Jackson. Bukan berarti buku-buku lainnya tidak bagus lho, tapi The Battle of Labyrinth terasa seperti Prisoner of Azkaban. Ya, lagi-lagi, aku membandingkan kedua serial tersebut, tapi tak apalah. Bear with me, please?

Pertama, Pertempuran Labirin terasa seperti pengantar menuju klimaks, ujung dari sebuah kisah epik. Seperti Prisoner of Azkaban yang menjadi pengantar menuju dibangkitkannya kembali sang antagonis utama, Pertempuran Labirin mengantarkan kita menuju bangkitnya kembali Chronos, sang Titan, dan bangkitnya Typhon, monster yang mampu menaklukkan semua Dewa-Dewi seorang diri. Segalanya diikat, segalanya cabang-cabang cerita menyatu, menyimpul, menuju sebuah konklusi akhir.

Dan, ya, ini berarti Pertempuran Labirin juga terasa seperti Catching Fire-nya serial The Hunger Games: kedua sebelum terakhir. Menuju puncak.

Kedua, di buku ini kudapati perkembangan karakter yang sangat menarik. Dimulai dari Percy Jackson, yang menyadari bahwa pertempuran-pertempuran yang telah dia hadapi selama ini bukanlah masalah baik-buruk. Rick Riordan menggambarkan bagaimana Percy menyadari bahwa dunia tidak terdiri atas hitam-putih, melainkan kelabu. Dewa-Dewi memenangkan pertempuran melawan Titan di masa lampau, dan menyebarluaskan propaganda bahwa mereka adalah penguasa yang baik, peduli, sedangkan Titan adalah penjahat.

Tapi, benarkah demikian? Percy mendapati para Dewa-Dewi Olympus berbuat semena-mena. Menyiksa mereka yang kalah dalam perang, menginjak-injak manusia, menciptakan banyak blasteran – manusia setengah-Dewa – tanpa begitu memedulikan anak-anak mereka tersebut. Apakah Dewa-Dewi Olympus benar-benar baik? Kenapa Percy masih mau bertempur demi mereka?

Jawabannya ada di buku ini, dan disampaikan dengan luar biasa.

Ketiga, peningkatan skala aksi yang terdapat di buku ini sangat drastis. Serial Percy Jackson selalu terkenal karena aksi-aksinya yang memukau, ilustratif, dan seru. Adu pedang, adu cepat, dan adu hidup-mati melawan monster digambarkan dengan graphic di sini.

Simpelnya: di novel ini, Percy benar-benar jagoan. Kuat, jago, pintar, tapi masih tetap memiliki sifat-sifat heroik di dalam dirinya. Benar-benar pas dengan kategori seorang pahlawan dalam literatur-literatur klasik.

Sebenarnya ada satu lagi, yang keempat, meski menurutku – dan mungkin menurut sebagian besar pembaca lainnya – tidak begitu signifikan: kisah cinta yang romantis. Ringkas, padat, cuma diceritakan selama satu chapter, namun begitu tragis dan manis. Kalau boleh lebay, aku akan bilang ceritanya sangat mengharukan, dengan pengorbanan dan perjuangan. Cocok dengan tema heroik yang selama ini banyak sekali dicoba diterapkan oleh fiksi-fiksi heroik klasik, namun gagal untuk diwujudkan. Bahkan J.K. Rowling pun, menurutku, gagal saat mencoba menggambarkannya.

Calypso - by Julia108

Calypso – by Julia108

Di atas itu semua, Pertempuran Labirin adalah buku Percy Jackson yang paling rapi, runut, dan mengalir dalam penceritaannya. Totally recommended.